
Pulang kerja Gista langsung merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur lantai yang ada di kamarnya . Sejenak ia ingin melepas penat setelah seharian ini bertarung dengan angka angka .
TINNGGGG ....
Sebuah pesan lagi , dan Gista yakin itu dari mantan suaminya . Sudah seminggu ini Gibran mengirimi pesan , pria itu ingin bertemu dengannya . Bukan bermaksud mengabaikan tapi satu minggu ini benar benar melelahkan untuknya . Gista selalu membalas pesan itu jika mereka belum bisa bertemu karena Gista sedang sibuk dengan pekerjaannya .
Lena Wijaya dan Pak Alif benar benar menggemblengnya dengan keras seolah olah Wijaya Group itu akan menjadi miliknya . Padahal ia dulu mengira paling paling akan diterima menjadi OG di perusahaan besar itu , nyatanya ia ditempa keras untuk mempelajari semua hal tentang perusahaan .
Lena pernah menawarinya tinggal di apartemen tapi Gista menolaknya dengan halus . Wanita pemimpin Wijaya itu memberinya sebuah apartemen mewah dengan alasan untuk mempermudah akses Gista ke perusahaan . Menurutnya tempat tinggal Gista saat ini terlalu jauh dari perusahaan .
Dan Gista tidak menyangkal hal itu , tapi sepertinya tidak etis jika dia menerima sesuatu yang begitu mewah padahal dia belum mempunyai kontribusi apapun pada perusahaan . Dia memang berencana pindah setelah gaji pertamanya keluar . Gista akan menyewa rumah kontrak atau kosan yang lebih dekat dengan perusahaan . Dia pernah mendengar jika di kawasan tempatnya bekerja banyak rumah yang di sewakan .
Aku tahu kita sudah tidak punya hubungan tapi kau sendiri yang menulis dalam surat itu jika kita masih harus menjaga silaturahmi . Aku hanya ingin bertemu .... tidak lebih
Hufftt .... Gista melihat jam tangannya , masih sore . Sepertinya tidak apa apa jika dia keluar sebentar untuk menemui mantan suaminya itu . Siapa tahu memang ada hal penting yang harus mereka bicarakan , mungkin tentang proses perpisahan . Akhirnya ia membalas pesan itu ,
Kita bertemu di kafe XX jam 7 malam ini
Setelah itu Gista bergegas membersihkan dirinya dan bersiap , karena belum punya kendaraan sendiri maka wanita itu berjalan ke arah pangkalan ojek . Tapi matanya memicing ketika tak ada satupun orang di pangkalan ojek yang biasanya ramai itu .
Sepuluh menit ia menunggu taksi atau ojek yang lewat tapi jalan di area pasar sudah tidak begitu ramai . Tidak ada angkutan umum yang lewat .
__ADS_1
" Lhohh Mbak Gista sedang apa disini , sudah mau malam lho ini !! "
Tiba tiba saja Mak Sri sudah ada di depannya dengan mengendarai motor matic yang dimilikinya . Sepertinya wanita itu baru saja membeli lauk di penjual makanan yang berjejeran berjualan di pinggir pasar jika menjelang malam hari .
" Mau naik ojek tapi sepi banget Mak ! Niatnya mau keluar sebentar, " jawab Gista apa adanya .
Mak Sri melihat ke arah pangkalan ojek yang memang sangat sepi . Mereka tidak tahu jika Bram dan teman temannya sedang bersiap siap dengan pertempuran mereka malam ini .
" Lha pada kemana sih , biasanya jam segini masih rame, " gumam Mak Sri .
" Mbak Gista mau kemana ?? "
" Ehhmmm ... mau ke kafe Xx sebentar "
Gista berpikir sejenak , sepertinya hanya itu solusi terbaik saat ini . Kasihan jika Gibran sudah telanjur menunggu disana karena jam sudah menunjukkan angka mendekati jam tujuh sesuai janjinya .
" Tapi ... "
" Sudah nggak usah pakai mikir ! lni motor , helm dan kuncinya . STNK ada di dompet gantungan kunci motornya ! Saya jalan saja kerumah , sama cari angin, " ujar Mak Sri yang kemudian turun dari motor dan melepas helm untuk di berikan pada Gista .
" Makasih banget Mak , kalau nggak ada Emak pasti saya sudah bingung. "
__ADS_1
" Udah sana berangkat keburu malam , sama hati hati di jalan Mbak . Nggak usah ngebut ngebut kafenya nggak bakalan pindah kok !! "
Setelah itu Gista langsung melajukan motornya ke arah kafe , sepuluh menit kemudian ia tiba disana dan sudah melihat Gibran ada disana . Kebetulan pria itu memilih duduk di kursi yang ada diluar kafe hingga Gista dengan mudah bisa melihatnya.
" Assalamualaikum Mas Gibran .... "
Gibran langsung menoleh ketika mendengar suara yang sangat ia rindukan . Gista sudah berdiri di depannya dengan senyum manis seperti biasanya . Dulu ia menganggap senyum itu adalah hal yang biasa , tapi baru kali ini dia menyadari jika senyum itu begitu indah .
" Walaikumsalam , duduklah ... "
Ada rasa sakit ketika wanita itu tidak meraih tangan kanannya untuk dalam takzim seperti biasanya .
" Mas Gibran sehat ??! Bagaimana kabar lbu dan Vina ? "
Gibran menghela nafasnya , wanita yang sudah ia sakiti itu masih bisa menanyakan kesehatan dirinya dan keluarganya .
" Aku baik , begitu juga lbu dan Vina . Jika kau menerima uang yang aku berikan kau tak akan selelah ini . Aku mohon terima ini , ini adalah hakmu ! Dengan uang ini kau tidak perlu bekerja pada orang lain , kau bisa membuat usaha sendiri . Jika masih kurang aku akan memberikannya lagi, " ujar Gibran dengan meletakkan kartu berwarna emas yang biasa di pegang oleh mantan wanita halalnya .
" Di surat itu kan aku sudah katakan , aku sudah menerima semua yang kau berikan Mas ! Tapi aku berikan kembali pada Ibu karena beliau yang akan menggantikan aku untuk mengatur keuangan di rumah . Kau menjalankan perusahaan di mana banyak orang bergantung padamu , dan uang lima ratus juta bukan yang yang sedikit ! Suatu saat aku yakin uang itu bisa di gunakan untuk membantu perusahaan. "
" Perusahaan adalah urusanku sayang .... maaf maksudku, "
__ADS_1
Gista tersenyum hambar , sudah lama ia tidak mendengar kata itu .