
" Siapa kamu berani mengancamku ?! " pekik Vina menantang ketua mahasiswanya , tak peduli jika teriakannya menarik perhatian beberapa mahasiswa yang ada di kantin sore itu . Martin juga tampak terkejut mendengar suara keras gadis di depannya . Mata bulat gadis itu menyorotkan kemarahan yang malah tampak sangat menggemaskan untuknya .
" Tidak bisa menjawab ?? Cihhh tentu saja kau tidak akan bisa menjawabnya .... kau bukan siapa siapa !! Kak Martin dengar itu ?? Kak Martin bukan siapa siapa untukku .... "
Tanpa menunggu lebih lama Vina segera berlari menuju arah parkiran , sungguh dia malu sudah menjadi pusat perhatian orang orang di kantin kampus . Walau tidak terlalu banyak tapi bisa saja ada salah satu dari mereka merekamnya dan menyebarkannya pada mahasiswa lain lewat media sosial .
Sampai di tempat tujuannya Vina menepuk dahinya sendiri karena lupa mengabari Pak Kris jika dia sudah selesai dan ingin pulang . Biasanya seperempat jam sebelum pulang dia sudah mengabari supir pribadinya itu agar menunggu di area parkir kampus .
Dengan sedikit terburu buru dia segera membuka tasnya untuk mencari ponselnya . Tapi setelah beberapa lama mencari ponselnya ternyata tidak juga dia temukan .
" Kau mencari ini !? "
Vina memejamkan matanya untuk mengatur pernafasannya , dia harus menahan emosinya karena kembali mendengar suara dari pria yang benar benar tak ingin ditemuinya . Tangan Martin membawa benda pipih berwarna merah muda yang ia kenal sebagai ponsel kesayangan miliknya .
" Kau menjatuhkannya di kantin tadi , dan kau keburu lari ketika aku ingin mengembalikan ponsel itu padamu . Sekarang kau bisa lihat kan ?? Kau yang selalu menghindari aku ... "
__ADS_1
" Berikan padaku ... "
" Sudah ... "
" Berikan ponselnya padaku Kak !! Sebentar lagi supir akan datang .... Kak Gibran akan marah jika aku pulang telat !! Pleaseee give it to me !! " kata Vina dengan dua tangan mencoba meraih ponsel dari pria bertubuh tinggi besar itu .
" l do ... aku sudah memberikannya untukmu , hatiku ! Aku sudah berikan hatiku saat aku jatuh cinta padamu Davina Bagaskara, "
Vina spontan terdiam ketika mendengar kata kata yang baru saja dia dengar , tapi sesaat kemudian dia tertawa dan merebut ponsel dari tangan Martin . Rasanya mustahil jika pria sedingin es kutub Utara itu menyatakan cinta padanya . Dari dulu pria itu selalu memandang remeh gadis gadis berpenampilan seksi sepertinya . Martin selalu terlihat lebih menghargai dan akrab dengan mahasiswi yang berpenampilan ' normal ' .
" Ya .. ya aku percaya itu , sungguh lucu !! Apapun itu tetap saja kau bukan siapa siapa untukku , mengerti !?? "
" Ehhh ... emmmpptthhhh !!! "
Tanpa aba aba Martin merengkuh tubuh di depannya , diraihnya bibir kemerahan yang selalu membuatnya gemas itu . Ciuman yang tidak dalam , tapi cukup lama untuk membuat nafas mereka terengah .
__ADS_1
" Sekarang kau sudah menjadi milikku .... " bisik Martin sesaat setelah ia melepaskan ciumannya .
PLAKKKKKK ...
Sebuah tamparan telak mendarat di pipi Martin , pria itu bisa melihat tatapan tajam dari mata bulat yang sudah sedikit tergenang air mata itu . Ada sedikit rasa bersalah karena sudah berbuat satu hal yang sudah pasti membuat kaget gadis di depannya . Tapi Martin merasa harus melakukannnya agar Vina tidak selalu menghindarinya . Dia tidak suka sorot ketakutan ataupun ketidaksukaan dari mata gadis itu . Vina membuatnya seolah menjadi monster ketika berada di dekat gadis itu .
" Aku membencimu ... aku benar benar membencimu !! " lirih Vina yang kemudian berlari ke arah mobil jemputannya yang baru saja datang dari arah gerbang kampus .
" Vin .. tunggu !! Kita belum selesai bicara !! "
Tapi Vina tak menggubris teriakan Martin , yang dia ingin adalah segera sampai di rumah dan ingin tidur di kamarnya . Dia ingin segera tidur dengan berharap bisa melupakan kejadian hari ini setelah bangun nanti . Vina terus saja meraba bibirnya ketika sudah ada di dalam mobil . Entah pikirannya gila atau apa , tapi gadis itu masih bisa merasakan dinginnya benda kenyal yang sudah menyentuh bibirnya tadi . Tak bisa ia pungkiri ada rasa geli dan nikmat yang ia rasakan bersamaan , dan itu malah membuatnya ingin merasakan sensasi itu lagi . Vina menggeleng gelengkan kepalanya , dia merasa pria itu sudah membuatnya menjadi gila !
" Kak Martin ... kau memang menyebalkan !! "
Dulu saat di pesta ulang tahun Sherly , sahabatnya itu mengajaknya untuk merasakan apa itu sebuah ciuman . Karena walau selama ini Vina berpenampilan seksi tapi tak pernah sekalipun ada pria yang menciumnya , lebih tepatnya Vina memang belum menginginkan itu .
__ADS_1
Sherly punya ide gila dengan mengajak Vina merasakan sebuah ciuman sebagai sebuah pengalaman . Kebetulan ada sepupu Sherly yang datang dari Aussy untuk menghadiri acara ulang tahunnya tahun ini . Dan lebih gilanya Vina menerima tantangan gila dari sahabatnya itu . Dia berpikir tak ada salahnya merasakan bibir dari pria yang tak di kenalnya , toh hal itu hanya dia dan Sherly yang tahu .
Dan naasnya sebelum bibir mereka nyaris menempel , pintu kamar sudah di dobrak dan Gibran menyeretnya keluar dari rumah Sherly . Vina tahu pasti kakaknya sudah berprasangka buruk padanya , dan Gibran tidak bersalah karena memang ide mereka untuk mencoba ciuman memang sangat gila !!