
Satu bulan berlalu dan proses perceraian Cahaya sudah bisa terselesaikan tanpa hambatan yang berarti dan sembilan puluh hari sudah Cahaya melewati masa Iddahnya . Tapi walau begitu Cahaya tetap tidak mau gegabah mengambil keputusan tentang perjodohan yang pernah ia terima . Apalagi ia tahu betul sifat dan watak Bram yang sangat temperamen . Cahaya hanya tidak mau gagal untuk kedua kalinya dalam membina hubungan pernikahan .
Seperti pagi ini ketika mobil Bram sudah berada di halaman depan ketika dia dan ibunya akan berangkat kerja , pria muda itu terlihat sudah berbaring di kap depan mobilnya dengan dua kaki yang menekuk .
Lena mengisyaratkan agar Cahaya mendekati Bram sementara dia lebih dulu berangkat ke perusahaan karena ada meeting yang belum bisa diwakilkan oleh putrinya .
Cahaya menghela nafasnya , pria muda itu ternyata benar benar sedang tertidur . Dia mengira mungkin saja Bram begadang dengan teman teman pangkalan ojeknya semalam .
" Braammm ... bangun !! "
Perlahan pria itu membuka matanya dan memandang ke arah wanita yang sudah membangunkannya .
" Jika masih mengantuk kenapa kau paksakan diri untuk menjemputku ?? Pulang dan lanjutkan tidurmu di rumah , biar supir yang membawa mobilnya karena aku tak yakin nyawamu sudah terkumpul ! "
" Semalaman aku tak bisa tidur karena menantikan hari ini . Karena hari ini ibu tak bisa lagi melarangku untuk datang menjemput atau mengantar kerja dengan alasan statusmu ! Hari ini aku benar benar akan menjadi calon suamimu , kita akan menikah secepatnya .... dan jangan bilang aku hanya main main !! Aku sangat serius tentang rencana pernikahan kita !! " kata Bram sangat bersemangat walau muka bantalnya masih terlihat .
__ADS_1
" Kau rela mati untukku ?? "
" Jika aku mati siapa yang akan menjagamu ?? Aku yang baru saja bangun tidur jadi jangan mengigau di depanku dengan memberikan pertanyaan pertanyaan yang aneh . Nanti malam bersiaplah !! Aku akan datang melamarmu ! Sekarang kita harus segera berangkat ke kantor karena ini sudah siang ! " ujar Bram .
Cahaya hanya bisa menggerutu dalam hati , tapi jauh di lubuk hatinya ia sedikit tersentuh dengan tekad pria muda disampingnya . Selama satu bulan ini Bram menuruti kata kata Lena yang sementara melarangnya untuk datang menemuinya .
Tak berapa lama mereka sampai di area parkir gedung Wijaya , seperti layaknya kekasih Bram membuka pintu dan mengantarkan Cahaya hingga sampai ke lobi . Tapi sebelum masuk area gedung seorang pria tampak menghadang jalan mereka .
" Brengsek !! Mau apa lagi kau !!!?? " geram Bram ketika melihat Gibran berdiri di depan wanita yang ia cintai .
Jawaban dari Gibran sukses membuat Bram murka , sedang Cahaya langsung berdiri tepat di depan Bram agar pria muda itu tidak leluasa untuk bergerak maju .
" Aku tidak keberatan jika menjalin silaturahmi yang baik denganmu Mas , tapi aku harap kau bisa merubah panggilanku padaku ! Dan aku harap kau juga bisa lebih menjaga sikap karena sekarang kita tidak punya hubungan apa apa, "
" Apa sekarang kau sudah menjalin hubungan dengannya ?? Begitu cepatnya kau bisa mencintai pria lain padahal kita baru saja berpisah .... " sinis Gibran yang kemudian menatap ke arah Bram .
__ADS_1
" Apapun hubungan kami itu bukan menjadi urusanmu Mas !! Selama dia baik padaku maka aku juga akan baik padanya . Dan jika suatu saat kami berjodoh maka mungkin itu jalan terbaik yang di berikan Allah padaku, " sahut Cahaya , berharap Gibran segera pergi sebelum pria yang berdiri di belakangnya benar benar hilang kewarasannya .
" Baik , tapi jika dia tidak bisa membahagiakanmu maka kembalilah padaku . Selamanya aku hanya akan mencintaimu !! "
" Bangsat !!!! "
" BRAAMMM !!! Jangan ladeni dia ... " pekik Cahaya yang membuat dua orang keamanan datang mendekat padanya . Tapi Bram telanjur merangsek maju dan dua pukulan berhasil ia datangkan di rahang mantan suami wanitanya .
BUGGHHHHH .... BUUGGHHHHH
Gibran terpelanting ke lantai karena belum siap mendapatkan pukulan . Melihat itu Cahaya langsung menatap tajam Bram yang tidak mendengar kata katanya tadi untuk tidak meladeni kegilaan Gibran .
" Selalu saja seperti itu , kau tidak akan pernah mau mendengarkan orang lain !!! " Setelah berkata seperti itu Cahaya segera pergi menuju kantornya yang ada di lantai teratas . Tanpa peduli pada Bram yang terpaku melihat kepergiannya ....
Sedang dua keamanan terlihat kesulitan untuk menyeret Gibran yang sangat bernafsu untuk membalas pukulan dari Bram .
__ADS_1