Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
5


__ADS_3

" Tunggu Mas , sebelum pergi ijinkan aku mencium tanganmu dan ibu . Seperti yang biasa aku lakukan jika kalian akan pergi . Aku juga minta maaf pada kalian , maaf jika aku tidak belum menjadi istri yang sempurna untukmu . Jaga ibu dan Vina baik baik , mungkin besok aku sudah bisa pergi dari sini Mas "


Gista meraih tangan Gibran untuk di bawa ke keningnya , begitupun yang ia lakukan pada Sofi . Mungkin ini terakhir kalinya ia dalam takzim pada suami dan mertuanya .


Gibran tak berkata sepatah katapun , walau tekadnya sudah bulat untuk bercerai tapi hatinya nyeri ketika punggung tangannya menyentuh kening Gista . Gibran segera pergi dari tempat itu sebelum Gista bisa melihat air mata yang nyaris keluar dari sudut matanya . Pria itu tidak mau terlihat lemah .


Setelah kepergian mereka Gista duduk di sofa ruang tamunya , seakan masih tak percaya jika semua ini menimpa padanya . Baru tadi pagi ia masih menyiapkan sarapan untuk suaminya , tapi mulai detik ini dia sudah menyandang gelar janda . Semudah ini Gibran menceraikannya tanpa bertanya terlebih dulu apa yang sebenarnya terjadi .


" Aku harus kuat ya Allah .... "


Berulang ulang kata kata itu ia ucapkan , dia sedang meyakinkan dirinya sendiri jika harus bisa menjalani semua ini dengan ikhlas . Gista percaya Allah sudah mempunyai rencana terbaik untuknya .


Dilihatnya setiap sudut rumah yang selama ini menyimpan banyak kenangan untuknya . Besok mungkin dia sudah ada di tempat yang baru , entah dimana karena ia belum punya rencana sedikitpun .


" Mbak lnem kok berdiri saja disitu , sini Mbak ! Udah selesai gosoknya ? "


Wanita yang sudah menjadi asisten rumah tangga di keluarga Gibran selama sepuluh tahun itu mendekat dengan kepala tertunduk . lnem sudah mendengar semuanya , bagaimana nyonya rumah ini di fitnah oleh mertua dan adik iparnya dan bagaimana dengan mudahnya tuannya menceraikannya .

__ADS_1


" Nyonya Gista ... yang sabar ya , maaf tapi saya tadi tidak sengaja mendengar semuanya . Maaf jika saya tidak bisa menolong Nyonya tadi "


" Tidak apa apa Mbak , semua sudah terjadi . Jangan nangis dong ... " ujar Gista tersenyum lebar ketika wanita yang lebih tua darinya itu menangis sesenggukan di depannya .


Lima tahun menjadikan hubungan mereka menjadi dekat . Gista sering mencurahkan semua uneg uneg hatinya hanya pada asisten rumah tangganya itu karena ia percaya lnem adalah orang yang bisa dia percaya .


Begitupun lnem yang sangat menghargai Gista . Walaupun kaya raya tapi Gista bukan Nyonya rumah yang sombong dan arogan , seperti yang dirasakannya ketika menghadapi Sofi dan Vina . Bahkan Gista mengerjakan semua pekerjaan rumah yang memang bisa di kerjakannya sendiri .


" Terus Nyonya mau tinggal di mana ?? Kan Nyonya tidak punya siapa siapa lagi "


Gista bicara seperti itu agar setidaknya bisa menjaga nama Gibran .


" lnem kok nggak yakin Nyonya bakal ambil itu .... "


Gista tertawa , ternyata lnem tahu jika ia memang tidak akan mengambil satupun properti yang ditawarkan oleh Gibran . Dia merasa itu bukanlah haknya .


" Saya ada rumah di pinggir kota jika Nyonya berkenan maka Nyonya bisa tinggal di sana . Itu rumah peninggalan orang tua saya , sejak saya ikut suami rumah itu di kontrak saudara dari kampung . Tapi sebulan yang lalu mereka sudah pindah karena sudah bisa beli rumah sendiri "

__ADS_1


" Alhamdulilah , biasanya mereka bayar perbulan atau pertahun Mbak !? " tanya Gista , ia lega akhirnya bisa menemukan tempat tinggal untuk sementara waktu .


" Nggak usah mikir bayaran dulu Nyonya ! Yang penting betah dulu , maklum kan rumahnya sederhana panas lagi ! Nggak kaya disini adem ... di mana mana ada AC "


" Dulu di panti satu kamar malah berempat atau berenam Mbak , kalau pengen adem jendelanya di buka " kenang Gista .


" Ya sudah jika begitu nanti saya bilang suami biar rumahnya di bersihin dulu . Besok saya bantu angkat angkatin barang . "


" Makasih Mbak , aku tidak tahu apa jadinya kalau tidak ada Mbak lnem "


" Sama sama Nyonya "


" Tapi ..... "


" Tenang saja , saya akan titip mulut soal ini . Saya juga tidak ingin mereka mengganggu Nyonya lagi "


Gista memeluk asisten rumah tangganya itu , dia bersyukur Allah memberikan pertolongan padanya lewat Mbak lnem . Sesuatu yang sama sekali tidak ia duga .

__ADS_1


__ADS_2