Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
118


__ADS_3

" Kau tidak bekerja ?? " tanya Gisel ketika melihat Gibran sudah ada di kamar sebelum jam pulang kantor . Pria itu juga terlihat tidak memakai setelan formalnya seperti saat berangkat tadi .


Tadi Gibran sengaja mengganti setelan formalnya karena membantu Vina untuk pindahan ke kamar kos barunya . Gibran membelikan perabot untuk mengisi kamar karena tidak mungkin Vina hanya tidur di kasur lantai tipis seperti yang sudah disediakan pemilik kos . Dia dan Martin bekerjasama untuk membuat kamar kos yang nyaman ditinggali adik semata wayangnya .


" Habis jadi kuli angkut ! Kau sudah makan ? Apa dia nakal hari ini ?? " tanya Gibran dengan duduk berjongkok untuk mengelus lembut perut yang mulai membuncit itu .


" Tidak ... ckk mandi gih !! Bau ! " kata Gisel yang sedikit terganggu dengan aroma tubuh suaminya . Aroma itu membuatnya kembali teringat dengan malam panas mereka kala itu , dengan penuh keringat pria yang sudah menjadi suaminya itu menguasai penuh dirinya .


" Tadi aku sudah mandi , hanya saja sebelum ke kamar tadi aku sempat membantu ayah terlebih dahulu di kebun belakang untuk menyiram tanaman dan memindah pot yang kemarin sempat dipindah karena acara pernikahan kita . Kau sudah mandi !? "


Gisel menggeleng pelan , siang tadi sebenarnya dia sudah mandi tapi badannya yang mulai membesar menjadikannya gampang gerah dan berkeringat hingga sore ini badannya sudah harus di bersihkan lagi .


" Mau berendam di bath up atau di shower saja ?? Jika ingin berendam aku bisa siapkan airnya. "


" Ehhhmm ... berendam air hangat sepertinya akan menyenangkan, " cicit Gisel yang senang mendapat perhatian dari suaminya . Gibran terlihat kembali mengelus lembut perutnya sambil berbisik ...


" Sebentar ya sayang , Papa siapin air buat mandi mama dulu ! "

__ADS_1


Gisel tersenyum lebar dengan dua tangan di atas perutnya setelah melihat suaminya sudah berada di kamar mandi . Gibran selalu berkomunikasi dengan janin diperutnya seolah janin itu sudah dapat mengetahui keberadaannya . Dan itu membuat hatinya menghangat karena menjadikan Gisel merasa di cintai .


" Sudah siap tuan putri ... " ujar Gibran merengkuh tubuh Gisel untuk di bawanya ke kamar mandi .


" Aku bisa sendiri , turunkan aku ! "


" Diamlah sayang , kita sudah sampai .... " ujar Gibran menurunkan tubuh istrinya tepat disisi bath up yang sudah terisi air hangat . Pipi Gisel merona dengan hati yang bersorak karena sang suami memanggilnya dengan kata sayang , tapi ia pura pura tak memperhatikannya .


" Kenapa masih disini ?? "


" Aku tidak akan melihatmu melepas baju atau apapun itu seperti yang kau bayangkan . Aku akan melihat atau menyentuhnya jika kau sudah mengijinkan . Aku janji akan menutup mataku rapat rapat Nyonya ... "


Setelah menuang sabun aroma terapi di bath up yang akan di gunakan istrinya Gibran segera berjalan ke ruang mandi untuk membersihkan dirinya . Kepalanya butuh disiram dengan air dingin karena pikirannya sedang berperang dengan otak kotornya yang menginginkan momen berendam bersama wanita halalnya .


Sedang Gisel hanya terpaku di tempatnya , otaknya pun ternyata sama dengan pikiran suaminya . Dia merasa akan sangat menyenangkan jika mereka bisa berendam bersama . Pria itu bisa memijit pinggang dan punggungnya yang terasa pegal , atau bisa memberinya sentuhan sentuhan kecil yang membuatnya melayang .


Mereka bisa saling bercerita tentang apa yang mereka lakukan seharian tadi . Gisel sungguh ingin merasakan kasih sayang suaminya , tapi akan sangat memalukan jika dia memperlihatkannya pada pria yang dia benci itu . Perlahan Gisel membuka satu persatu kain penutup tubuhnya . Tubuhnya sedikit membungkuk ketika ingin membuka penutup bawahnya dan tak sengaja tangannya malah menyenggol botol sabun hingga botol jatuh ke lantai kamar mandi . Untung saja botol itu tertutup rapat .

__ADS_1


" Akkhhhhh ... " pekik Gisel kaget .


" Ada apa !!?? Kau terluka !!! "


Mata Gisel terbelalak ketika melihat tubuh polos suaminya yang sudah basah ada di depannya . Begitupun Gibran yang terkejut ketika menyadari tubuh polos wanita yang ada di depannya .


" Tutup matamu !!! Aku hanya tidak sengaja menyenggol botol sabunnya " kata Gisel dengan dua tangan menutup mata Gibran .


" Maaf ... aku sungguh tidak sengaja !! Tadi aku mendengar kau berteriak , aku kira terjadi apa apa padamu, " kata Gibran menjelaskan .


Gisel merutuki diri sendiri yang malah tergoda dengan tongkat yang sudah berdiri tegak dengan sempurna di depannya . Tanpa Gibran sadari miliknya sudah menegang ketika tadi sempat melihat tubuh seksi istrinya yang juga sudah polos sempurna . Tubuh padat itu sangat menantang adrenalinnya sebagai seorang pria .


Dan suara lirih istrinya membuat Gibran meraih tangan sang istri yang masih menutupi matanya ....


" Bisakah aku meminta sesuatu padamu ?? Tolong gosok punggungku ... "


" A-ppaa ... "

__ADS_1


__ADS_2