
Walau sebenarnya sudah tak berselera untuk makan Vina menurut saja ketika Martin membawanya ke sebuah warung sate pinggir jalan . Suatu pengalaman pertama untuknya ketika harus duduk beralas tikar diatas trotoar jalan dengan pemandangan motor dan mobil berlalu lalang .
" Kau ingin pesan apa ?? " tanya Martin pada gadis yang terlihat masih melamun di depannya . Hatinya bersorak senang ketika tadi Gibran meminta dirinya untuk mengajak keluar Vina untuk makan malam . Ditambah untuk dua minggu ini dia di beri tanggung jawab untuk mengantar jemput gadis yang sudah dia klaim menjadi miliknya itu .
" Aku memang sedang kacau tapi aku masih bisa membaca jika yang kita masuki ini warung sate .... "
Martin terbahak mendengar jawaban dari Vina , kata kata sinis gadis itu selalu bisa membuat hatinya terasa senang . Dari awal Vina memang sudah mencuri perhatiannya . Selain cantik ada sesuatu pada diri gadis itu yang membuatnya tertarik . Vina gadis yang supel dan seksi , banyak kumbang yang ada disekitarnya hingga kadang membuatnya geram .
Dulu dia sering sengaja duduk di kafenya sendiri agar menarik minat mahasiswa lain untuk datang ke kafe miliknya . Tidak mudah merintis usaha kafe yang sekarang sudah mulai maju itu . Saat itu meminta kokinya untuk membuat ayam goreng tapi pelayan terlebih dulu mengantar sepiring nasi putih terlebih dahulu karena ayam baru akan disiapkan . Mungkin karena ia adalah sang pemilik dan itu menjadikan pelayan ingin yang terbaik untuknya .
Ketika menunggu ayam diantar malah tiba tiba Vina datang ke mejanya dengan bermacam macam makanan . Gadis cantik itu sengaja memindahkan semua makanan dari mejanya ke meja Martin karena hanya melihat sepiring nasi putih di depan pria tampan itu . Mungkin Vina berpikir dirinya tidak punya cukup uang untuk membeli makanan yang layak .
Martin masih sangat ingat jika waktu itu Vina memintanya menghabiskan makanan makanan didepannya dengan alasan tak mungkin menghabiskan semuanya sendirian . Sejak saat itu Martin tertarik pada kepribadian Vina , walau bergaya elite tapi masih ada sisi baik dalam diri gadis itu yang mau memperhatikan orang orang yang membutuhkan pertolongan .
Setelah beberapa saat pesanan mereka datang , Martin tersenyum ketika melihat Vina mulai menyantap hidangan di depannya . Padahal tadi dia mengira jika akan ada drama untuk membujuknya makan .
__ADS_1
" Jangan melihatku seperti itu , aku bukan seorang korban yang harus dikasihani ... " kata Vina tanpa melihat pria di depannya yang malah belum menyentuh makanannya karena sibuk memperhatikan dirinya .
" Kau cantik ! "
" Aku tahu .... sejak lahir aku memang sudah cantik ! Sayang tidak dengan hatiku . Kak Martin seharusnya jangan memandang gadis dari luarnya saja . Aku cantik tapi tidak sebaik apa yang Kakak pikirkan, " kata Vina dengan nada serak , kembali terulang di otaknya bagaimana ia menghancurkan pernikahan kakaknya sendiri .
" Tidak ada satupun di dunia ini yang sempurna ... "
" Ckk itu sih klise banget !! Semua pria menginginkan wanita yang sempurna disisinya . Cantik , pintar , nggak malu maluin kalau di bawa .... " Vina menghentikan kata katanya ketika dengan tiba tiba ibu jari pria itu menyapu sudut bibirnya .
" Kak Martin sudah mengambil first kiss dariku tapi bukan berarti aku sudah menjadi milikmu ! "
" Apa !!!!!? "
" Waktu itu di pesta Sherly memintaku untuk belajar cara mencium yang baik dan benar dengan sepupunya , baru mau nempel Kak Gibran sudah masuk kamar ngamuk ngamuk . Jadi jangan salahkan aku jika cara menciumku masih kaku ! Sudah aku bilang kan cari gadis lain yang lebih cantik dan mahir . Kak Martin kira aku tidak malu ketika waktu itu Kakak mengejek cara menciumku masih kaku !!?? ltu penghinaan untukku. "
__ADS_1
" A-apa ?? Kau tidak pernah berciuman sebelumnya !!!!? " tanya Martin dengan wajah tidak percaya .
" Bagiku berciuman itu harus dengan momen dan orang yang tepat . Seperti di film film romantis yang sering aku lihat , setelah mengalami susah senang di akhir cerita dua tokoh akan berciuman dengan mesra dan tulisan the end akan turun dari layar dan mereka bahagia selamanya, " ujar Vina dengan membayangkan adegan romantis di film film romantis kesukaannya .
" Jika butuh momen dan orang yang tepat kenapa waktu itu harus menuruti ajakan Sherly untuk belajar berciuman ???!! "
" Itu kan BELAJAR !! Jadi tidak dihitung sudah berciuman .... " gerutu Vina menyuapkan satu sendok lontong yang masih tersisa dipiringnya . Tak terasa satu porsi sate sudah bersemayam di perutnya .
" Kau masih mau mahir bermain bibir kan !? Ayo ikut aku ... " Gibran menarik lembut tangan Vina setelah membayar semua makanan di meja .
" Maksud Kak Martin ??? "
" Aku yang akan mengajarimu !! Aku hajar jika sepupu Sherly atau siapapun berani menyentuhmu .... "
" Tidak mau !!! Aku mau pulang !! "
__ADS_1