
BRAKKKKK ...
Sesuai dugaannya , adik perempuannya tidak berada di kamarnya . Gibran membalikkan badan menghadap ke arah ibunya , matanya seperti sedang meminta penjelasan atas kebohongan yang baru saja di ucapkan ibunya .
Dengan sigap Sofi segera masuk ke kamar Vina , seolah olah diapun kaget jika anak perempuannya tidak berada di kamar .
" Ya Tuhan anak itu ... padahal tadi pamit istirahat kenapa jadi tidak ada di kamarnya " gumam Sofi cukup keras agar Gibran mendengarnya .
" Dimana dia Bu ? lni sudah malam , " tanya Gibran masih mencoba mengendalikan dirinya . Terlalu banyak sandiwara yang ia ketahui belakangan ini .
Dan Gibran menyesal kenapa dia tahu saat sudah terlambat seperti ini , kenapa semua keburukan ibu dan adiknya dia ketahui setelah ia membuang istri tercintanya . Ketika Gista setia disisinya dia hanya bisa melihat kekurangannya . Tapi saat ia sudah benar benar kehilangan baru dia mengerti jika dia dan seluruh keluarganya pun jauh dari kata sempurna .
" O iya lbu lupa tadi dia keluar sebentar mengambil buku catatan di rumah temannya . Iya benar ... maaf lbu baru ingat ! " kilah Sofi masih menutupi kepergian Vina yang sedang berpesta di rumah salah satu temannya .
" Vina pergi dengan Pak Kris ?? "
" Dia bawa mobil sendiri , tadi katanya tidak enak jika malam malam merepotkan Pak Kris . Tenang saja sebentar lagi adikmu pasti juga pulang . Biar lbu yang menunggunya di depan , kau istirahatlah ! Bukankah besok pagi kau ke kantor !? "
" Gibran minta alamat teman Vina . Aku kakaknya Bu , dia masih menjadi tanggung jawabku ! Aku akan merasa berdosa jika sesuatu terjadi padanya .... "
" Tapi .. "
Gibran mendesah kasar, sepertinya percuma berbicara pada ibunya . Agar emosinya tidak meledak Gibran memilih melangkah pergi dari tempat itu , diambilnya ponsel dari sakunya untuk menelpon seseorang . Beruntung Gibran mengenal salah satu teman dari adiknya itu .
" Martin kamu dimana ?? Apa Vina ada bersama kalian !? "
__ADS_1
" Aku sedang ada di warung angkring depan kosan Kak , kemarin sih aku diundang ke pesta ulang tahun Sherly tapi males datang . Mungkin sekarang Vina di sana, " jawab seseorang dari seberang sana , dia adalah Martin sang ketua Mahasiswa kampusnya .
" Ya sudah aku jemput kamu sekarang dan antar Kakak ke rumah temanmu yang berulang tahun itu, " ujar Gibran berjalan cepat ke arah garasi untuk mengambil mobilnya . Dia memang mengenal Sherly sebagai teman Vina tapi ia tidak pernah tahu rumah gadis itu .
" Den Gibran mau saya antar ? lni sudah malam takutnya Aden sudah terlalu lelah menyetir sendiri " Pak Kris yang tadinya sedang main catur dengan satpam langsung berlari mendekati Gibran .
" Nggak usah Pak, biar saya bawa sendiri ! Mau cari angin sebentar ... " sahut Gibran tak ingin merepotkan pria parubaya itu .
Setelah menjemput Martin dia segera kembali melaju ke tempat adiknya sedang berpesta . Tak lama kemudian mereka sampai di kawasan perumahan mewah .
" ltu di depan Kak rumahnya yang ada kelap kelip lampu , sebentar ... " Martin menunjukkan surat undangan sebagai akses masuk karena di gerbang depan perumahan di jaga ketat oleh keamanan .
" Ayo Kak kita masuk , orang tua Sherly sedang ada di luar kota . Makanya tamu bebas keluar masuk , ngeri .... " ujar Martin sambil bergidik , itu sebabnya ia tak mau datang ke pesta yang dianggapnya gila ini .
Gibran dan Martin segera masuk ke dalam rumah . Suara musik sangat memekakkan telinga , bau minuman keras pun sangat menyengat hidung dan Gibran bisa melihat banyak sekali gadis muda berpakaian sangat minim . Pakaian yang menurutnya tidak pantas di kenakan oleh wanita baik baik .
" Tidak kelihatan juga Kak , aku coba cari di halaman belakang . Dan Kak Gibran coba cari ke kamar atas siapa tahu ... maaf maksud Martin ! "
" Tidak apa apa , ya sudah aku cari ke atas !! "
Gibran berlari ke lantai atas , pantas saja Martin tidak mau datang ke pesta ini karena menurutnya pesta ini memang sudah di luar batas . Bukan seperti pesta ulang tahun pada umumnya tapi tak lebih seperti klub malam yang dipindah ke dalam rumah . Gibran tak habis pikir bisa bisanya Vina datang ke tempat seperti ini .
BRAKKKKK ...
" Aaakkhhh .... "
__ADS_1
Sepasang muda mudi langsung membenahi pakaian mereka yang terbuka ketika Gibran membuka paksa salah satu pintu di kamar atas . Gibran bernafas lega , bukan Vina di kamar itu .
BRAAKKKKK ...
Pintu kedua di dobrak dari luar dan apa yang didepannya membuat hatinya mendidih . Dua gadis ada di depannya bersama seorang pemuda yang tampaknya warga negara asing. Dan yang menyakiti hatinya ia melihat Vina sedang berciuman panas dengan pemuda asing tadi .
" B*JINGGAANNNNN !!! Jangan sentuh adikku !! "
Gibran merangsek maju dan meraih kerah kemeja pemuda asing yang masih merengkuh pinggang adiknya .
BUGGHHHHHH ...
" Hey what's wrong with you man !!! Aku tidak kenal kamu .... " pekik pemuda bule dengan bahasa lndonesia yang masih terdengar kaku .
" Kak Gibran !!!! " pekik Vina dan Sherly bersama sama .
Gibran langsung menarik tangan Vina agar segera keluar dari tempat lucknut itu . Dia benar benar kecewa dengan adik yang ia sayangi dan asuh sejak kecil . Bisa bisanya Vina mengkhianati kepercayaannya .
Martin yang melihat Gibran menyeret tangan Vina merasa lega sekaligus khawatir . Dia tahu pengusaha muda itu sedang benar benar terbakar emosinya .
" Kak Gibran , sabar .... semua bisa di bicarakan ! " ujar Martin ketika mereka sampai di tempat parkir mobilnya . Dia berkata seperti itu karena melihat Vina kesakitan ketika Gibran mencengkeram erat tangannya .
" Aku masih waras , tenang saja ! Kau pulang naik taksi maaf sudah merepotkanmu Martin, " ujar Gibran sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada Martin .
" Terimakasih ... tidak usah Kak !! Tadi Martin bertemu teman di dalam . Dia yang akan mengantar Martin pulang "
__ADS_1
Gibran menginjak gasnya dalam dalam ingin segera sampai ke rumahnya , ia tetap diam ketika Vina berkali kali meminta maaf padanya . Entah, tapi yang ada di otaknya sekarang hanyalah Gista . Begitu banyak tekanan yang diterima wanita itu ketika masih menjadi istrinya . Tapi Gista bisa membuat semua seperti baik baik saja . Sepertinya Tuhan sedang membuka matanya , satu persatu kebusukan keluarganya di buka di depan matanya sendiri .