
SAAAHHHHH....
Gibran menarik nafas lega ketika selesai mengucapkan ijab kabul . Pernikahan sederhana yang hanya dihadiri beberapa keluarga . Hanya ibunya yang tidak terlihat dari pihak keluarganya tapi dia beruntung karena Heru dan istrinya tidak terlalu mempermasalahkannya . Nyonya Darsono sudah mengenal watak ibunya karena mereka berteman cukup lama .
Pria itu tersenyum ketika istrinya mencium tangannya walau ia tahu benar jika Gisel masih belum menerimanya sebagai suami . Setelah berbasa basi dengan tamu dan keluarga Gibran meminta ijin untuk mengantarkan istrinya kembali ke kamar karena dokter masih meminta Gisel untuk membatasi aktifitasnya agar tidak terlalu lelah .
Gibran kira akan melihat kamar bernuansa merah muda atau warna soft lainnya di kamar istrinya . Tapi yang ia lihat adalah kamar bernuansa putih dengan interior hitam , lukisan wajah Gisel dengan ukuran besar di atas ranjang pun juga berwarna hitam putih . Sangat tergambar watak tegas dari seorang Gisel yang saat ini sudah resmi menjadi istrinya .
" Lepaskan tanganmu , jangan sok perhatian pada kami ! " sinis Gisel melepas satu tangan Gibran yang melingkar di pinggangnya .
" Aku memang menyayangi kalian " sahut Gibran dengan nada datar , karena sedikit saja ia terpancing emosi maka mood istrinya bisa saja jungkir balik .
" Apa kau akan tidur dengan baju seperti itu ?? " tanya Gibran ketika menyadari istrinya masih memakai baju pengantin model dress panjang berwarna putih . Dan dia tertawa ketika melihat tatapan penuh selidik dari wanita hamil di depannya .
" Aku pria yang bisa memegang janjiku , bukankah kemarin aku sudah berjanji untuk tidak menyentuhmu sebelum kau sendiri yang memintanya ?? Kita akan bercinta hanya setelah kita bisa saling mencintai .... "
__ADS_1
Gisel gemas sekali dengan mulut tanpa filter dari suaminya , dengan entengnya mengatakan bercinta tanpa ada rasa malu sedikitpun . Kemarin memang ia sendiri yang meminta hal itu pada Gibran , dia meminta pria itu untuk tidak menyentuhnya sebelum ada rasa cinta di antara mereka . Dan yang menyebalkan adalah pria itu langsung menyanggupinya tanpa menyangkalnya sedikitpun .
Sesakit hati apapun tapi harus ia akui jika kadang ia ingin sekali mengulang malam panas itu . Entah ... tapi akhir akhir ini dia merasa ingin diperhatikan dan di manja oleh ayah dari bayinya . Mungkin terlalu berlebihan , tapi itulah yang sedang dia rasakan . Gisel bersikap sinis untuk tetap bisa mengontrol nalurinya yang kadang ' meledak '
Contohnya saja saat ini , tiba tiba saja akal sehatnya menghilang dengan ingin melucuti tubuh kekar itu agar dia bisa leluasa melihatnya . Dia ingin kembali ada di bawah kendali tubuh yang pernah membuatnya menjerit semalaman itu .
" Hei ... kau baik baik saja , apa dia sedang nakal di dalam sana ?? " ujar Gibran sedikit panik ketika melihat Gisel menggeleng gelengkan kepalanya pelan , ia khawatir jika istrinya sedang merasakan kesakitan karena efek dari kehamilannya . Walau sudah pernah menikah tapi ini adalah pertama kali dalam hidupnya menghadapi wanita hamil .
" Jangan sentuh aku !! Bukankah tadi aku sudah memperingatkanmu ?!! Aku tidak apa apa ... dan dia tidak nakal, " sungut Gisel mengelus pelan perutnya yang mulai membuncit .
" Ganti bajumu agar kau lebih nyaman berbaring , mataku tertutup jadi aku tidak akan bisa melihatmu, " kata Gibran duduk begitu saja di bawah dengan bersandar ranjang milik Gisel , pria itu juga terlihat sangat lelah .
Gisel menurut dengan segera membuka bajunya karena rasanya sudah sangat gerah . Dia menggantinya dengan bahu tidur yang biasa ia pakai . Semua baju tidurnya berukuran longgar hingga masih muat dan nyaman untuk dipakai walau perutnya sudah mulai membuncit .
" Sudah selesai ?? " tanya Gibran ketika merasakan pergerakan di atas ranjang .
__ADS_1
" Sudah .... " jawab Gisel singkat , dia sudah menutup sebagian tubuhnya dengan selimut .
Setelah mendengar jawaban istrinya Gibran membuka penutup matanya , dan karena ia pun merasa sudah sangat gerah makan dengan santainya ia mulai melucuti satu persatu penutup tubuhnya .
" K-kau mau apa ?? Jangan macam macam... " lirih Gisel kesulitan menelan salivanya ketika melihat perut rata dengan ukiran ukiran sempurna diatasnya . Otot otot liat yang tidak terlalu berlebihan , tapi sepertinya akan nyaman jika tidur di atasnya ....
" Hanya ingin mandi , mau mandi bersama !? " goda Gibran yang langsung mendapat lemparan sebungkus tisu basah yang tadi tergeletak diatas nakas .
" Aku lupa membawa baju ganti dan Vina sedang mengambilnya untukku . Aku melepas baju disini karena mungkin aku akan memakainya lagi untuk turun kebawah mengambil kopernya, " lanjut Gibran menjelaskan .
" Aaaaaaaa ... dasar mesum !!! Buka itumu di kamar mandi !! Aku sudah siapkan baju ganti untukmu di lemari " pekik Gisel yang melihat Gibran ingin membuka satu satunya penutup yang masih menempel di area bawahnya .
" Kenapa tidak bilang dari tadi .... pasti kau sengaja karena ingin melihatku ! " goda Gibran lagi , dia suka melihat wajah kemerahan istrinya .
Sedang jantung Gisel berdetak dengan keras , walau kedua tangannya menutupi wajahnya tapi tak ia pungkiri ia masih bisa menatap tubuh polos di depannya . Terlihat sangat seksi ketika tubuh itu perlahan melangkah menuju kamar mandi .
__ADS_1
" Ya Tuhan ... kenapa aku menjadi gila seperti ini !! Sadar Gisel .... sadaaaarrr " rutuk Gisel yang malah sempat membayangkan mandi bersama di bawah guyuran shower dengan tubuh sempurna itu .