
Heru dan istrinya hanya bisa saling memandang ketika pagi ini melihat perubahan besar pada diri anak dan menantu mereka . Pagi ini Gisel terlihat melayani suaminya dengan baik , mulai dari sarapan sampai ketika Gibran pergi berangkat ke kantornya .
Mereka tahu jika putri mereka yang belum bisa menerima Gibran sebagai suaminya . Gisel menganggap pernikahan itu ada hanya untuk menjaga nama baik keluarganya , bukan untuk kebaikan dirinya sendiri kelak .
" Ayah ... Gisel mau bicara sebentar ! " kata Gisel setelah mengantar suaminya ke teras depan . Wanita itu duduk di sisi ayahnya yang terlihat sedang membaca berita pagi di ponselnya .
" Ayah mendengarmu Nak , ada yang ingin kau sampaikan pada ayah sehubungan dengan suamimu ?! " tanya Heru sekedar menebak isi pikiran putrinya .
Gisel menggeleng pelan ketika mendapat pertanyaan itu . Semalam setelah malam panas mereka secara tidak sengaja Gibran menceritakan adiknya yang memilih keluar dari rumah dan tinggal di rumah kos .
" lni tentang adik iparku , semalam.Mas Gibran kelepasan bicara . Katanya adiknya sedang bertengkar dengan ibunya dan memilih keluar dari rumah . Ayah tahu benar sifat Nyonya Sofi ... maksud Gisel jika di ijinkan Vina bisa tinggal di sini bersama kita . Ada banyak kamar disini , kasihan jika dia harus tinggal di kamar kos yang sempit dia pasti belum terbiasa dengan itu, " kata Gisel yang berpikir tak ada salahnya jika mereka menampung Vina untuk sementara sebelum gadis itu berbaikan kembali dengan ibunya . Sangat beresiko gadis cantik seperti Vina hidup sendirian di kamar kos .
" Ayah sangat mendukungmu , tali tidak akan semudah itu ! Jika kami mengijinkan pun adiknya belum tentu bersedia tinggal bersama kita , Gibran tahu yang terbaik untuk adiknya . Jadi jangan terlalu khawatir ! "
" Tapi bukannya Vina juga sudah menjadi tanggung jawab Gisel ?? " kilah Gisel masih bersikukuh dengan keinginannya .
" Adik suamimu berarti adikmu juga , tidak salah jika kau ingin melindungi Vina . Jika saja dia mau tinggal disini maka ayah dan lbu akan sangat senang sekali ! Tapi gadis itu pasti akan masih sangat canggung jika hidup bersama kita . Begini saja kapan kapan kau ajak suamimu untuk bicara pada adiknya . Ungkapkan keinginanmu untuk mengajaknya hidup di kediaman kita . Akan sangat bagus jika dia setuju , tapi jika tidak kau jangan memaksanya . ltu malah akan menambah beban pikirannya ... "
" Baik Yah , sore ini aku akan datang kesana . Aku coba bicara pada Vina ! "
__ADS_1
*
" Tuan Gibran ada tamu untuk anda , dia masih ada di lobby bawah, " kata seorang wanita pada Gibran yang masih ada di ruang kantornya berkutat dengan pekerjaannya .
" Apa aku ada janji dengan seseorang siang ini ?? " tanya pria itu karena seingatnya ia tidak ada janji meeting dengan klien hari ini .
" Anda memang free hari ini , ada mahasiswa bernama Martin ingin bertemu dengan anda . Dia bilang ini hal yang penting ! " lanjut sang sekretaris .
Dahi Gibran mengerut , jika sampai Martin datang ke kantornya maka mungkin ada hubungannya dengan adiknya . Dan pasti hal yang sangat penting .
" Bawa dia kesini sekarang ! "
Tak lama kemudian terdengar suara Martin menyapanya .
" Selamat siang Kak , maaf jika aku mengganggu waktumu !! "
Gibran berdiri dari meja kerjanya dan berjalan menghampiri pria yang jauh lebih muda darinya itu .
" Duduklah , kau ingin berbicara tentang Vina !? Atau ini menyangkut dengan tempat kos atau kuliahnya !? "
__ADS_1
Martin tampak menghela nafasnya dalam dalam , sulit untuk mulai mengatakan apa yang ada di pikirannya sekarang . Martin tahu apa yang akan dia katakan akan mengejutkan CEO Bagaskara itu .
" Semalam Vina minta aku menikahinya ... "
" Apa kau bilang !!??? "
" Vina minta aku membawanya untuk hidup bersamaku agar dia tidak perlu pulang ke rumahnya lagi . Memang sangat mengejutkan , jangankan Kakak ... akupun sempat kaget ketika mendengar perkataan dan permintaan adikmu, " ujar Martin yang melihat ada sedikit sorot kemarahan di mata Gibran . Dia maklum , mungkin Gibran berpikir dialah yang sebenarnya meminta Vina cepat menikahinya karena Gibran tahu dia sangat tergila gila pada Vina .
" Kau menyanggupinya !? "
" Tujuanku memang akan menikahinya kelak , tapi jika kau ijinkan maka kami bisa menikah secepatnya . Kurasa usia kami sudah sangat layak untuk melakukan pernikahan, " jawab Martin agar Gibran yakin padanya .
" Kalian masih muda ... masih terlalu muda untuk menikah . Kau pikir mempunyai istri itu mudah ?? Banyak tanggung jawab yang nantinya akan kau tanggung . Kau tahu adikku sangat di manjakan sejak ia kecil , ada banyak sifat kekanakan yang masih melekat pada dirinya . Keras kepala , tidak mau mengalah ... dan dia tidak pernah kekurangan . Maksudku ... "
" Aku tahu mungkin secara finansial aku belum terlalu mapan . Tapi sekuat tenaga aku akan membahagiakannya !! Jika dia punya kekurangan maka begitu juga aku . Kami akan belajar untuk lebih dewasa seiring waktu ! "
Gibran menghela nafasnya , tidak mudah untuk melepaskan begitu saja adik satu satunya yang ia aduh sejak kecil pada orang lain . Walau ia tahu Martin adalah pemuda yang sangat bertanggung jawab .
" Nanti aku akan berbicara dengannya tentang ini , aku takut keputusannya ini hanya keinginan sesaat saja karena takut jika ibuku datang menjemputnya . Rumah kami menyimpan banyak kisah buruk untuknya , wajar jika Vina menjadi ketakutan berlebihan seperti itu ! "
__ADS_1
" Baik , tapi aku serius dengan kata kataku ! Aku siap menikahinya ... aku siap bertanggung jawab padanya ! " kata Martin mantap .