
Resepsi pernikahan Bram dan Cahaya malam ini bukan seperti resepsi kebanyakan , Lena dan Sartika membuat acara ini menjadi lebih terasa ' kekeluargaan ' karena mengusung tema makan malam . Ada beberapa meja bulat besar yang ada di aula , dan meja pengantin beserta keluarga ada tepat ditengahnya .
Tidak terlalu banyak tamu yang di undang karena sebagian tamu sudah datang saat akad kemarin . Hari ini makan malam dikhususkan untuk relasi relasi perusahaan mereka .
Cahaya tampak cantik dengan mengenakan gaun malam berwarna hijau emerald , gaun yang dirancang dan dijahit sendiri oleh ibunya yang merupakan pengusaha butik . Dan Bram mengenakan setelan formal warna hitam , pria muda itu terlihat gagah mendampingi istri cantiknya .
Hardian menepuk pelan pundak Bram ketika wajah putranya berubah merah padam saat melihat tamu yang baru saja memasuki aula tempat perjamuan diadakan . Gibran dan ibunya ternyata datang ke acara itu . Hardian mengundangnya karena perusahaan Gibran saat ini bekerjasama dengan perusahaannya . Dia sempat mengira jika Gibran tidak datang karena dalam undangan itu jelas tertera nama dan foto Bram dan Cahaya . Tapi nyatanya pria itu datang , dan itu artinya pria itu sudah benar benar rela melepas mantan istrinya .
" Biar Papa yang temui .... "
Bram hanya mengangguk , dia yakin papanya mampu mengatasi situasinya . Direngkuhnya tubuh istrinya seakan takut jika wanita itu tiba tiba pergi menjauh darinya .
" Bee ... jangan kenceng kenceng peluknya , malu masih banyak tamu ! " bisik Cahaya karena saat ini dua tangan Bram begitu posesif melingkar di pinggangnya . Mereka sedang berdiri berbincang dengan seorang pengusaha , untung saja Lena mendampingi dua pengantin hingga mampu mengalihkan perhatian orang orang itu dengan membahas beberapa bisnis mereka .
" Kau milikku .... " sahut Bram yang sepertinya tidak mendengarkan keluhan dari istrinya , dia masih saja memeluk istrinya posesif .
" Sayang ke atas yuk ... pengeeennn !! " bisik Bram yang sempat sempatnya menggigit lembut telinga istrinya . Dia tak ingin Cahaya bertemu dengan mantan suami ataupun mantan mertuanya yang jahat itu .
__ADS_1
" Cubit nih yaaaaa .... bandel banget !! " kesal Cahaya , tapi dirinya terpaku ketika mendengar sebuah suara yang sangat ia kenal ada di belakangnya .
" Selamat ya Nyonya Wijaya , saya dengar anda sudah menemukan putri anda . Dan sekarang Nona Cahaya sudah menikah .... "
Lena segera membalikkan badan dan tersenyum ketika melihat tamunya . Ternyata mantan besannya sudah ada di belakangnya . Jika Gibran mungkin sudah tahu jika ini pernikahan Cahaya yang tak lain adalah Gista . Karena di surat undangan terdapat nama dan foto dua pengantin . Tapi sepertinya wanita di depannya ini belum tahu jika mantan menantunya lah yang sebenarnya menikah hari ini .
" Terimakasih atas kedatangan anda Nyonya Sofia , hari ini putri saya menikah dan saya harap doa anda untuk kebahagiaan Cahaya . Sayang kemarilah ada tamu yang ingin bertemu dengan kalian ... " kata Lena memanggil dua pengantin yang ada di belakangnya .
Sofi terhenyak seperti tak percaya pada pandangan matanya . Dia sangat mengenal wanita cantik di depannya , seorang wanita yang tidak pernah ia setujui hubungannya dengan putranya . Yang telah berhasil ia paksa keluar dari rumahnya dengan drama drama picisannya .
" Gista ... tidak mungkin ! " gumam Sofi dalam hatinya . Dan dia juga tidak menyangka jika pria muda yang pernah ia lihat di toko perhiasan itu adalah sang pewaris tunggal Sadewo . Pantas saja pria muda itu dengan mudah mampu membayar perhiasan yang baginya bernilai fantastis . Dan manager toko waktu itu terlihat sangat menghormatinya .
" Selamat untuk kalian berdua , Gis ... maksud saya Nona Cahaya semoga pernikahan kalian langgeng dan samawa, "
" Aminnnn ... terimakasih Nyonya Sofi , maaf tapi sepertinya kami harus ke sana dulu . Ada tamu lain yang harus kami temui, " kaya Bram meraih tangan istrinya untuk segera pergi dari tempat itu , ia tidak mau menempatkan Cahaya dalam posisi yang canggung .
" Boleh saya bicara Nyonya Sofi ?? " ujar Lena membuyarkan lamunan Sofi yang masih terpaku melihat Cahaya yang melangkah pergi dengan suaminya .
__ADS_1
" Eh .. iya Nyonya Wijaya , tentu saja ! "
Setelah duduk di tempat yang tidak terlalu ramai Lena segera memulai pembicaraannya .
" Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih pada anda karena selama lima tahun sudah membimbing putri saya . Jangan terkejut Nyonya , saya tahu jika Cahaya sudah pernah menikah dengan putra anda ! Saya juga pernah bertemu dan berbicara pada putra anda .... "
" Jadi ??!! " wajah Sofi memucat , ia takut jika Gista menceritakan hal hal buruk yang di alami wanita itu selama menjadi menantunya . Bahkan Cahaya terusir dari rumah tanpa membawa sepeserpun harta putranya .
" Cahaya bercerita jika dia sudah menganggap anda sebagai ibunya sendiri . Saya bersyukur dia di kelilingi oleh orang orang baik sebelum saya berhasil menemukannya ... " kata Lena karena begitulah Cahaya menceritakan tentang keluarga mantan suaminya . Tak sekalipun putrinya menjelekkan mantan mertua ataupun iparnya walaupun ia sudah tahu cerita yang sebenarnya .
" S-saya ... saya menyayanginya seperti saya menyayangi putri saya sendiri ! " ujar Sofi dengan senyum yang dipaksakan . Jika saja dia tahu Gista adalah Cahaya maka dia tentu akan mempertahankan wanita itu di sisi putranya . Sofi yakin Wijaya punya sumber uang yang tak akan habis dimakan tujuh turunan sekalipun .
" Saya rasa hanya itu yang ingin saya bicarakan , saya harap setelah ini semua berjalan dengan baik . Dan saya harap putra anda bisa menyikapi semua ini dengan bijak . Saya tidak mau ke depannya ada masalah dalam keluarga kita hanya karena salah paham . Anda mengerti maksud saya ... "
" I -iya Nyonya ... saya sangat mengerti ! "
Setelah bicara Lena meninggalkan Sofi untuk kembali pada putrinya . Masih banyak klien yang harus ia kenalkan pada Cahaya yang sebentar lagi resmi menjabat CEO di perusahaan miliknya . Kata katanya memang sangat halus tapi ia yakin Sofi bisa mengerti konsekuensi jika dia ataupun Gibran berbuat sesuatu yang mengganggu ketenangan rumah tangga Bram dan Cahaya .
__ADS_1
Seorang ibu bisa menjadi selembut kapas jika ada didepan anaknya , tapi mampu berubah menjadi malaikat maut jika ada yang berusaha mengganggu kebahagiaan buah hatinya .