Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
44


__ADS_3

" Braammm !! Mau kemana lagi Nak !? " tanya Sartika yang melihat Bram sore ini kembali menenteng helmnya . Sejak pulang kantor wajah putranya terlihat berseri walaupun sempat mengeluh lelah karena mulai kemarin Bram mengambil kuliah onlinenya . Jika pagi ia terjun belajar mengurus perusahaan danketika malam harinya maka dia disibukkan dengan tugas kuliahnya .


" Nyari tambahan sebentar Mah !! " sahut Bram enteng , malam ini ia akan menagih janji hutang pada penumpang istimewanya .


" Tambahan ?? Apa itu artinya kau tidak punya uang ?! Kenapa tidak bilang sama Mamah ! Sudah jangan pergi , berapa yang kau butuhkan !? " Sartika segera mengambil ponselnya untuk mengetik angka yang di inginkan putranya . Dia lupa jika Bram pasti membutuhkan uang saku untuk menjalani kesehariannya . Sebagai pegawai baru pasti Bram belum mendapat gajinya karena baru beberapa hati bekerja . Lagipula putranya sudah lama putranya tidak berada di rumah .


" Bukan uang Mah ! Cuma nyari tambahan semangat . O iya nanti jangan nunggu Bram buat makan malam karena mungkin Bram makan di luar. "


Setelah salam takzim pada mamanya Bram segera mengambil motor dan melesat ke arah tujuannya . Jika dugaannya salah tentang Gibran yang ternyata adalah mantan suami Gista maka dugaannya tentang sugar Daddy yang antar jemput wanita itu kemungkinan besar juga salah .


Bram tak peduli dengan jarak umur mereka yang cukup jauh . Dari awal dia sudah melihat wanita itu sangat istimewa , kesabaran dan ketenangan Gista dalam menghadapi sesuatu sama persis dengan mamanya .


Rumah Gista terlihat masih sangat sepi ketika ia sampai disana , mungkin ia yang terlalu sore datang saking semangatnya . Bram merebahkan tubuhnya di kursi kayu panjang yang ada di teras rumah itu karena sebenarnya ia pun merasa lelah dengan pekerjaannya hari ini . Seharian tadi Pak Dika mengajaknya mengecek dua kantor cabang sekaligus untuk melihat dan mendengar laporan bulanan dari divisi pemasaran .


Tak dia pedulikan tatapan tatapan aneh para tetangga yang melihatnya penuh selidik . Semakin lama matanya semakin berat dan tanpa terasa pemuda tampan itu malah terlelap di teras rumah .


Sampai sang penghuni rumah datang dan terkejut dengan keberadaannya . Gista sampai harus menyalakan senter ponselnya untuk memastikan siapa yang tidur di teras rumahnya walau ia bisa menerka dengan hanya melihat motor yang terparkir di depan rumahnya .

__ADS_1


" Lho Mbak Gista baru pulang ya ?? Enak bener ya capek capek sudah ada yang nungguin , cakep lagi !! Kirain menghilang karena diculik ehhhh ...taunya nongol disini "


Gista langsung menoleh ke arah suara , tetangga belakang rumahnya yang bernama Neni yang ternyata menyapanya . Janda beranak satu itu memang dikenal sangat menyukai Bram , bahkan tak pernah sungkan menunjukkan rasa sukanya walau di depan umum .


" Eh iya Mba Neni ! Sepertinya saya yang salah ketik tadi . Saya pesen ojek buat nanti nganter ke rumah saudara , malah ojeknya sudah nunggu disini ! " jawab Gista merutuki Bram yang dengan santainya malah tidur di depan rumahnya . Pria muda itu benar benar menepati kata katanya untuk menagih hutang semalam .


Bram.yang terbangun karena mendengar suara dua wanita langsung tersenyum penuh arti , sepertinya jalannya memang sedang di mudahkan .


" Ckk jangan banyak bicara dulu , cepatlah sedikit !! Setelah ini kita segera berangkat sebelum kemalaman ... " kata Bram sambil perlahan bangun dan menyandarkan punggungnya di kursi panjang .


" Berangkat ? Kemana !? " tanya Gista heran karena setahunya ia hanya akan memberikan secangkir kopi dan sepiring cemilan sesuai perjanjian . Bukan pergi mentraktir makan di luar seperti yang Bram maksud .


" Dasar pikun ! Bukannya kau tadi yang bilang jika mengirim pesan padaku untuk mengantarmu ke tempat saudara hahh !? Udahh cepetan siap siap , masih banyak pelanggan yang harus aku antar nanti! "


" Tapi kan ... "


" Bayar seratus limapuluh ribu ditambah kompensasi menunggumu setengah jam , total semuanya jadi dua ratus ribu, " kata Bram yang tersenyum menang melihat kepanikan wanita di depannya .

__ADS_1


" Jangan begitu Mbak Gista , masa Mas Bram usah capek capek nungguin malah dibatalkan pesanannya . Atau kalau enggak begini saja , saya saja yang pakai Mas Bram buat anterin ke minimarket daripada di sini juga nggak dapat apa apa . Kalau mau bantu saya traktir mie ayam sekalian di perempatan depan terminal " ujar Neni senang akhirnya mendapat kesempatan untuk berduaan dengan pria pujaan hatinya .


" Ok tapi bilang sama dia bayar dua ratus ribunya dulu . Jika tidak aku akan semalaman tidur di depan rumahnya .... "


" Ckk jangan aneh aneh Bram ! Bisa bisa kita digerebeg warga karena disangka pasangan kumpul kebo ! "


" lde bagus !! " sahut Bram .


Gista memukul Bram dengan sling bagnya hingga pria itu meringis kesakitan .


" Ehhmm maaf Mbak Neni soalnya saya mau pakai Bram nanti . Apa panggil temen kamu di pangkalan saja Bram siapa tahu Mbak Neni benar benar butuh tumpangan ! " ujar Gista merasa tidak enak dengan tetangga belakangnya .


" Nggak usah terimakasih !! " sahut Neni dengan bibir mengerucut dan tanpa permisi segera pergi dari rumah Gista .


" Kau lihat ?? Kau sudah menghancurkan hubungan antar tetangga !! Akan aku laporkan kau nanti pada Ketua rukun tetangga ... " gerutu Gista yang kemudian masuk untuk membersihkan diri .


Bram hanya terbahak mendengarnya , ternyata semenyenangkan ini berbicara dengan wanita yang dulu sempat dibencinya . Salah ... bukan dibenci ! Tapi sangat mengganggu pikirannya .

__ADS_1


__ADS_2