Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
41


__ADS_3

" Bram !!?? "


" K-kau ..... "


" Bagaimana kabarmu ? Kudengar kau pergi dari kosan dengan tiba tiba ! " tanya Gista yang sama sekali tak ditanggapi oleh lawan bicaranya .


Vina melihat dengan heran interaksi dua orang disampingnya , sepertinya mantan kakak iparnya mengenal sosok pria yang sesaat tadi sempat menyerap seluruh perhatiannya karena wajah tampan dan tubuh kekarnya . Sosok pria yang sempurna menurutnya .


" Kak Gista mengenalnya !? "


" Tidak , aku tidak mengenalnya ... " ketus Bram sebelum Gista sempat menjawab pertanyaan Vina .


Entah kenapa tapi Vina bernafas dengan lega setidaknya pria itu tidak mengenal Gista , lagipula dia bisa melihat jika pria di depannya seumuran dengannya . Tidak mungkin pria tampan itu tertarik pada kakak iparnya yang umurnya lebih tua , apalagi sudah akan resmi menyandang status janda . Vina tahu pengacara pribadi mereka sedang mengurus perceraian kakaknya karena kemarin pengacara itu sempat datang ke rumah mereka .


Tadi ketika tidak sengaja bertemu di minimarket Vina sengaja mengajak Gista untuk makan karena ingin berbicara empat mata . Dia hanya ingin minta maaf atas kelakuannya yang selama ini sangat kekanakan . Mungkin karena sudah lama Gista yang mengurusnya ia menjadi lebih nyaman untuk meminta apapun pada kakak iparnya , bukan pada ibunya . Rasa irinya ketika melihat cinta di mata Gibran juga membuatnya bertekad untuk membuat kakaknya membenci istrinya . Vina ingin kasih sayang Gibran hanya untuknya . Tanpa ia sadari dia sendiri yang menciptakan penderitaan untuk kakaknya . Perpisahan ini seperti neraka untuk Gibran .


Sedang Gista masih tetap tenang mendengar penolakan itu , ia tahu Bram sangat membencinya dengan alasan yang menurutnya tidak masuk akal . Bisa bisanya pria muda itu menganggap Pak Alif adalah sugar Daddynya , dan entah siapa lagi yang sudah ia tuduh berkencan dengannya .


" Hai aku Vina dan ini .... "


" Sayang ??!! "


Suara seorang pria membuat mereka menoleh , tampak seorang pria dengan masih mengenakan pakaian formalnya berjalan tergesa ke arah mereka . Dan betapa terkejutnya mereka ketika pria itu menghampiri Gista dan mencium keningnya sekilas ...


" Masss .... " lirih Gista dengan dua tangan menahan tubuh Gibran agar menjauh darinya , mantan suaminya belum bisa menghilangkan kebiasaannya yang akan mencium keningnya ketika bertemu . Gibran seperti tidak mengingat proses perceraian mereka yang sedang berjalan .

__ADS_1


" Kak Gibran !! " Vina terlihat memperingatkan , Gista bukan wanita yang halal untuk kakaknya lagi .


" Ehh maaf ... aku lupa ! " kata Gibran menggaruk tengkuknya yang tidak gatal , ia terlalu antusias untuk makan bersama wanita yang masih ia cintai hingga melupakan status mereka kini .


Pria itu kemudian duduk disamping pria muda yang memandangnya dengan sinis . Hati Bram terasa panas melihat sebuah adegan mesra yang tak sengaja ia lihat tadi . Dia mengira Gista sengaja memamerkan kemesraan didepannya agar dia bisa segera pergi dari tempat itu .


Tapi tidak , Bram akan menunjukkan pada wanita itu jika dia tak akan terpengaruh dengan kelakuan kelakuan Gista yang menurutnya menjijikkan . Dia tak sempat memperhatikan jika mata gadis muda di samping Gista tak pernah lepas memandangnya .


Tak lama kemudian pesanan mereka datang , aroma gurih dari semangkuk bakso mampu menggugah selera mereka .


" Lhohh Kak Gibran kok minumnya teh anget sih !? Mana enak ... habis makan bakso panas begini ya enaknya minum es teh, " celetuk Vina ketika melihat pelayan mengantar pesanan minumannya .


" Kakak cuma mau nurut sama orang yang sudah telanjur pergi ... " jawab Gibran menyeruput teh hangatnya sebelum menyendok baksonya . Rasa penat yang dirasakannya seketika hilang ketika air hangat itu mengalir di tenggorokannya .


" Bukan pergi Mas ... tapi disuruh pergi, " ujar Gista sambil menarik nampan berisi sambal , saos dan kecap untuk meramu baksonya .


" Massssss... jangan mulai deh !! Kembalikan mangkuk sambelnya ! "


" Kan aku sudah nurut , gantian kamu sekarang yang nurut ... berkali kali aku bilang tidak baik makan makanan yang terlalu pedas , " kata Gibran yang malah menaruh mangkuk sambal di depan Bram .


Dengan tenangnya Bram mengambil satu sendok penuh sambal dan menaruhnya di mangkuk Gista , dan Gibran yang melihat itu langsung merah padam . Seorang pria asing telah memberikan perhatian pada wanita yang sampai saat ini masih menguasai hatinya .


BRAKKKKK ...


" Lancang ... !! " pekik Gibran yang langsung membuat semua pengunjung terdiam . Gista dan Vina pun sampai terlonjak kaget dibuatnya . Tak pernah Gibran murka di depan umum seperti ini .

__ADS_1


" Aku hanya memberikan apa maunya agar kalian tidak lagi mengumbar adegan menjijikan lagi di depanku . Kalian lihat disini banyak orang kan ?? Jadi jangan pamer kemesraan disini, " ujar Bram dengan tenang sambil memakan baksonya .


Gibran berdiri dan menyambar kerah Bram hingga pria muda itu terpaksa melepas sendoknya .


" Jaga bicaramu .... " hardik Gibran dengan mata menatap tajam pria muda yang baru kali ini dia lihat .


" Memang apa yang salah ?? Dia hanya wanita sewaanmu tapi kau memperlakukan dia seolah olah dia segalanya untukmu . Atau dia memang sudah terbiasa diratukan oleh semua pria yang menginginkan tubuhnya ... "


BUGGHHHH ....


" B*jingan !!! Tutup mulutmu brengsek ... selama palu belum diketuk maka sampai saat itu dia masih menjadi istriku !!! Dia istriku !!! "


" A-apa ... tidak mungkin, "


Gista dan Vina menarik tubuh Gibran yang seperti kesetanan akan memukul kembali Bram yang masih berdiri terpaku didepannya .


" Sudah Massss !! Vina bawa kakakmu pergi ke mobilnya ... nanti Embak kesana ! " kata Gista menghalangi tubuh Gibran yang masih saja ingin merangsek maju .


" Ayo Kak , kita pulang ... jangan sampai ada media meliput ini ! "


Dengan terpaksa Gibran menuruti adiknya untuk melangkah keluar . Sementara Gista melangkah mendekati Bram yang terpaku melihatnya .


" Apa salah jika aku masih menjalin silaturahmi dengannya ?? Aku bukan lagi istrinya ... tapi bukan berarti kami tidak bisa berteman dan berhubungan baik . Aku tidak tahu apa aku pernah berbuat salah padamu , tapi aku bisa merasakan kebencianmu padaku . Aku tahu aku tidak bisa memaksakan orang untuk suka padaku , tapi aku mohon jaga sikap dan bicaramu jika di depan umum seperti ini ... "


Setelah berkata seperti itu Gista segera pergi menuju parkiran , dia ingin mengatakan pada Gibran untuk tidak memperpanjang masalah ini . Lima tahun ia hidup dengannya , ia tahu pria itu akan terus mengingat orang orang yang sudah menyakitinya atau keluarganya . Dan Gista yakin kekuatan dan kekuasaan Gibran mungkin akan bisa membuat Bram celaka .

__ADS_1


~ Mas Gibran ngarep banget ... Sampai palu di bawa bawa , Mbak Gista sudah bukan siapa siapa lagi bagimu!! Pake ngaku ngaku masih jadi suami 🤣🤣🤣 Goyang jempol , vote n comennya ya pemirsaahhh ❤️❤️❤️~


__ADS_2