Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
103


__ADS_3

" Kita makan disini Kak ?? " tanya Vina ketika dia dan ' kekasih baru' nya itu berhenti disebuah warung kecil yang ada di jalan kampung yang letaknya tidak begitu jauh dari kampus .


" Kamu tadi minta makan nasi uduk kan ? Disini menyediakan makanan yang kau inginkan , turun .... "


" Ehh iya maaf ... " Vina buru buru turun dari motor Martin dan menyerahkan helm pria itu yang tadi dipakaikan untuknya . Setelah meletakkan motornya Martin kembali meraih tangan Vina dan membawanya masuk warung . Vina tampak memperhatikan seluruh sudut warung , ternyata walaupun warung kampung tapi di dalamnya sangat bersih dan nyaman .


" Ayo duduk ! "


Baru kali ini dia makan di warung lesehan , duduk diatas tikar yang digelar diatas lantai . Vina sedang berpikir bagaimana mereka bisa makan jika tak ada satupun meja atau alat makan yang tersedia . Dan tak ada satupun pelayan yang mendekat pada mereka untuk mencatat pesanan . Tapi ia tiba tiba berjingkat ketika mendengar suara Martin yang cukup keras .


" Bu nasi uduk dua sama es jeruknya dua ! "


" Nggih Mas Martin ! Sama gorengan enggak !? " tanya seorang wanita parubaya yang sepertinya adalah pemilik warung .


" Nggak usah , tapi telor suwirnya dibanyakin seperti biasa ! "


" Siap ! "

__ADS_1


Martin terkekeh ketika melihat Vina yang masih bingung dengan situasi warung yang memang sangat sederhana itu . Pria itu tahu mungkin baru kali ini Vina memasuki warung seperti ini .


" Baru pertama masuk warung seperti ini !? "


" I-iya .... " jawab Vina gugup , dulu kakak iparnya sering membuat masakan itu untuk sarapan keluarganya . Dan itu menjadi menu sarapan favoritnya , tapi sayang setelah Cahaya pergi menu itu susah tidak pernah ada lagi karena membuat nasi uduk memerlukan waktu yang cukup lama hingga lnem tidak cukup waktu untuk membuatnya .


Ketika pesanan datang Vina masih diam tak menyentuhnya , dia terlebih dahulu melihat cara makan Martin . Pria itu mengangkat piring dengan tangan kiri dan kemudian mulai menyendok makanannya .


" Kenapa tidak dimakan ?? Tenang saja walau warung ini sederhana tapi bersih , hampir tiap hari aku makan disini, " kata Martin yang masih melihat Vina menatap makanan di depannya . Tempat kosnya ada di kampung ini jadi sang pemilik warung sudah tidak asing dengannya .


Tapi Vina terkejut ketika Martin meraih piring yang dipegangnya dan menurunkannya di atas tikar . Vina hanya memegang pinggiran piringnya dan bukan menahan alasnya , jadi kemungkinan piringnya akan mudah jatuh .


" Bisa jatuh makanannya kalau kamu cara pegang piringnya seperti itu . Buka mulutmu ... "


" Tidak mau !! " sahut Vina spontan ketika tahu maksud pria tampan didepannya ingin menyuapinya .


" Kau tak mau makan ? Atau kau ingin bertukar saliva denganku saja Nona !? Aku tidak akan keberatan dengan itu. "

__ADS_1


" Tapi aku bisa makan sendiri Kak , memangnya aku bayi yang harus disuapi !? "


" Kau bukan bayi tapi kau pacarku , jadi aku punya hak untuk menyuapimu ! Apa susahnya membuka mulut !? Pantas saja cara menciummu masih sangat kaku waktu itu ... ehhmmmmpptt !! " Vina membungkam mulut Martin dengan satu tangannya , dia tak menyangka pria galak dan dingin itu akan sefrontal ini cara bicaranya .


Buru buru Vina meminum es jeruknya agar pikirannya dingin , bicara dengan pria tampan disampingnya selalu saja menguji emosinya .


" Sejak kapan aku bilang jika setuju pacaran dengan Kak Martin ?? Jangan seenaknya mengklaim seseorang menjadi milikmu jika kau belum menanyakan pada orang yang bersangkutan mau apa tidak . Kak Martin belum mengenalku .... aku juga belum mengenal lebih jauh pribadi Kak Martin ! " ketus Vina dengan tatapan sebal pada pria pemaksa itu . Walau sebenarnya dia adalah salah satu pengagum ketua mahawasiswa yang tampan itu , tapi dia tak pernah membayangkan jika akan menjadi pacar Martin seperti ini .


" Bukannya pacaran itu untuk mengenal lebih jauh pribadi masing masing ?? Kalau kita sudah saling mengenal kan tinggal proses meridnya ! "


" Merid ?? Maksud Kak Martin menikah ?? "


" Tentu saja bukannya semua kisah pacaran akan berujung dalam sebuah pernikahan ?? Tenang saja aku memang bukan pria kaya raya tapi aku sudah punya usaha sendiri untuk bisa menghidupimu . Aku akan bekerja keras untuk menghidupimu dan anak anak kita nanti ! "


" Ya Tuhan ... " lirih Vina yang tak habis pikir sudah sejauh itu Martin berpikir tentang hubungan mereka . Gadis itu segera meraih sendok dan mulai makan nasi uduk di depannya . Sepertinya akan butuh energi yang lebih banyak untuk menghadapi pria gila disampingnya ini . Tak ia pedulikan cara Martin melihat cara makannya yang mungkin menurutnya aneh , yang penting sekarang adalah perutnya kenyang dan segera kembali ke kampus .


Walau Vina tahu Sherly akan memberinya seribu pertanyaan tentang kabar kedekatannya dengan ketua mahasiswa idola kampus . Hari ini benar benar akan menjadi hari yang sangat melelahkan untuknya .

__ADS_1


__ADS_2