Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
11


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Gista hanya mampu terdiam , tukang ojek yang mengantarnya ini bukan pria ramah seperti yang ia bayangkan . Jika dilihat pria muda didepannya ini sekitar berumur dua puluh tahunan .


Tak salah jika Neni tergila gila pada pemuda bernama Bram ini , selain tampan tubuhnya juga sangat sempurna . Otot otot tubuhnya terbentuk tidak berlebihan tapi ia masih dengan jelas bisa melihat roti sobek yang tercetak di balik kaos pemuda itu . Jika saja ia masih berumur belasan mungkin ia akan menjadi salah satu gadis yang mengejarnya .


" Ya Tuhan .... apa yang aku pikirkan ! " gumam Gista yang malah berpikir yang aneh aneh tentang pemuda di depannya .


" Mbak mau saya antar kemana dulu ?? "


Suara bariton yang sedikit berteriak itu memecah lamunannya . Gista baru sadar jika mereka sudah sampai di kota . Perlahan Bram meminggirkan motornya ke tepi karena merasa penumpangnya masih bingung menentukan arah tujuan mereka .


Gista termenung , jika ia meminta Bram menemaninya seharian berkeliling kota maka bisa di pastikan akan membayar mahal untuk itu . Dan mungkin saja butuh beberapa hari untuk mencari pekerjaan yang cocok .Padahal uang di dompetnya sangat pas pasan.


" Ehhmm ... saya juga masih bingung Mas ! Atau lebih enak panggil nama saja ya , kamu jauh lebih muda dariku "


" Terserah ... " sahut Bram tanpa menoleh .


" Berapa ongkosnya Bram !? Sepertinya kamu antar saya sampai disini saja . Takutnya bisa seharian kamu ikut muter muter soalnya saya juga belum tahu mau kemana saja hari ini, "


" Ya sudah , mana helmnya !? "


Setelah Gista menyerahkan helmnya dia melihat Bram langsung pergi tanpa bertanya apapun padanya . Tapi sejurus kemudian wanita itu kaget ketika melihat tasnya yang terbuka . Tadi dia bermaksud akan membayar ojeknya tapi Bram malah sudah melesat pergi .


" Belum juga di bayar malah pergi ... "

__ADS_1


Gista melihat ke sekelilingnya , dia berharap di sepanjang area pertokoan ini dia bisa menemukan pekerjaan . Setelah itu ia berjalan ke sebuah rumah makan yang sangat ramai di tempat itu . Jika sangat ramai mungkin saja mereka membutuhkan jasa pelayan .


" Apa saya bisa mendapat pekerjaan disini !? Apa saja bisa saya lakukan, " tanya Gista pada seorang pria berpakaian perlente yang duduk di sebelah kasir . Jika dipandang dari tampilannya sepertinya pria itu pemilik restoran .


Mata pria parubaya itu terpaku melihat bidadari di depannya tapi sejurus kemudian tampil senyum smirk di wajahnya .


" Ada , saya butuh pelayan yang sekaligus bisa menginap disini . Restoran kami buka pagi jadi kami harus menyiapkan semua malam harinya. Bagaimana ?? "


Gista berpikir cepat , menginap ditempat kerja itu berarti tidak akan ada waktu istirahat yang cukup untuknya . Sekarang ia hidup sendiri , sebisa mungkin ia harus menjaga kesehatannya agar tidak merepotkan orang lain .


" Ehhmm ... maaf sepertinya saya tidak bisa Pak "


" Sombong juga kau !!! Kau yang tadi mengemis pekerjaan padaku , tak tahu diri dasar !! Kau tak akan dapat pekerjaan jika terlalu pilih pilih ... " teriak pria itu pantang hingga beberapa pelayan dan pengunjung melihat ke arah mereka .


Gista segera melangkah pergi sebelum terjadi hal yang tidak ia inginkan . Bisa saja pria itu akan terus mempermalukannya jika ia masih berdiri di sana . Tapi langkahnya terhenti ketika pria tadi berteriak lagi padanya .


" Hei kau wanita sialan !! Kemari kau , kita belum selesai bicara !! "


Gista menghentikan langkahnya , tapi ia tidak berani membalikkan badannya . Kepalanya menunduk dengan nafas yang tidak beraturan ,. jujur saja ia ketakutan melihat pria dengan perangai yang tidak baik itu .


Gista wanita dewasa , ia tahu arti tatapan menjijikkan dari pria berperut besar itu . Untuk alasan apapun dia tidak akan memanfaatkan kecantikannya untuk mencari uang .


" Ckk tegakkan kepalamu , jangan terlalu memperlihatkan kelemahan di depan pria pria seperti dia ... "

__ADS_1


Suara lembut seorang wanita membuatnya mendongak dan menoleh ke samping . Seorang wanita parubaya sedang tersenyum kepadanya . Dari out fit yang dikenakan wanita itu Gista tahu jika wanita didepannya adalah sosialita kaya raya .


" Nyonya ... "


Wanita anggun itu menarik lembut tangannya kembali menuju ke dalam restoran . Saat ini Gista merasa seperti seorang anak yang di gandeng oleh ibunya . Kelembutan wanita itu membuatnya merasa terlindungi .


" Siapa yang kau sebut dengan wanita sialan itu !?? Kau seorang pengusaha , mungkin kau juga punya anak perempuan . Tak bisakah kau memperlakukan wanita dengan hormat ?? Roda tak selamanya di atas , bagaimana jika suatu saat kau berada di posisinya ?? "


" Cihh jangan sok jadi penyelamat , wanita itu bukan siapa siapamu "


" Kami sama sama wanita , menghinanya berarti menghinaku ... " sahut wanita itu .


" Kau pikir apa yang bisa kau perbuat padaku !? Aku manager di restoran ini , sekarang juga aku bisa panggil sekuriti di depan untuk menyeret kalian keluar " ujar pria berperut besar dengan sangat congkak .


" Coba saja .... dan kau bisa lihat apa yang aku bisa lakukan padamu "


Tak lama terlihat dua sekuriti bertubuh besar mendekat ke arah mereka . Dia sekuriti itu menunduk ketika berdiri di depan pria sombong itu . Sedang wanita anggun yang menolong Gista terlihat mengetikkan sesuatu diponselnya .


" Seret mereka keluar , mereka sudah mengganggu ketenangan restoran ini .... "


" Baik ... "


Tapi sebelum mereka menyentuh dia wanita cantik beda generasi itu tampak sang manager menerima telpon dari seseorang . Wajah pria itu seketika memucat dan wajahnya terlihat sangat panik .

__ADS_1


" Nyonya Wijaya .... saya mohon jangan pecat saya !! Maafkan.saya , saya tidak bermaksud mempermalukan Nyonya ! "


__ADS_2