
" Kau cantik sayang ... "
Setelah sekian lama hari yang dinantikan pun akhirnya tiba , hari ini adalah hari pernikahan putrinya yang diadakan di halaman depan rumah Wijaya . Pernikahan dilakukan tertutup sesuai permintaan Cahaya . Hanya keluarga dekat dan beberapa teman di kampung yang datang ke acara itu .
" Terimakasih Bu , apa mereka sudah datang !? " tanya Cahaya sambil melirik jam dinding yang ada di kamarnya yang sudah disulap menjadi kamar pengantin . Hiasan hiasan kamar dengan nuansa putih dan taburan bunga mawar menjadikan kamar tampak indah dan elegan .
" Sudah , sebentar lagi acaranya akan di mulai ! Apa kau sudah tidak sabar menjadi Nyonya Sadewo !? "
" Bukan begitu Bu .... "
Lena hanya tertawa kecil melihat wajah putrinya yang memerah karena malu . Dia tahu Cahaya sedang sangat gugup , walaupun bukan yang pertama untuknya tapi tetap saja hari ini akan menjadi pangkal dari statusnya yang baru . Putrinya akan kembali menyandang status sebagai seorang istri .
SAAAHHHHH ....
Setelah terdengar kata itu Mbak lnem dan Mak Sri terlihat ada di depan kamar memberi tahu jika pengantin wanita sudah boleh untuk turun ke bawah .
__ADS_1
" Mbak Inem ... Mbak Sri ayo , kok malah jalan di belakang ! " ujar Lena yang melihat wanita wanita sederhana itu malah berjalan dibelakangnya dan putrinya . Dia tahu jika mereka pasti merasa tidak pantas berjalan bersama mereka hanya karena hanya orang sederhana .
" Mboten Bu , kami di belakang saja !! " sahut Inem dan Mak Sri kompak .
Cahaya menarik lembut tangan lnem dan Mak Sri agar berjalan disampingnya . Cahaya menganggap dua wanita sederhana itu sudah seperti keluarganya sendiri . Mak Sri menjadi tetangga yang baik untuknya sedang lnem yang menjadi tempatnya mengeluh ketika masih ada di rumah suami pertamanya . Dan lnem juga yang menolongnya ketika ia terpuruk dan sedang menghadapi kesulitan .
" Kalian sudah seperti keluarga saya , jadi tugas kalian sama seperti ibu saya . Mengantarkan saya melangkah ke tahap baru hidup yang akan saya tempuh . Menjadi istri dari seorang Bramantyo Yudho Sadewo ! "
Bram terlihat bahagia ketika melihat pengantinnya sudah datang . Mengenakan kebaya berwarna putih dengan riasan yang natural membuat Cahaya seperti seorang bidadari di matanya .
" Sabar to Mas ... Mbak Cahaya kan lagi kesini , kalau Mas lari kesana malah bisa bisa istri Mas ketakutan . Begitu nggih Tuan Sadewo !? "
Hardian pun juga terlihat menepuk pelan punggung putranya , membenarkan perkataan pria berwajah sangar berbadan penuh tatto yang ternyata sangat ramah itu .
" Mas Jarwo benar , lagian dari sana kesini paling cuma butuh dua puluh detik jalan . Biar mamamu yang kesana ! " kata Hardian dengan menunjuk Sartika yang sudah mendampingi Cahaya berjalan bersama dua wanita lainnya .
__ADS_1
" Assalamualaikum .... " lirih Cahaya dengan kepala menunduk ketika sudah ada di depan suaminya . Cahaya meraih tangan Bram untuk di bawa ke keningnya , ini pertama kalinya ia salam pada Bram sebagai seorang istri . Kedua pipinya merona dan tak sekalipun berani menatap mata pria muda yang sekarang sudah menjadi imamnya .
" Walaikumsalam sayang ... kamu cantik banget, " Bram kemudian mencium kening pengantin wanitanya cukup lama , dicurahkannya semua rasa kasih dan bahagia yang sedang memenuhi hatinya saat ini .
Dan Bram mendengus kesal ketika papanya sekali lagi menggagalkan rencananya . Hardian menarik mundur bahunya pelan ketika Bram hampir saja meraih bibir kemerahan yang sudah dari dulu sudah membuatnya gila .
" Dasar anak nakal !! Tidak bisa lihat lihat tempat .... lihat Cahaya sampai merah begitu mukanya ! " gerutu Hardian yang tak habis pikir putranya bisa melakukan hal ini di depan umum .
" Sabar Mas ...sekarang waktunya menerima selamat dulu dari saya dan tamu lainnya, " ujar Jarwo sambil terkekeh .
" Tapi dia sudah halal buat saya Mas ! " protes Bram .
" Enggih ... saya tahu , tapi sebaiknya hal seperti itu dilakukan ditempat tetutup biar jadi privasi . Kasihan istri Mas sampai merah begitu mukanya , pasti lagi malu .... Lhohhh kok malah lihat kesana , itu lho Mbak Cahaya lagi malu malu begitu !! " kata Jarwo menunjuk Cahaya yang juga sedang berdiri membelakangi suaminya dengan memeluk ibunya .
" Kalau semakin dilihat malah semakin nyiksa Mas , ini sudah tegang banget .... " lirih Bram yang langsung mendapat pukulan dari papanya dan tawa dari Jarwo . Mereka melalui hari itu dengan penuh kehangatan dan tawa , Jarwo dan teman teman merasa ' diterima ' walau mereka berasal dari kalangan bawah .
__ADS_1
Keluarga Sadewo dan Wijaya menyambut mereka dengan penuh kerendahan hati . Dan hal itu membuat rasa hormat mereka menjadi semakin tinggi pada kedua keluarga besar itu . Bagi mereka ' orang besar ' adalah mereka yang mampu menghormati orang orang kecil seperti mereka .