Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
6


__ADS_3

Keesokan harinya Gista benar benar menepati janjinya untuk keluar dari rumah yang sudah ia tempati selama ini


" Nyonya biar saya yang bawa , mau saya antar atau menyetir sendiri !? " tanya Pak Kris yang merupakan supir pribadi di rumah itu . Seperti juga lnem , laki laki parubaya itu juga sangat menghormati Gista .


" Terima kasih Pak tidak usah , nanti Pak Jarwo suaminya Mbak lnem yang jemput pakai angkot . "


" Lhohh kok angkot !? Kemarin Tuan berpesan untuk menyerahkan kunci mobil pada Nyonya , katanya mobil yang hitam sudah di berikan pada Nyonya "


Pria tua yang sudah lama bekerja di keluarga Gibran itu terlihat kebingungan , takut sudah berbuat kesalahan jika Gista tidak mau menerima kunci yang sudah diamanatkan untuk diserahkan untuknya .


" Saya sudah kirim pesan pada Mas .. maksud saya Tuan Gibran Pak ! Jadi Bapak tenang saja . Gunakan mobil itu untuk keperluan ibu saja , nanti sore mereka akan pulang . Mbak lnem ... Pak Kris jika bapak pulang saya sudah siapkan semua keperluannya di koper yang saya taruh di ruang tamu . Jam enam sore ini dia berangkat ke Jogja. "


Inem dan Pak Kris hanya bisa menghela nafasnya , begitu baik Nyonya mereka tapi tuannya tidak bisa melihat kebaikan itu . Sampai jadwal kerja Gibran pun masih diingatnya , padahal mereka berdua sudah berpisah .


" Baik Nyonya ... "


Tak lama kemudian sebuah angkot berhenti di depan gerbang rumah mewah itu . Seorang pria berkumis berbadan tambun dengan wajah sedikit sangat keluar sambil mengetikkan sesuatu di ponsel jadul yang di bawanya .


" Nyonya , Mas Jarwo sudah datang ! Dia sudah nunggu di depan gerbang . Pak Kris bantuin bawa koper yang itu ya .... saya mau bawa tas Nyonya yang ini "

__ADS_1


Gista segera keluar dengan membawa sebuah tas yang berisi dokumen dokumen pribadinya .


" Ya Nem , moga moga saja nyonya Gista tidak pingsan melihat suami kamu itu " ucap Pak Kris dengan raut khawatir .


" Lha memang suamiku kenapa to Pak ??! Wong ngganteng gitu kok , baik lagi ! " gerutu Inem , tampang suaminya menurut sebagian besar orang adalah sangar .


Bekas luka jahitan yang memanjang di dahi dan luka parut di pipi bagian atasnya di tambah badan yang di penuhi tatto membuat tampang Jarwo seperti seorang preman ! Padahal menurut lnem suaminya adalah pria paling penyayang dan baik hati .


Sesuai yang dikatakan oleh Pak Kris , nyonya mereka tampak berdiri di balik gerbang dengan wajah sedikit pucat . Satpam rumah pun juga sudah menghampiri pria yang duduk di kap depan angkot itu .


" Lhohh Nyonya kok nggak keluar ?? Mas Jarwo belum datang !? "


" Belum Mbak ?? Malah ada preman di depan gerbang , takutnya mau ngerampok !! Satpam jaga sedang usir dia , "


Profesi sang suami sebagai supir angkot mengharuskannya sering pulang malam agar dapat menghasilkan penghasilan yang lumayan .


" Mas Satpam itu suami lnem yang mau mengantar Nyonya , jangan di marah marahi to ! " teriak lnem yang khawatir suami tercintanya kena semprot satpam rumah .


" Lhohh sayangku , ndak ada yang lagi marah marah . lni Mas Satpam lagi pinjam korek buat nyalain rokok . Kita kan pren yo Mas " jawab pria bertubuh tambun yang ternyata sangat ramah itu .

__ADS_1


Gista keluar dari gerbang ketika merasa situasinya ternyata aman , pria sangar yang ia lihat tadi benar benar suami lnem .


" lni Nyonya Gista Pak , nanti pelan pelan wae nyupirnya soalnya Nyonya Gista tidak terbiasa dibawa ngebut , " kata lnem menjelaskan .


Jarwo terlihat tersenyum ramah dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya .


" Kok tidak salaman sama Nyonya Mas ?? " tanya Pak Kris yang melihat Jarwo hanya sedikit menganggukkan kepalanya ketika melihat Nyonya mereka yang menurutnya pribadi luar biasa cantik itu .


" Bukan muhrimnya to Mas Kris , Ndak boleh pegang pegang ! Kalau sayangku marah bisa bisa tidur di luar sayanya . Adem Mas ! "


Pak Kris hanya terkekeh ketika mendengarnya , pria sangar itu ternyata sangat ramah . Jauh dari ekspetasinya yang membayangkan jika pria bertato itu sangat galak .


" Monggo Nyonya kita berangkat sekarang , mumpung masih siang , "


Sebelum masuk ke dalam angkot Gista berbicara pada para asisten rumah tangganya .


" Kalian jaga tuan , ibu dan Non Vina baik baik . Maaf jika selama di sini saya membuat kesalahan pada kalian "


" Sama sama Nyonya , terlebih kami ! Kami juga minta maaf jika kami sering membuat Nyonya pusing . Nyonya harus jaga diri Nyonya baik baik juga , kami berharap suatu saat Nyonya akan kembali kesini sebagai istri tuan lagi. " kata Pak Kris mewakili .

__ADS_1


Gista hanya menanggapi dengan senyum , ia kemudian masuk ke dalam angkot yang kemudian perlahan melaju meninggalkan rumah mewah yang sudah lima tahun menjadi tempat bernaungnya .


" Selamat tinggal Mas... "


__ADS_2