Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
54


__ADS_3

" Kalian mau membawaku kemana hah ??!! " teriak Gibran pada lima pria yang malah membawanya masuk ke gedung Wijaya . mereka masuk melalui lift khusus yang tidak di lalui oleh para pegawai hingga keberadaan mereka tidak menjadi sorotan pegawai yang masih bekerja lembur .


" Tenang Tuan Gibran , kami hanya ingin bicara . Tidak lebih ! " sahut salah satu pria dengan raut sangat tenang . Sepertinya pria pria ini memang sangat terlatih untuk menghadapi situasi seperti ini .


Mereka kemudian berhenti di depan pintu sebuah ruangan bertuliskan kantor CEO . Dan Gibran tahu jika Wijaya dipimpin oleh seorang wanita yang terkenal dengan ketegasan dan kebaikan hatinya .


" Nyonya , sesuai perintah kami membawa Tuan Bagaskara ke ruangan ini ... "


Gibran melihat seorang wanita parubaya yang sekilas mirip istrinya beranjak dari duduknya dan tersenyum ramah kepadanya .


" Terimakasih , sekarang tinggalkan kami ! Aku dan Tuan Bagaskara ingin bicara empat mata, " kata Lena pada kelima orangnya .


" Tapi Nyonya ... "

__ADS_1


" Tidak usah khawatir , aku yakin Tuan Bagaskara adalah pria yang baik . Silahkan duduk Tuan , maaf jika orang orang saya terlalu kasar, " Lena mempersilahkan mantan menantunya untuk duduk .


Setelah lima orangnya keluar , Lena segera memulai pembicaraannya .


" Saya Lena Wijaya , maaf jika tiba tiba ingin bicara pada anda Tuan Bagaskara. "


" Orang orang anda sudah mencampuri urusan pribadi saya , dan tentu saja itu sangat mengganggu . Saya tahu istri saya bekerja di perusahaan ini tapi bukan berarti anda dan orang orang anda berhak mencampuri urusan saya dan istri saya, " ujar Gibran sedikit ketus karena kecewa orang orang Wijaya hanya menyeretnya , tapi sama sekali tidak menyentuh Bram . Padahal ia merasa dialah pihak yang benar di pertengkaran tadi , Gibran merasa Gista masih menjadi miliknya .


" Talak tiga .... "


" A-apa ..... " Dua kata itu mampu membuat Gibran bungkam , kata kata itulah yang membuat hidupnya jungkir balik berantakan . Dua kata yang ternyata menjadi badai yang hebat hingga ia segan untuk bernafas .


" Anda tahu arti dua kata itu ?? Sebuah pernikahan adalah ikatan suci dua hati yang saling mencintai dan saling menghargai . Tidak hanya tubuh ... disana dua pemikiran berbeda disatukan , dua jiwa dengan perbedaan watak dan karakter harus mampu saling mendukung . Mensyukuri kelebihan dan bisa menutupi kekurangan pasangan masing masing . Tapi jika seorang suami sudah menjatuhkan talak tiga pada istrinya itu artinya dia membebaskan semua ikatan yang sudah terjalin , tidak ada lagi kata hak atau kewajiban . Wanita yang semula mendampinginya bukanlah miliknya lagi ... "

__ADS_1


" Apa maksud Nyonya berkata seperti itu , anda tidak punya hak untuk menasehati saya !! Saya tahu jika anda pemilik Wijaya dan saya yakin anda pun tahu saya siapa , tapi bukan berarti anda boleh menghakimi rumah tangga saya, " ketus Gibran semakin arogan , semua pembicaraan yang menyangkut perpisahan antara dia dan istrinya selalu sukses menyulut emosinya .


" Saya tahu jika saya tidak punya hak untuk menasehati anda , tapi sejak lima puluh hari yang lalu kehidupan putri saya sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya sebagai orang tua kandungnya, " ujar Lena masih dengan sikap yang sopan .


" Saya tidak kenal dengan putri anda .... "


" Sebagai pengusaha anda pasti sudah pernah mendengar tentang putri saya Cahaya Cinta Wijaya . Saya menemukannya setelah dua puluh lima tahun mencarinya ... "


" Maksud anda ?? "


" Gista Nur Aprilia , wanita yang sudah mencintaimu dengan seluruh jiwa dan raganya . Wanita yang sudah merelakan hidupnya hanya untuk mengabdi pada keluargamu , mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk kebahagiaanmu karena dia tahu surganya ada padamu . Dia adalah putriku yang hilang , Gista Nur Aprilia adalah Cahaya Cinta Wijaya !! Wanita yang pernah menjadi istrimu adalah putriku dan dia adalah tanggung jawabku sekarang "


" A-apa ... tidak mungkin !! Jadi anda .... "

__ADS_1


__ADS_2