
Siang itu Cahaya benar benar membiarkan suaminya berkuasa penuh atas dirinya . Walau sebenarnya sedikit lelah tapi ia tetap memberikan yang terbaik . Karena setelah ini dia ingin minta penjelasan tentang sebab kenapa suaminya meninggalkan dia sendirian pagi tadi saat bermalam di hotel .
Cahaya tidak suka dengan sikap Bram seperti itu , itu membuatnya merasa di abaikan . Tapi pengalaman membuatnya tidak lagi mengedepankan emosinya . Apalagi dia sangat sadar jika suaminya mempunyai watak yang temperamen .
Cahaya meletakkan kepalanya di atas dada suaminya , sama sama mengatur nafas setelah tiga jam bergerak liar di atas ranjang mereka . Satu telunjuk jarinya menggambar abstrak diatas dada yang masih berkeringat itu .
" Kau sedang menggodaku lagi sayang ?? " tanya Bram yang benar benar merasa di takhlukkan walaupun dia sadar Cahaya membiarkannya berkuasa penuh atas tubuh sintal dalam dekapannya .
" Kapan pun kau mau Bee ... Tapi nanti setelah mandi , udah gerah banget soalnya !! " sahut Cahaya sambil mencium dagu suaminya .
" Sayang aku mau minta maaf ... "
" Maaf tentang apa !? " tanya Cahaya masih pura pura tidak tahu kemana arah pembicaraan suaminya .
" Tadi pagi aku meninggalkanmu di kamar hotel tanpa berpamitan terlebih dahulu . Kau pasti kaget ketika aku tidak ada di sisimu lagi saat itu ! "
__ADS_1
Cahaya hanya menanggapinya dengan senyuman , dikecupnya lagi dagu sang suami hingga terdengar geraman lirih di telinganya .
" Sebenarnya aku tidak apa apa Bee , dari kecil aku sudah terbiasa dengan kesendirian . Mengeluh hanya membuat satu hal menjadi lebih berat . Tapi lain kali jika kau memang tidak sempat berpamitan setidaknya kau mengirim pesan padaku . Kau tidak sendiri sekarang Bee ... kau punya aku ! Apa berlebihan jika aku minta kau berbagi semuanya denganku ?? Apa kau keberatan jika aku bahkan menjadi bayangan di setiap langkahmu !? "
" Tidak ... tentu saja tidak , kau adalah nyawaku . Aku tidak bisa hidup tanpamu ! Maaf ... aku sudah membuatmu kecewa . Aku tidak akan mengulanginya lagi , aku janji ! " kata Bram mempererat rengkuhannya . Cahaya bisa menegurnya tanpa sama sekali menyinggung perasaannya , tanpa membuat rasa bersalahnya bertambah besar .
" Malam itu setelah kita bertemu di koridor yang ada di depan toilet sikapmu berubah . Apa aku sudah membuat kesalahan !? Tegur aku jika memang aku punya kesalahan. "
" Kau ingat waktu aku meminta waktu keluar untuk sekedar menghirup udara segar !? Gibran meminta bertemu denganku , dia ingin membicarakan sesuatu denganku. "
Bram mengangguk membenarkan , hatinya selalu terbakar emosi setelah berbicara dengan pria itu .
" Jadi kau tidak bertemu siapa pun di toilet itu !? "
" Toilet ?? Ada beberapa wanita di sana , apa maksudmu salah satu temanmu ada di toilet bersamaku waktu itu !? "
__ADS_1
" Ya , maksudku aku seperti melihat salah satu teman sekolah masuk ke sana .... " ucap Bram sekenanya . Jika ia berkata tentang Gibran ia takut malah istrinya mengira jika ia asal menuduh .
" Ckk kau buat aku cemburu Bee .... dengar ini Tuan Bramantyo Yudho Sadewo !! Jangan lagi berani mencari wanita lain dengan atau tanpa sepengetahuanku ... atau aku akan mengikatmu disini agar kau tidak bisa pergi dan melihat wanita lain !! "
Bram malah terbahak mendengar kata kata posesif istrinya , terdengar kejam tapi ia suka mendengarnya .
" lkat aku , buat aku tidak bisa pergi dari sisimu .... " tantang Bram .
Cahaya bangkit dan meraih laci nakas yang ada di sisi ranjangnya . Wanita itu mengambil salah satu syal panjang koleksinya .
" Kau yang minta Bee ! Aku tidak akan berhenti walaupun kau memohonnya .... " kata Cahaya dengan mengerlingkan satu matanya ke arah suaminya yang terlihat sedang tertawa sekaligus menggeram ketika ia mengikat kedua tangan kekar itu di kepala ranjang .
" Kau mau apa sayang .... " tanya Bram mengernyitkan matanya ketika Cahaya mengikat asal rambutmya dan melorot hingga duduk di atas kakinya .
" Hanya ingin ingin membuatmu kalah kali ini Bee .... " lirih Cahaya dengan wajah mulai menunduk ke arah tongkat yang mulai kembali tegak itu .
__ADS_1
" Aarrgghhhhh.... sayaaannngg !!! " pekik Bram ketika bibir kemerahan itu memanjakan miliknya , sungguh sensasi yang baru pertama ia rasakan . Dia sungguh tak berdaya karena dengan dua tangan terikat dia tak bisa berbuat apapun untuk membalas istri nakalnya .