
Vina melihat sekelilingnya ia lega karena pria yang dihindarinya tidak ada di ruang perpustakaan siang ini . Setelah mengambil buku yang ingin dia baca kemudian ia duduk tepat di pojok ruangan . Sengaja ia ambil bangku paling belakang agar bisa lebih tenang nantinya untuk membaca buku .
" Buku itu tidak berhubungan dengan kelasmu , apa kau salah ambil !? "
" Ehh ... " Vina berjingkat kaget karena suara bariton yang sangat ia kenal tepat ada di depannya , pria yang ia hindari sedang duduk di depannya dengan pandangan mata yang tajam ke arahnya .
" Kak Martin ... ehhmm itu ... maksudku aku memang sedang ingin membaca buku ini , buat selingan saja kok ! " jawab Vina salah tingkah , tumben sekali tidak ada nada sinis dalam pertanyaan dari pria itu .
" ltu artinya kau membuang waktumu disini, " lanjut Martin mulai dengan mode juteknya .
Vina hanya diam walau sebenarnya ia ingin sekali menjawab bahwa apapun yang dia baca itu bukan urusan pria bernama Martin itu . Pria itu adalah ketua Mahasiswa tapi bukan berarti berhak mencampuri urusannya . Jika dia menjawab maka kemungkinan besar ia akan kembali mendengar kata kata pedas dari pria tak berperasaan itu .
" Kenapa diam ??! Apa mulutmu tiba tiba saja menjadi bisu !!? " Vina memejamkan mata dan menutup bukunya , jika ada yang ingin dilakukannya sekarang adalah melempar buku yang sedang ia pegang ke arah pria tampan didepannya .
" lni perpustakaan , aku rasa Kak Martin tahu benar apa yang di lakukan para mahasiswa disini . Jika hanya ingin mengobrol Kakak bisa pergi ke kantin , taman atau ke semua sudut kampus .... kecuali tempat ini . Tempat ini hanya khusus untuk membaca ! "
" Ya sudah ... kita keluar ! Aku bawakan ini, " kata Martin membawa tote bag besar yang tergeletak di atas meja , tas berisi segala keperluan kuliah ataupun barang barang pribadi milik Vina .
__ADS_1
" Lhohh ehhh ... tunggu ! " Vina segera menutup buku dan mengembalikannya pada rak . Gadis itu sedikit panik karena melihat Martin sudah keluar ruangan tanpa menunggunya .
" Dasar menyebalkan , aku doakan semoga dia kudisan ... panuan ... gatel gatel tujuh hari tujuh malam !! " rutuk Vina sambil berlari kecil ke arah pintu keluar , karena tak terlalu memperhatikan jalan ia tak menyadari jika di depan pintu tubuh tinggi menjulang itu sedang menunggunya .
" Akkhhhhhh ... "
Tanpa sengaja tubuhnya menabrak tubuh tinggi besar itu , beruntung dua tangan kekar langsung menangkap dan melingkar di pinggangnya hingga ia tak jatuh terjerembab di lantai .
" Ceroboh !! "
" Lepasshhh ... " lirih Vina berusaha melepaskan diri .
Martin melepas tubuh itu perlahan agar tidak tidak terjatuh .
" Siapa yang kau sumpahi tadi hahh !! Kudisan , panuan dan gatal tujuh hari tujuh malam . Kau pikir aku tidak mendengarmu !? " tanya Martin dengan sedikit mencondongkan kepalanya ke arah gadis di depannya . Tinggi Vina memang hanya sebatas dagunya .
" Kucing tetangga .... dia selalu menyebalkan ! Sok berkuasa , sok tampan seolah hanya dia kucing satu satunya di dunia ini, " gerutu Vina sambil melangkah pergi menjauh , dia tak mau berurusan ketua mahasiswa itu . Menjauh adalah hal terbaik saat ini .
__ADS_1
" Aku ingin bicara sebentar , ikut aku !! "
Vina terkejut ketika tangannya tiba tiba di raih oleh pria tampan idola satu kampus itu . Pria itu membawanya berjalan ke arah kantin . Vina hanya menurut karena jika dia berontak maka akan menjadi pusat perhatian mahasiswa yang lain .
Sampai di kantin baru Martin melepas tangannya , kini mereka duduk berhadapan dengan Vina yang masih membuang pandangannya . Gadis itu malas melihat pria di depannya .
" Kenapa kau tidak menyukaiku !? Kau selalu menghindariku ... Aku merasa menjadi virus jika ada di dekatmu "
Vina memutar bola matanya malas , harusnya dialah yang mengajukan pertanyaan itu . Martin menjadikannya seolah olah dia adalah orang jahat dan pria itu yang menjadi korbannya .
" Kak Martin waras ?? "
" Maksudmu apa !!? "
" Tidak ... aku tidak bermaksud apa apa ! Aku mau pulang ! " kata Vina meraih tasnya , tapi sebelum gadis itu beranjak pria di depannya kembali meraih tangannya .
" Jangan pernah berani pergi sebelum aku mengijinkan ... "
__ADS_1