Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
86


__ADS_3

PLAKKKKKKKK ....


" DASAR BRENGSEEKKK !!!! "


Semua orang yang tersisa di aula dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita berpakaian seksi yang serta merta menampar pimpinan dari Bagaskara . Tak terkecuali termasuk Bram.dan Cahaya yang kebetulan masih di tempat itu mengobrol dengan salah satu timnya .


Gibran memegang pipi kanannya yang terasa panas karena tamparan yang dia terima . Dia menatap tajam wanita yang bahkan baru pertama ia lihat itu . Wanita dengan rambut warna merah gelap dengan pakaian seksi berbelahan dada rendah dipadu mini skirt yang memperlihatkan hampir seluruh paha putihnya .


" Siapa kau ??! " tanya Gibran penuh selidik .


" Aku hanyalah seorang wanita yang membenci pria pria bajingan sepertimu !! Pria yang tidak mau bertanggung jawab dengan kesalahannya . Gisella pendarahan pagi ini di rumah sakit dan ibumu adalah salah satu pemicunya !! Anakmu nyaris terbunuh karena ulah ibumu !!! " teriak wanita itu hingga membuat orang orang yang ada di dalam ruangan saling memandang penuh tanya .


" Jaga mulutmu !! Dia bukan anakku .... " geram Gibran , jika saja yang di depannya adalah seorang pria mungkin akan lebih mudah baginya menyelesaikannya . Tapi ia tak akan menyakiti fisik wanita apapun alasannya .

__ADS_1


" Kau satu satunya orang yang sudah menidurinya !! Kau menuduh perempuan berpenampilan berani seperti kami adalah perempuan gampangan . Kau kemanakan otakmu itu hahh !! Kau pikir kami tidak punya harga diri !!??? "


Cahaya dan beberapa wanita yang masih ada di tempat itu menghampiri wanita itu untuk sekedar menenangkannya .


" Kita sebaiknya duduk dulu Mbak , kita bicara baik baik " kata salah seorang tim mendorong kursi untuk tempat wanita itu duduk .


" Sahabat saya dan anaknya hampir kehilangan nyawa gara gara b*jingan itu !! Tidak apa apa jika memang tidak bertanggung jawab , sahabat saya sudah ikhlas ! Tapi ibunya menghina dia dan ibunya habis habisan !! lbu dan anak sama brengs*knya !! "


Gibran meraup kasar wajahnya , ibunya ternyata membuat ulah lagi . Dia tak menyangka jika dugaan Gisel benar , hubungan panas satu malam mereka akan menghasilkan benih di rahim wanita itu . Dulu mereka sudah membahasnya dan dia memang sempat menyangkalnya . Gibran berpikir tidak mungkin jika Gisel hamil karena selama lima tahun pernikahan saja dia belum juga diberi kepercayaan untuk memiliki keturunan , apalagi hanya percintaan semalam .


" Bukan urusanmu !! Nyonya Darsono tidak mengijinkan Gisella untuk berhubungan lagi dengan keluarga Bagaskara . Keluarga terpandang yang ternyata tidak punya attitude sama sekali !! Kalian bukan manusia ... " ujar wanita itu dengan air mata yang mulai luruh di kedua pipinya .


Disisi lain Bram merengkuh pinggang istrinya dan memberi isyarat untuk melangkah keluar . Bram berpikir semua yang terjadi di depannya bukan menjadi urusannya ataupun istrinya . Cahaya menuruti langkah kaki suaminya walau sebenarnya ia merasa simpati dengan peristiwa itu , tapi ia tak mau Bram salah paham dengan menilai simpatinya dengan mengira masih ada rasa yang tersisa di hatinya untuk mantan suaminya .

__ADS_1


" Sayang ... kau tidak marah bukan jika kita pergi dari tempat ini !? "


" Kenapa harus marah sih Bee ?? ltu memang bukan urusan kita, " sahut Cahaya dengan tersenyum.


" Kau dengar jika si brengsek itu sudah menghamili seorang wanita .... "


" Bee ... "


" Dia selalu membuatku emosi dengan mengatakan jika dia masih mencintaimu , tapi bisa bisanya dia menghamili wanita lain !! Benar benar b*jingan dia !! "


" Kita mau kembali ke kantor Bee ?? Tapi sepertinya ini bukan jalan kesana, " tanya Cahaya yang merasa Bram membawa mobilnya ke arah yang berbeda dengan arah perusahaan Sadewo . Dia sengaja ikut suaminya tadi karena di rumah pun dia akan sendirian . Sedang supir masih mengikuti mereka di belakang karena supir Cahaya tugasnya merangkap menjadi penjaganya .


" Cuma mengabulkan keinginanmu sayang , tadi sebelum makan siang kau bilang ingin memakan aku kan ?? Kita ke hotel terdekat , sore ini kau akan memakan aku sepuas hatimu. "

__ADS_1


" Ya Tuhan Bee , itu tadi kan ... "


Pipi Cahaya menjadi merah mendengar perkataan suaminya , padahal tadi ia berkata seperti itu untuk mengalihkan perhatian suaminya agar tidak terpancing kata kata provokasi dari Gibran . Sepertinya boomerang yang ia lempar malah berbalik ke arahnya .


__ADS_2