Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
14


__ADS_3

Paginya Gista pergi ke pangkalan ojek untuk mencari Bram sekaligus untuk minta tolong mengantarkannya kembali ke kota . Dia bermaksud melamar pekerjaan di kantor Lena Wijaya , wanita yang kemarin menolong dan menawarinya pekerjaan .


Dari jauh Gista bisa melihat pria muda itu sedang duduk di atas motornya . Sepertinya sedang berbincang dengan teman teman tukang ojek yang lain .


" Bram .... "


Suara lembut itu sontak menjadi pusat perhatian pria pria yang ada di tempat itu . Bram berdehem keras ketika melihat semua mata adam menatap kagum wanita yang baru saja memanggilnya . Entah kenapa tapi ia tidak rela jika wajah itu menjadi objek fantasi liar teman temannya .


" Selamat pagi Mbak Gista ... " kompak para tukang ojek menyapa bidadari yang lewat di depan mereka .


" Selamat pagi semua ... " jawab Gista mencoba ramah . Dia akan bersikap baik jika pria pria itu juga bisa menjaga sikapnya .


Gista tetap berjalan ke arah motor Bram karena pria itu terlihat terlalu cuek dengannya . Dia punya hutang yang belum di bayar hingga mau tidak mau ia memang harus bicara dengan pria muda itu tentang ongkos yang harus di bayarkan ketika kemarin mengantarnya ke kota .


" Kenapa kemarin langsung pergi ?? Aku kan belum kasih kamu ongkos . Yang kemarin berapa ?? Ehmmm kalau pagi ini aku minta tolong lagi di antar ke kota bisa !? "


" Aku tidak minta bayaran "


" Jangan begitu , malah aku yang jadi tidak enak ! Kalau yang kemarin bayar kan aku jadi enak mau minta tolong lagi . Hari ini aku mau intervew , insyaallah dapat pekerjaan "


" Bukan urusanku ... "


Gista menghela nafasnya , ternyata pria muda itu memang bukan pria yang ramah . Sepertinya hari ini ia harus memakai jasa ojek yang lain walau sebenarnya ia lebih nyaman dengan Bram karena laki laki muda itu sangat dekat dengan Jarwo . Suami dari mantan asisten rumah tangga yang bersikap sangat ramah padanya .

__ADS_1


" Kalau dia nggak mau nganter bisa sama saya kok Mbak ... " salah satu tukang ojek menyeletuk dengan mengacungkan jari tangannya .


Gista memandang ke arah tukang ojek yang tadi menawarkan jasanya , sepertinya mau tidak mau hari ini ia harus memakai tukang ojek yang lain . Dia harus secepatnya mendapat pekerjaan agar bisa bertahan hidup .


" Ya sudah , saya minta tolong antarkan saya ke alamat ini .... " Gista mengambil sesuatu dari tasnya dan akan di berikan pada tukang ojek yang tadi ingin mengantarkannya .


Tapi ia kaget ketika sebuah tangan kekar menyambar kartu nama yang dipegangnya . Bram sudah menstater motor maticnya dan berhenti tepat disampingnya .


" Naik !!! "


" Tapi kan ..... "


" Naik saja !! Jangan membantah !! Nanti sekalian aku hitung hutangmu "


Gista lega ketika Bram menghentikan motornya di area parkir sebuah gedung . Wanita itu berpikir mungkin inilah gedung perkantoran milik Lena Wijaya .


" Kau lihat gedung tingkat tiga yang terlihat lebih megah dari gedung lainnnya itu ?? ltu gedung Wijaya " tunjuk Bram pada gedung yang terletak tak jauh dari area parkir tempat mereka berhenti sekarang .


" Lhohh kok berhentinya disini sih !! Kok nggak disana sekalian " protes Gista yang merasa akan memakan waktu jika harus berjalan lagi .


" Kau sendiri yang bilang jika kita akan hitung hitungan ongkos kemarin ..Jika kita parkir di depan gedung itu bisa bisa kita berdua diseret satpam . Area perkantoran itu adalah area sibuk ! "


" Ooooo .... iya ya " kata Gista manggut manggut .

__ADS_1


Bram memalingkan wajahnya , pria itu tak mau lebih lama menatap wajah menggemaskan itu . Dia tak mau jatuh pada pesona wanita cantik seperti Gista karena menurutnya semua wanita cantik hanya mengincar harta pria yang mengejar mereka . Para wanita seperti itu hanya akan bisa mencintai para pria kaya untuk diperas hartanya .


Apalagi dia mendengar Gista adalah seorang janda yang baru saja di cerai oleh suaminya . Bram berpikir jika Gista pasti seperti.Rachel , mungkin suaminya sudah membongkar kedoknya yang hanya berpura pura menjadi istri yang baik agar bisa menikmati lebih lama lagi kekayaannya .


Dan sekarang Gista berusaha keras mencari pekerjaan hanya untuk menjerat atasannya . Tapi sepertinya wanita itu akan salah sasaran karena ia tahu benar jika Wijaya dipimpin oleh seorang wanita yang sangat di kenalnya .


" Jadi ongkosnya berapa ?? "


" Sepuluh ribu " jawab Bram singkat ketika wanita itu bertanya padanya .


" Berapa !!? Masa hanya sepuluh ribu ?? Mana bisa begitu , kamu bisa rugi jika begitu !! "


" Ini motorku jadi terserah aku berapa aku meminta ongkos pelangganku !! " kukuh Bram tak mau mengalah .


" Tapi .... "


" Jangan membuang buang waktuku ! Aku tidak akan memaksa jika kau masih tidak mau membayar ongkosnya " kata Bram mulai menstater motornya , pertanda ia ingin segera pergi dari tempat itu .


" Ehh tunggu ... ini sepuluh ribunya !! "


Gista cepat cepat mengambil dompet untuk mengambil uangnya dan ia serahkan pada pria muda yang keras kepala itu .


Berkali kali ia menghela nafas ketika melihat punggung pemuda yang mulai menjauh darinya . Kemudian dilihatnya Gedung megah diseberang jalan yang bertuliskan Wijaya Group , dia berdoa dalam hati semoga di tempat itu dia bisa memulai pekerjaan barunya .

__ADS_1


Mulai hari ini ia akan menata hidup dan masa depannya lagi . Dan jauh di lubuk hatinya ia juga berdoa semoga Gibran dan seluruh keluarganya juga bisa meneruskan hidup mereka dengan baik .


__ADS_2