
" Selamat siang saya Bramatyo , cukup panggil saya dengan Bram . Mulai hari ini saya akan belajar untuk menjadi bagian dari divisi pemasaran ini . Semoga ke depannya kita bisa bekerjasama dengan baik, " kata Bram yang memperkenalkan dirinya sebagai pegawai magang di perusahaannya sendiri .
Jika petinggi petinggi perusahaan sudah sangat mengenal sosoknya karena berkali kali ia ikut dalam pertemuan formal bersama Hardian dan Sartika . Tapi untuk pegawai biasa sosoknya benar benar baru di mata mereka karena Bram hampir tidak pernah menginjakkan kakinya di perusahaan . Dulu Bram lebih suka terjun di dunia bisnis Sartika yang mempunyai usaha WO yang cukup dikenal di ibukota .
Sebenarnya tadi Hardian sempat tidak setuju jika putranya bekerja magang di salah satu divisi karena ingin Bram langsung belajar berada di kursi kebesarannya . Tapi Bram mengemukakan pendapatnya jika ia akan belajar berada dibawah sebelum pantas berada di kursi papanya . Dan terpaksa pemilik Sadewo itu setuju , hanya agar Bram lebih nyaman karena bekerja bukan atas dasar paksaan . Bagi Hardian yang terpenting sekarang adalah kenyamanan putranya , dia tak ingin putra satu satunya itu pergi lagi dari rumah karena keegoisannya .
Kepala divisi yang tahu siapa Bram langsung menyiapkan meja Bram di ruang kantornya , lagipula Hardian juga sudah mengatakan bahwa selama satu bulan ini dia bertugas membimbing pewaris tunggal Sadewo dalam divisi yang dipimpinnya ini .
" Mas Bram , mari saya antar ke meja .... "
" Tolong jangan istimewakan saya , saya hanya karyawan magang . Perlakukan saya sebagaimana mestinya memperlakukan karyawan pada umumnya, " sahut Bram dengan nada yang dalam , dia tak ingin menjadi perhatian karyawan lain karena di perlakukan secara istimewa .
__ADS_1
" Baik Mas ... saya usahakan ! Meja Mas Bram ada disamping meja saya , maaf bukan bermaksud melawan kata kata Mas Bram tadi . Tapi Tuan Hardian yang meminta saya secara langsung untuk menjadi mentor Mas selama sebulan ini, " kata kepala divisi dengan badan sedikit menunduk .
Bram terpaksa mau bekerja diruang khusus kepala divisi pemasaran , dia tak ingin memperpanjang masalah . Yang penting untuknya sekarang adalah cepat belajar , dia harus cepat menguasai semua hal tentang perusahaan agar bisa menjadi pengusaha muda yang sukses . Dia ingin membuktikan pada seseorang jika diapun bisa menjadi pria seperti yang wanita itu inginkan .
*
" Tuan Gibran mau lembur lagi !? Saya sudah selesaikan berkas perjanjian dengan Sadewo Group , lusa kita bertemu dengan Tuan Hardian Sadewo untuk membicarakannya lebih lanjut. "
Setelah Pak Dika pergi , Gibran merebahkan punggungnya di sandaran kursinya dengan memejamkan matanya . Dia lelah ... bekerja sekeras apapun akan percuma karena dia tak lagi punya tujuan hidup .
Dulu jika ia lembur seperti ini maka Gista akan bertubi tubi mengirimi pesan dengan pertanyaan yang sama ... kapan pulang . Dan tak satupun pesan itu dibalasnya , bahkan ia kadang malas untuk membacanya .
__ADS_1
TINGGGG ...
Tiba tiba terdengar notif pesan di ponselnya , Vina mengiriminya sebuah pesan . Awalnya ia malas untuk membukanya , tapi kemudian ia membacanya karena khawatir ada hal mendesak tentang ibunya .
Aku sedang makan bakso sama Mbak Gista , tadi kita tidak sengaja ketemu di minimarket . Mas Gibran mau nyusul kesini ?? Nanti sekalian Vina pesankan baksonya ....
Gibran langsung beranjak dari kursinya , entah kenapa tapi tiba tiba perutnya terasa sangat lapar .
" Tunggu aku sayang ... "
Gibran lari seperti kesetanan ke arah basement tempat dia memarkirkan mobilnya . Dia bahkan tak menyadari tatapan keheranan dari wakil CEOnya yang melihatnya berlari seperti itu . Padahal dia sendiri yang mengatakan tadi jika akan lembur satu jam lagi untuk menyelesaikan sesuatu .
__ADS_1