
Flashback satu jam yang lalu
Pulang kantor Gibran tidak langsung pulang , seperti biasanya ia selalu menyempatkan diri ke kafe ataupun restoran untuk sekedar minum kopi . Baginya rumah tidak sedamai dan semenyenangkan dulu lagi , hampir tiap hari ibunya mengeluh tentang uang . ltu membuat dirinya merasa menjadi mesin uang yang hanya dibutuhkan untuk menyenangkan ibunya . Tidak ada cinta lagi di rumahnya .
Sampai di lampu merah ia berniat memasang musik agar tidak terlalu sepi , tapi matanya memicing ketika dari kejauhan ia melihat seseorang yang memang sedang ia cari . Pria itu sedang berdiri tepat di sisi sebuah mobil sport warna hitam .
Hanya segelintir orang yang bisa membeli mobil sport seperti itu , sepertinya orang orangnya memang benar jika ternyata pemuda itu bukanlah orang sembarangan . Baru kali ini dia merasa beruntung dengan kemacetan ibukota , terjebak di ramainya lalu lintas membuatnya bisa leluasa melihat dan kemudian mengikuti mobil pemuda bernama Bram itu .
Sayang tak berapa lama ia harus kehilangan jejak karena mobil itu berjalan terlalu cepat dan gesit . Modelnya yang ramping membuat mobil itu lebih mudah untuk bergerak di keramaian jalan .
Mobil Ferrari warna hitam itu sangat menonjol dan jarang yang memakainya jadi Gibran menelpon orang orangnya agar menyisir wilayah dimana sekarang ini dia berada . Dan benar saja sekitar sepuluh menit kemudian dia mendapat laporan jika ada mobil terparkir di area parkir gedung perkantoran Wijaya .
Gibran segera melesatkan mobilnya kesana , setelah berjuang untuk mendapat tempat parkir di area sibuk itu ia kemudian memilih berjalan kali untuk melihat apa yang sedang dilakukan Bram di area perusahaan Wijaya .
Jantungnya seketika berdegup keras menahan amarah ketika melihat mantan istrinya berjalan dan masuk ke mobil sport itu . Sepertinya pemuda bernama Bram itu sedang menjemput istrinya yang mungkin bekerja di daerah perkantoran ini .
BRRAAAKKK ... BRRAAKKKK
Dipukulnya dengan keras kap mobil depan mobil berwarna hitam itu .
" Keluar b*ngsat !! " teriaknya agar Bram segera keluar dari mobil .
Sedang Bram dan Gista cukup terkejut dengan suara keras kap mobil depan yang di gebrak keras oleh Gibran .
__ADS_1
" Mas Gibran .... " lirih Gista yang melihat mantan suaminya sedang berdiri di depan mobil dengan raut penuh amarah .
" Jangan sebut nama pria lain di depanku !! " geram Bram , dengan mengepalkan dua tangan Bram segera keluar untuk menghadapi mantan suami yang dia rasa sudah tidak punya hak atas wanita yang ia klaim sebagai miliknya itu .
" Bram jangan keluar , biarkan saja !!! " pekik Gista khawatir jika dua pria itu akan berkelahi di area yang masih ramai orang ini . Perkelahian mereka pasti akan menjadi viral jika ada yang sengaja merekam dan mengunggahnya di medsos . Gibran adalah pengusaha , dan Bram pun ia yakin juga bukan pria biasa . Sangat beresiko jika mereka benar benar menuruti emosi mereka . Gista segera turun dari mobil ketika melihat dua pria itu sudah saling berdiri berhadapan dan bersiap saling memukul .
" Berhenti !! Jika kalian berkelahi disini maka aku bersumpah tidak akan mau melihat atau bertemu kalian lagi !! "
" Kau masih milikku sayang !! Dia tak punya hak untuk mendekatimu . Bisakah aku tarik kata kataku dan kita kembali seperti dulu lagi ?? Aku mencintaimu , kau tahu jika aku sangat mencintaimu .... "
Gista masih berdiri di samping pintu mobil agar mudah bersandar ketika tubuhnya limbung .
" Kau pikir aku ini apa Mas ?! Aku bukan barang yang bisa kau buang dan kau ambil semaumu . Apa kau pikir hanya kau yang tersakiti !? Mas Gibran , bisakah kau sekali saja tidak berpikir egois ?? Kau yang sudah mengambil keputusan , dan jadilah laki laki sejati dengan menerima konsekwensi dari keputusanmu sendiri . Aku tahu batasanku Mas !! Aku dan Bram hanya berteman ... "
" Tidak !! Kau milikku !! " sahut Bram yang membuat Gista ingin melepas sepatunya dan melemparkannya pada pria muda itu . Sekuat tenaga ia tidak emosi menghadapi dua pria menyebalkan di depannya tapi dengan mudahnya malah Bram menyulut kembali api agar lebih berkobar .
Bukannya memulai perkelahian Gibran malah melangkah mendekati mantan istrinya , hingga Gista panik dan mundur beberapa langkah .
" Sayang , ayo kita pulang ... kita kembali hidup bersama di rumah. " Entah gila atau apa tapi Gibran ingin semua kembali seperti semula . Dia ingin senyum Gista kembali menghiasi hidupnya .
" Jangan mendekat .... " lirih Gista ketakutan dengan dua mata tertutup dan kedua tangan di depan seakan menolak kehadiran Gibran .
BUGGHHHH ...
__ADS_1
" Jangan berani sentuh dia br*ngsek !! "
Gista mendengar suara Bram dan suara tubuh terpelanting di tanah , ternyata Bram menarik tubuh Gibran dan memukulnya telak . Pria muda itu tidak akan pernah membiarkan pria manapun menyentuh ' miliknya ' termasuk mantan suami wanitanya sekalipun .
Gibran berdiri dan ingin merangsek maju ingin membalas pukulan yang diterimanya , tapi niatnya urung ketika beberapa orang datang dan menyeretnya pergi menjauh dari area parkir itu .
" Jangan kau pikir ini selesai !! Aku akan membunuhmu jika kita bertemu nanti !!! " teriak Gibran yang terus meronta .
" Aku menunggu kesempatan itu !! " sahut Bram tak kalah keras .
" Maaf Tuan Gibran ... jangan membuat kekacauan di wilayah kami , kami melakukan ini demi kebaikan anda sendiri " ujar salah satu orang bertubuh besar itu sopan walau satu tangannya masih memaksa Gibran untuk melangkah menjauh .
Sementara itu Pak Alif terlihat melangkah mendekati nona mudanya , dia segera turun setelah mendapat laporan jika Gista terlibat pertengkaran di antara dua pria .
" Anda tidak apa apa Nona ?? "
Gista menarik keras baju Bram yang merangsek maju ke arah pria parubaya di depannya . Wanita itu tahu jika Bram masih mengira jika Pak Alif adalah salah satu pria pemujanya .
" Bukan urusanmu pria tua !!! Sekarang dengarkan ini ... dia milikku !! Sekali lagi aku lihat kau mendekatinya lagi maka aku pastikan kau berakhir di liang lahat !! "
" Lhohh ehhh ... " Gista terkejut ketika Bram membuka pintu mobil dan memaksanya masuk ke dalam .
" Kita pergi dari sini ! "
__ADS_1
Pak Alif mengangkat tangannya ketika beberapa pria ingin menghadang mobil sport yang mulai beranjak itu , seakan berkata untuk membiarkan mereka pergi . Dia tahu pria muda itu bisa menjaga nona mudanya dengan baik . Dan mungkin dengan ini penyatuan dua keluarga dan dua perusahaan besar akan berjalan lebih cepat .
" Jaga nona kami baik baik Tuan Sadewo .... " gumam Pak Alif yang kemudian kembali masuk ke gedung Wijaya .