
" Aku minta maaf , emosi sesaat ku menghancurkan semua yang sudah kita bangun selama lima tahun .Aku berteriak seolah olah hanya aku yang tersakiti , padahal kau pasti beribu kali lebih sakit dari aku !! Aku tidak pantas di maafkan .... " kata Gibran dengan raut yang tertunduk .
" Sudah terjadi Mas , mungkin ini jalan terbaik yang sudah di rancang Allah untuk kita . Berprasangka baiklah !! Sampai sekarang sakitnya belum berkurang , tidak ada seorang istri yang bermimpi di talak oleh suami yang sangat mereka cintai . Tapi aku tidak pernah membencimu ... tidak akan pernah ! Aku yakin suatu saat kau akan bisa menemukan seseorang yang lebih baik dariku . Yang bisa menjadi pelengkap hidupmu. "
Gibran mengepalkan tangannya karena mengingat semua kebodohannya . Jika ada satu doa yang akan dikabulkan maka ia hanya minta waktu diputar kembali saat itu . Gibran ingin menarik semua kata kata talaknya , ia ingin Gista masih setia disisinya .
" Mas sudah makan !? "
Gibran hanya menggelengkan kepalanya lemah , hari ini sudah dua kali ia mengeluarkan uang untuk ibunya . Pertama seratus juta dengan alasan jatah bulanan , dan yang kedua saat dia akan pergi menemui Gista tiga orang pria berbadan besar memaksa masuk di gerbang hingga satpam kerepotan .
Ketika Gibran bertanya apa kepentingan ketiga orang itu , ternyata mereka adalah debt kolektor . Tiga hari yang lalu ibunya sudah berhutang tiga ratus juta pada rentenir untuk berjudi . ltu artinya ibunya melakukan itu setelah kepergian Gista dan kepergiannya ke Jogja .
Dan mereka juga berkata biasanya seorang wanita cantik yang biasanya mencicil semua hutang ibunya , yang Gibran yakin itu adalah Gista . Wanita itu bahkan bisa menutupi aib ibunya dengan sangat baik didepannya walau sudah berkali kali ibunya dan Vina memfitnahnya dengan membuatnya terlihat buruk di matanya .
" Mbak di sini ada olahan ikan ?! " tanya Gista pada seorang pelayan yang datang ke mejanya .
" Ada Bu , ada ikan mas , gurame , belut dan kerapu. "
" Ya sudah saya pesan ikan gurame asem pedas sama belut lombok ijo . Ehhmm tahu tempe goreng juga ya ! Minumnya jeruk hangat tanpa gula dua , nasinya yang benar benar anget ya Mbak ! "
Sampai makanan kesukaannya pun wanita didepannya masih sangat hafal . Dulu jika Gista memesan jeruk hangat maka Gibran akan memprotesnya karena ia lebih suka minuman dingin .
__ADS_1
" Tumben Mas tidak protes dengan pesanan minumannya , " kata Gista melihat Gibran tidak minta minuman dingin kepadanya .
" Meski telat , aku ingin jadi pria yang penurut sekarang .... "
Gista tertawa terbahak merasa lucu dengan jawaban yang diberikan Gibran . Padahal.dulu jika sedang makan di luar seperti ini Gibran akan selalu memprotes minuman hangat yang di pesan oleh Gista . Mereka selalu berdebat karena masalah sepele itu , walaupun sudah dipastikan Gibran tidak akan pernah menang berdebat melawan istrinya .
Setelah pesanan mereka datang mereka makan dengan tenang tanpa mereka tahu sepasang mata sedang memperhatikan mereka . Tatapan kebencian dan meremehkan itu terus saja mengarah pada Gista . Selesai makan Gista tampak mengambil sesuatu di tasnya .
" Kau mau apa say ... maksudku aku yang mengajakmu kesini jadi aku yang bayar makanannya, " kata Gibran yang masih sulit melupakan panggilan sayangnya pada Gista .
" Aku tidak punya uang , jadi memang seharusnya kau yang bayar Mas !! Aku sedang mencari kunci motor punya Mak Sri , itu motor cuma minjem ! "
Gibran hanya terkekeh mendengarnya , walau dia miris mantan wanita halalnya bahkan tidak punya kendaraan sendiri untuk bepergian .
" Rahasia , kalau aku jawab pasti Mas Gibran kirim motor atau mobil ke rumah . Ya kan !? "
" Cihh ge er , jika aku benar benar mengirimnya maka tiap bulan aku akan datang untuk menagih cicilannya . Kau harus bayar sekaligus dengan bunganya .... "
" Dasar rentenir menyebalkan !!! " cibir Gista .
Keduanya tertawa lepas , tanpa tahu pandangan kebencian itu masih mengarah pada mereka .
__ADS_1
" Dasar j*lang .... "
*
Lima belas menit yang lalu
Malam itu Bram dan teman temannya benar benar melaksanakan niat mereka . Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok karena akan menyerang dari berbagai arah . Malam ini mereka akan benar benar memberi pelajaran pada Kucir cs yang berani menghadang mereka tempo hari .
Bram berangkat dengan enam orang yang lain dengan tiga motor yang artinya mereka mengendarainya dengan berboncengan . Sedang tiga kelompok yang lain dengan jumlah yang sama juga berangkat dengan titik yang berbeda .
" Mas Bram berhenti sebentar di depan ya ! Mau beli es teh sebentar dari tadi haus banget ! "
" Di depan nggak ada warung , cuma ada kafe ! Memang Mas Darto mau beli es di mana !? " tanya Bram tak habis pikir dengan orang yang di boncengnya , mau tawuran masih sempat sempatnya beli es teh .
" Ya terpaksa beli es teh di kafe , nggak lama kok soalnya esnya nanti minta diplastik saja ! Sebentar ya Mas !! "
Empat temannya hanya geleng geleng kepala sambil menggerutu , ada ada saja tingkah satu teman mereka itu .
Tapi sesaat kemudian mata Bram terpaku pada dua orang yang sedang ada di kafe itu . Dia sangat mengenal wanita yang sedang tertawa lepas itu , sekali lagi ia harus melihat wanita itu sedang menjerat seorang pria kaya .
" Dasar j*lang "
__ADS_1
*