
Bram mengernyitkan dahinya ketika melihat dua wanita yang ada di ruang tamu bersama ibu dan istrinya . Dia masih ingat jika dua wanita itu adalah ibu dan adik dari pria brengsek yang terus saja berusaha mengganggu hidupnya .
Cahaya yang melihat suaminya baru datang langsung berjalan menyambutnya dengan sebelumnya meminta ijin untuk naik ke atas untuk menemani suaminya . Dia melakukan itu agar amarah Bram tidak meledak di depan Sofi saat ini juga .
" Oooo itu toh menantu Jeng Lena ! Sepertinya masih muda sekali ya , yakin Jeng muda banget kayak gitu bisa cocok buat Cahaya ???! " tanya Sofi sinis setelah dua pengantin baru itu sudah naik ke atas .
" Namanya Bramantyo Yudho Sadewo , dia lebih muda lima tahun dari Cahaya . Tapi saya rasa umur bukankah tolak ukur kedewasaan seseorang . Bram ataupun putri saya Cahaya masing masing punya banyak kekurangan , tapi mereka bisa saling melengkapi . Bukankah itu hakekat sebuah pernikahan ?! Menyatukan dua perbedaan baik itu yang buruk atau baiknya . Kita sebagai orang tua hanya bertugas mendoakan yang terbaik untuk anak anak kita , bukan begitu Nyonya Sofi !? "
" Tentu saja Jeng ... tiap hari saya berdoa agar Gibran kembali mendapat wanita yang di cintainya ! Saya hanya berharap melihat senyumnya lagi .... dia sangat terpuruk ketika kehilangan Cahaya, " hati Sofi bersorak senang ketika dia berhasil mengeluarkan satu tetes air mata yang bisa mendukung drama picisannya .
" Bu , sebaiknya kita pulang ! lni sudah malam biarkan lbu Lena untuk beristirahat .... " Vina merasa sangat tidak enak karena ibunya membicarakan tentang kakaknya . Hal yang seharusnya tidak ia bicarakan karena mungkin bisa menyinggung perasaan Lena Wijaya ataupun putrinya . Lena terlihat mengangguk padanya seolah mengatakan jika Nyonya besar Wijaya itu tidak mempermasalahkan kata kata ibunya .
__ADS_1
" Putra anda pasti akan mendapat yang terbaik nantinya !! Seperti juga Cahaya yang sudah mendapatkan cinta sejatinya . Kita sama sama seorang ibu Nyonya , yang artinya akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anak anak kita . Seorang ibu bisa menjadi malaikat bagi orang orang baik untuk anaknya , tapi akan mampu menjadi malaikat maut bagi orang orang yang ingin mengganggu kehidupan anak mereka. "
" Ehhh ... iya Jeng , saya rasa seperti itu, " lirih Sofi kikuk karena kata kata itu seperti mengarah padanya .
" Saya bersumpah akan menghancurkan siapapun yang punya niat untuk menghancurkan kebahagiaan Cahaya saat ini !! Dua puluh lima tahun anak saya menderita tanpa sepengetahuan saya , dan kini saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi ... tidak akan !! " kata Lena dengan tatapan tajam mengarah pada Sofi hingga mantan besannya itu langsung salah tingkah karena hatinya yang menciut .
" Iya Jeng saya juga ingin melihat kebahagiaan Cahaya . Ehhmmm .... kalau begitu saya permisi dulu Jeng ! Sudah terlalu malam kasihan Bina karena besok pagi pagi sekali dia harus ke kampusnya . Permisi Jeng Lena ! Oiya rantang rantang saya sepertinya masih di belakang .... " tanpa aba aba wanita parubaya itu langsung berjalan ke belakang menuju dapur untuk mengambil rantang wadah makanan yang ia bawa tadi .
Lena mendekat dan memeluk gadis yang sedang menahan tangisnya itu .
" Semua sudah di atur oleh Sang Pencipta , jika saja kalian tidak menyakiti putri ibu maka mungkin selamanya aku tidak akan pernah menemukannya . Semua hal yang terjadi pasti ada hikmah di baliknya ! lbu sudah ikhlas dengan masa lalu Cahaya , tapi lbu akan terus mengawal masa depannya . Kau pasti mengerti maksud lbu ... "
__ADS_1
" Saya mengerti .... "
Dan pembicaraan mereka terhenti ketika terlihat Sofi sudah datang dengan sudah membawa rantang rantangnya . Setelah berpamitan kedua wanita itu segera keluar menuju mobil mereka .
Di dalam mobil yang sudah mulai melaju Vina bertanya pada ibunya .
" Perasaan Vina tadi sudah mengeluarkan semua masakan di rantang untuk makan malam tadi . Kenapa rantang tadi rasanya masih berat saja Bu !? "
" Tadi lbu masukkan masakan dapur Wijaya yang tadi tidak termakan oleh kita . Kepala kokinya baik banget , semua dia yang bungkuskan tadi ! Lumayan bisa di angetin buat sarapan besok pagi, " kata Sofi dengan santainya , pantas saja hanya untuk mengambil rantang saja tadi butuh waktu yang lumayan lama .
" Ya Allah Bu .... malu maluin !! " gerutu Vina sebal .
__ADS_1