
" Ada yang tidak di mengerti lagi Nona !? " tanya pak Alif yang baru saja menjelaskan tentang sesuatu yang berhubungan dengan neraca keuntungan perusahaan pada Gista .
Saat ini Gista sedang duduk dengan tatapan fokus pada layar komputer yang ada di depannya . Mulai pagi tadi kantornya ada di ruangan utama CEO , meja kerjanya tepat bersebelahan dengan meja Lena Wijaya .
Pak Alif yang kini mengajarinya karena Lena Wijaya sedang pergi ke luar kota sehubungan dengan pembukaan butik baru miliknya . Gista beruntung mempunyai otak yang cepat menangkap semua penjelasan yang di berikan mentornya itu dan kebetulan dulu ia adalah lulusan S1 Manajemen hingga tidak asing lagi dengan angka dan neraca .
" Saya akan coba kerjakan semua berkas ini , tapi tetap saja nanti Pak Alif lihat lagi . Dan beritahu jika saya salah. "
" Baik Nona, " jawab Pak Alif dengan ramah .
Tapi sejurus kemudian perhatian mereka beralih pada seseorang yang mengetuk pintu ruangan . Seorang pria sedang berdiri dengan membawa map , sepertinya ia ingin melaporkan sesuatu .
" Silahkan masuk Pak Hendarto , apa laporan keuangan sebulan terakhir yang diminta Nyonya sudah selesai ?! " tanya Pak Alif ketika pria bernama Hendarto itu sudah masuk ke dalam .
" Semua yang diminta Nyonya Lena ada di map ini Tuan " jawab Hendarto dengan menyerahkan map itu kepada Pak Alif .
" Sesuai dengan perintah Nyonya , mulai sekarang semua laporan semua divisi ditangani sendiri oleh Nona Gista, "
" Nona Gista ?? "
" Dia Nona Gista .... " tunjuk Pak Alif pada Gista yang masih duduk fokus dengan pekerjaannya .
Gista yang merasa namanya dipanggil langsung berdiri dengan sikap kikuk , dia tahu ada tatapan meremehkan dari kepala divisi keuangan bernama Hendarto itu .
" Saya Gista , mohon bimbingan Pak Hendarto untuk ke depannya, " ujar Gista mencoba beramah tamah .
" Saya Hendarto , kepala divisi keuangan . Semoga ke depannya kita bisa bekerjasama dengan baik " sahut pria bernama Hendarto itu dengan menunduk hormat , tatapan tajam dari Pak Alif seakan memintanya untuk menghormati wanita muda di depannya . Hendarto merasa wanita muda bernama Gista itu bukan orang sembarangan .
__ADS_1
Ketika pria bernama Hendarto itu sudah keluar ruangan , Pak Alif menghampiri Gista yang sudah kembali duduk di kursinya .
" Lain kali saya harap Nona tidak menundukkan kepala jika ada di depan bawahan . Nona adalah tangan kanan Nyonya Besar , itu artinya kedudukan Nona sama dengan beliau, "
" Tapi saya .... "
" ltu aturan pertama yang harus Nona mengerti , saya permisi ... "
Gista menggaruk tengkuknya , ia tak mengerti dengan perkataan Pak Alif yang menyatakan bahwa kedudukannya sama dengan pemilik Wijaya Group ini . Dia bukan siapa siapa , dia hanyalah wanita yang kebetulan bertemu dan ditolong oleh wanita kaya raya yang baik hati itu .
TINGGGGGG ...
Lamunannya buyar ketika mendengar notif pesan dari ponselnya . Matanya mengernyit ketika melihat nama pengirim pesan di layar pipihnya .
Bisakah aku bertemu denganmu ?? Aku ingin bicara ....
*
Sementara itu seorang pria sedang menunggu balasan pesan yang barusan ia kirimkan . Gibran memutuskan untuk bertemu dengan mantan istrinya , bukan bermaksud apa apa tapi dia hanya ingin meminta maaf karena keputusannya yang terlalu gegabah untuk memberikan talak tiga pada Gista . Gibran tahu akan sangat sulit untuk baginya untuk mengembalikan Gista pada posisinya semula .
Setelah menunggu beberapa lama dan pesannya tak kunjung berbalas akhirnya Gibran keluar dari kamarnya .
" Gibran kau sudah bangun Nak ?? Ayo makan dulu , tadi kau melewatkan makan siangmu . Ibu sudah memasak banyak untukmu gurame asam pedas , ayam penyet sambel ijo , udang goreng tepung dan sayur asem kesukaanmu " ujar Sofi yang langsung mendapat tatapan malas dari anak bungsunya .
Vina hanya bisa mencibir dalam hatinya , uang enam ratus ribu harus ia gelontorkan hanya untuk membeli makan siang kali ini . Sejak Gista menjadi menantu di rumah ini Sofi sama sekali tidak pernah memegang penggorengan sekalipun . Gista yang selalu menyiapkan semua untuk mereka .
" Ibu yang masak ?? "
__ADS_1
" Tentu saja , sengaja lbu masak spesial untukmu Nak. "
Gibran makan dengan tenang , semua yang ada di depannya adalah masakan kesukaannya . Tapi entah lidahnya tak tidak bisa menikmat semua itu , seperti ada yang kurang dalam setiap masakan yang ia makan .
" Kok sedikit sekali makannya ?? Apa tidak enak !? " tanya Sofi yang melihat Gibran tidak menikmati semua masakan yang sebenarnya ia pesan dari restoran .
" Enak sekali Bu , mungkin Gibran masih lelah jadi belum bisa menikmati semua ini . Maaf ! "
" Tidak apa apa , ngomong ngomong lbu mau membicarakan sesuatu yang penting padamu . Karena Gista sudah tidak ada disini lagi lbu mau bertanya soal keuangan rumah ini . Maaf bukan lbu bermaksud lancang , tapi hal ini sangat penting. "
" Gibran mengerti , itu kenapa Gibran langsung mentransfer uang seratus juta pada lbu . ltu sama besarnya dengan uang bulanan yang Gibran berikan pada Gista. "
" Seratus juta ?? Hanya seratus juta ? "
" Maksud Ibu !? " tanya Gibran yang melihat raut kaget di wajah ibunya .
" Bukannya kamu kasih istri kamu uang bulanan dua kali lipat dari yang kau kirim pada lbu !? Sepertinya istrimu itu selalu menghambur hamburkan uang untuk membeli sesuatu yang tidak jelas "
Gibran menghela nafasnya , ia sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun kali ini .
" Berapa yang lbu minta !? "
" Ehhh ... bukan itu maksud lbu . Tunggu , tapi lbu memang sedang sangat butuh . Uang uang kau transfer kemarin sudah ibu gunakan untuk keperluan rumah ini dari bayar listrik sampai bayar satpam dan lnem . Vina juga ada kegiatan kampus yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit . Seratus juta lagi lbu rasa cukup ... "
Gibran memejamkan matanya , ia tahu Gista sudah membayar semua yang disebutkan lbunya sebelum mantan istrinya keluar dari rumah ini .
" Sudah Gibran kirim .... " ujar Gibran setelah mentransfer uang yang di minta ibunya . Pria itu beranjak dari duduknya menuju garasi , sepertinya ia butuh suasana segar yang mampu menenangkan hatinya
__ADS_1