Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
23


__ADS_3

" Akkhhhhh ... "


Bram memegang kepalanya saat merasakan pusing yang amat sangat . Ketika membuka matanya dunia di sekelilingnya terasa berputar hebat . Samar ia mendengar suara yang sangat di kenalnya .


" Alon alon ( pelan pelan ) !! Kondisi Mas Bram masih lemah. "


" Mas Jarwo , saya di mana ?? "


" Lagi di puskesmas , semalam sampeyan sempat pingsan ! Dokter bilang kalau Mas Bram terlalu capek . Habis tawuran sama siapa to Mas ?? Kok tumben sampai tepar begini, " tanya Jarwo masih heran dengan kondisi yang dialami Bram karena setahunya Bram adalah pria yang tangguh dan pandai bela diri .


" Piye sih Mas !! Dia masih pusing jangan ditanya macam macam dulu . ltu buburnya suruh dimakan dulu , tadi kan dokternya bilang kalau sudah bangun di kasih buburnya biar ada asupan yang masuk ke perut, " kata lnem yang setia mendampingi suaminya duduk di samping ranjang pasien .


" O iya sampai lupa , makan dulu Mas biar cepat sehat, "


Jarwo membantu Bram agar duduk bersandar di kepala ranjang , setelah itu mengambil mangkuk berisi bubur yang ada di atas nakas .

__ADS_1


" lni mau disuapin atau makan sendiri ?!Semalam Non Gista .... " belum sempat Jarwo menyelesaikan kata katanya Bram sudah terlebih dahulu memotongnya .


" Saya bukan anak kecil Mas , kepala saya juga sudah berkurang pusingnya !! Dan jangan bahas dia lagi karena saya tidak punya urusan dengannya " kata Bram mengambil mangkuk di tangan Jarwo , kemudian perlahan menyendoknya . Sebenarnya rasa bubur itu sangat hambar tapi karena perutnya sangat lapar bubur itu habis dalam sekejap .


" Tapi ... "


" Kalau makan nggak boleh sambil bicara, " ujar Bram yang sebenarnya tidak mau mendengar nama janda cantik itu disebut di depannya .


Jarwo dan lnem hanya terkekeh melihatnya , setidaknya mereka sudah tidak khawatir lagi karena Bram baik baik saja .


SRATTTTHHH ....


" Walaaahhhhh ... !! " pekik lnem kaget melihat darah ketika jarum infus ditarik paksa dari tangan Bram , walau tidak banyak tetap saja membuat dia terkejut .


" Kita pulang sekarang saja Mas , sumpek disini . Saya tidak suka bau obat ! "

__ADS_1


Jarwo kemudian mengantar Bram ke tempat kosnya , kos khusus laki laki yang menurutnya sebagai orang biasa tempat itu cukup mewah . Hanya ada satu ruang tidur tapi lengkap dengan dapur dan kamar mandi yang ada di dalamnya .


Tidak seperti kamar kos pria kebanyakan yang kotor dan tidak teratur , kamar Bram sangat bersih dan wangi . Tidak ada benda yang tidak berada di tempatnya .


" Mas Bram yakin bisa saya tinggal ?? " tanya Jarwo yang melihat Bram langsung berbaring di kasur saat tiba di kamarnya .


" Saya tidak apa apa kok Mas !! Tidak usah khawatir. "


" Istri saya tadi sudah beli nasi Padang buat makan siang , sore nanti saya kesini lagi buat antar makan malam . Ya sudah pokoknya ngaso dulu . Jangan ngoyo , kalau masih pusing ya jangan memaksakan diri untuk pergi pergi dulu . O iya tadi Darto kirim pesan kalau motor Mas Bram ada di rumahnya sekarang. "


" Terima kasih banyak Mas ... Mbak lnem ! "


" Sama sama Mas ! "


Setelah Jarwo keluar dari kamarnya otak Bram seperti merekam kejadian malam itu . Dia yakin sudah ditolong oleh bidadari berpakaian serba putih saat itu , bidadari itu menopang badannya hingga tubuhnya tidak terjerembab ke bawah .

__ADS_1


Walau matanya tertutup tapi ia bisa merasakan betapa lembutnya sang bidadari memperlakukan dirinya . Sampai sekarang pun ia masih ingat dengan usapan usapan lembut pada lengan dan tangannya .


Bram yakin lukanya baik baik saja karena bidadari itu sudah terlebih dulu menyentuhnya sebelum para perawat di puskesmas membersihkan luka lukanya . Jika waktu bisa diputar waktu itu ia ingin sekali membuka matanya , ingin ia menikmati wajah cantik yang membuat hatinya damai itu .


__ADS_2