
" Kita makan disini Kak ?? " tanya Vina ketika dia dan ' kekasih baru' nya itu berhenti disebuah warung kecil yang ada di jalan kampung yang letaknya tidak begitu jauh dari kampus .
" Kamu tadi minta makan nasi uduk kan ? Disini menyediakan makanan yang kau inginkan , turun .... "
" Ehh iya maaf ... " Vina buru buru turun dari motor Martin dan menyerahkan helm pria itu yang tadi dipakaikan untuknya . Setelah meletakkan motornya Martin kembali meraih tangan Vina dan membawanya masuk warung . Vina tampak memperhatikan seluruh sudut warung , ternyata walaupun warung kampung tapi di dalamnya sangat bersih dan nyaman .
" Ayo duduk ! "
Baru kali ini dia makan di warung lesehan , duduk diatas tikar yang digelar diatas lantai . Vina sedang berpikir bagaimana mereka bisa makan jika tak ada satupun meja atau alat makan yang tersedia . Dan tak ada satupun pelayan yang mendekat pada mereka untuk mencatat pesanan . Tapi ia tiba tiba berjingkat ketika mendengar suara Martin yang cukup keras .
" Bu nasi uduk dua sama es jeruknya dua ! "
" Nggih Mas Martin ! Sama gorengan enggak !? " tanya seorang wanita parubaya yang sepertinya adalah pemilik warung .
" Nggak usah , tapi telor suwirnya dibanyakin seperti biasa ! "
" Siap ! "
__ADS_1
Martin terkekeh ketika melihat Vina yang masih bingung dengan situasi warung yang memang sangat sederhana itu . Pria itu tahu mungkin baru kali ini Vina memasuki warung seperti ini .
" Baru pertama masuk warung seperti ini !? "
" I-iya .... " jawab Vina gugup , dulu kakak iparnya sering membuat masakan itu untuk sarapan keluarganya . Dan itu menjadi menu sarapan favoritnya , tapi sayang setelah Cahaya pergi menu itu susah tidak pernah ada lagi karena membuat nasi uduk memerlukan waktu yang cukup lama hingga lnem tidak cukup waktu untuk membuatnya .
Ketika pesanan datang Vina masih diam tak menyentuhnya , dia terlebih dahulu melihat cara makan Martin . Pria itu mengangkat piring dengan tangan kiri dan kemudian mulai menyendok makanannya .
" Kenapa tidak dimakan ?? Tenang saja walau warung ini sederhana tapi bersih , hampir tiap hari aku makan disini, " kata Martin yang masih melihat Vina menatap makanan di depannya . Tempat kosnya ada di kampung ini jadi sang pemilik warung sudah tidak asing dengannya .
Tapi Vina terkejut ketika Martin meraih piring yang dipegangnya dan menurunkannya di atas tikar . Vina hanya memegang pinggiran piringnya dan bukan menahan alasnya , jadi kemungkinan piringnya akan mudah jatuh .
" Bisa jatuh makanannya kalau kamu cara pegang piringnya seperti itu . Buka mulutmu ... "
" Tidak mau !! " sahut Vina spontan ketika tahu maksud pria tampan didepannya ingin menyuapinya .
" Kau tak mau makan ? Atau kau ingin bertukar saliva denganku saja Nona !? Aku tidak akan keberatan dengan itu. "
__ADS_1
" Tapi aku bisa makan sendiri Kak , memangnya aku bayi yang harus disuapi !? "
" Kau bukan bayi tapi kau pacarku , jadi aku punya hak untuk menyuapimu ! Apa susahnya membuka mulut !? Pantas saja cara menciummu masih sangat kaku waktu itu ... ehhmmmmpptt !! " Vina membungkam mulut Martin dengan satu tangannya , dia tak menyangka pria galak dan dingin itu akan sefrontal ini cara bicaranya .
Buru buru Vina meminum es jeruknya agar pikirannya dingin , bicara dengan pria tampan disampingnya selalu saja menguji emosinya .
" Sejak kapan aku bilang jika setuju pacaran dengan Kak Martin ?? Jangan seenaknya mengklaim seseorang menjadi milikmu jika kau belum menanyakan pada orang yang bersangkutan mau apa tidak . Kak Martin belum mengenalku .... aku juga belum mengenal lebih jauh pribadi Kak Martin ! " ketus Vina dengan tatapan sebal pada pria pemaksa itu . Walau sebenarnya dia adalah salah satu pengagum ketua mahawasiswa yang tampan itu , tapi dia tak pernah membayangkan jika akan menjadi pacar Martin seperti ini .
" Bukannya pacaran itu untuk mengenal lebih jauh pribadi masing masing ?? Kalau kita sudah saling mengenal kan tinggal proses meridnya ! "
" Merid ?? Maksud Kak Martin menikah ?? "
" Tentu saja bukannya semua kisah pacaran akan berujung dalam sebuah pernikahan ?? Tenang saja aku memang bukan pria kaya raya tapi aku sudah punya usaha sendiri untuk bisa menghidupimu . Aku akan bekerja keras untuk menghidupimu dan anak anak kita nanti ! "
" Ya Tuhan ... " lirih Vina yang tak habis pikir sudah sejauh itu Martin berpikir tentang hubungan mereka . Gadis itu segera meraih sendok dan mulai makan nasi uduk di depannya . Sepertinya akan butuh energi yang lebih banyak untuk menghadapi pria gila disampingnya ini . Tak ia pedulikan cara Martin melihat cara makannya yang mungkin menurutnya aneh , yang penting sekarang adalah perutnya kenyang dan segera kembali ke kampus .
Walau Vina tahu Sherly akan memberinya seribu pertanyaan tentang kabar kedekatannya dengan ketua mahasiswa idola kampus . Hari ini benar benar akan menjadi hari yang sangat melelahkan untuknya .
__ADS_1