
" Kau tidak bekerja ?? " tanya Gisel ketika melihat Gibran sudah ada di kamar sebelum jam pulang kantor . Pria itu juga terlihat tidak memakai setelan formalnya seperti saat berangkat tadi .
Tadi Gibran sengaja mengganti setelan formalnya karena membantu Vina untuk pindahan ke kamar kos barunya . Gibran membelikan perabot untuk mengisi kamar karena tidak mungkin Vina hanya tidur di kasur lantai tipis seperti yang sudah disediakan pemilik kos . Dia dan Martin bekerjasama untuk membuat kamar kos yang nyaman ditinggali adik semata wayangnya .
" Habis jadi kuli angkut ! Kau sudah makan ? Apa dia nakal hari ini ?? " tanya Gibran dengan duduk berjongkok untuk mengelus lembut perut yang mulai membuncit itu .
" Tidak ... ckk mandi gih !! Bau ! " kata Gisel yang sedikit terganggu dengan aroma tubuh suaminya . Aroma itu membuatnya kembali teringat dengan malam panas mereka kala itu , dengan penuh keringat pria yang sudah menjadi suaminya itu menguasai penuh dirinya .
" Tadi aku sudah mandi , hanya saja sebelum ke kamar tadi aku sempat membantu ayah terlebih dahulu di kebun belakang untuk menyiram tanaman dan memindah pot yang kemarin sempat dipindah karena acara pernikahan kita . Kau sudah mandi !? "
Gisel menggeleng pelan , siang tadi sebenarnya dia sudah mandi tapi badannya yang mulai membesar menjadikannya gampang gerah dan berkeringat hingga sore ini badannya sudah harus di bersihkan lagi .
" Mau berendam di bath up atau di shower saja ?? Jika ingin berendam aku bisa siapkan airnya. "
" Ehhhmm ... berendam air hangat sepertinya akan menyenangkan, " cicit Gisel yang senang mendapat perhatian dari suaminya . Gibran terlihat kembali mengelus lembut perutnya sambil berbisik ...
" Sebentar ya sayang , Papa siapin air buat mandi mama dulu ! "
__ADS_1
Gisel tersenyum lebar dengan dua tangan di atas perutnya setelah melihat suaminya sudah berada di kamar mandi . Gibran selalu berkomunikasi dengan janin diperutnya seolah janin itu sudah dapat mengetahui keberadaannya . Dan itu membuat hatinya menghangat karena menjadikan Gisel merasa di cintai .
" Sudah siap tuan putri ... " ujar Gibran merengkuh tubuh Gisel untuk di bawanya ke kamar mandi .
" Aku bisa sendiri , turunkan aku ! "
" Diamlah sayang , kita sudah sampai .... " ujar Gibran menurunkan tubuh istrinya tepat disisi bath up yang sudah terisi air hangat . Pipi Gisel merona dengan hati yang bersorak karena sang suami memanggilnya dengan kata sayang , tapi ia pura pura tak memperhatikannya .
" Kenapa masih disini ?? "
" Aku tidak akan melihatmu melepas baju atau apapun itu seperti yang kau bayangkan . Aku akan melihat atau menyentuhnya jika kau sudah mengijinkan . Aku janji akan menutup mataku rapat rapat Nyonya ... "
Setelah menuang sabun aroma terapi di bath up yang akan di gunakan istrinya Gibran segera berjalan ke ruang mandi untuk membersihkan dirinya . Kepalanya butuh disiram dengan air dingin karena pikirannya sedang berperang dengan otak kotornya yang menginginkan momen berendam bersama wanita halalnya .
Sedang Gisel hanya terpaku di tempatnya , otaknya pun ternyata sama dengan pikiran suaminya . Dia merasa akan sangat menyenangkan jika mereka bisa berendam bersama . Pria itu bisa memijit pinggang dan punggungnya yang terasa pegal , atau bisa memberinya sentuhan sentuhan kecil yang membuatnya melayang .
Mereka bisa saling bercerita tentang apa yang mereka lakukan seharian tadi . Gisel sungguh ingin merasakan kasih sayang suaminya , tapi akan sangat memalukan jika dia memperlihatkannya pada pria yang dia benci itu . Perlahan Gisel membuka satu persatu kain penutup tubuhnya . Tubuhnya sedikit membungkuk ketika ingin membuka penutup bawahnya dan tak sengaja tangannya malah menyenggol botol sabun hingga botol jatuh ke lantai kamar mandi . Untung saja botol itu tertutup rapat .
__ADS_1
" Akkhhhhh ... " pekik Gisel kaget .
" Ada apa !!?? Kau terluka !!! "
Mata Gisel terbelalak ketika melihat tubuh polos suaminya yang sudah basah ada di depannya . Begitupun Gibran yang terkejut ketika menyadari tubuh polos wanita yang ada di depannya .
" Tutup matamu !!! Aku hanya tidak sengaja menyenggol botol sabunnya " kata Gisel dengan dua tangan menutup mata Gibran .
" Maaf ... aku sungguh tidak sengaja !! Tadi aku mendengar kau berteriak , aku kira terjadi apa apa padamu, " kata Gibran menjelaskan .
Gisel merutuki diri sendiri yang malah tergoda dengan tongkat yang sudah berdiri tegak dengan sempurna di depannya . Tanpa Gibran sadari miliknya sudah menegang ketika tadi sempat melihat tubuh seksi istrinya yang juga sudah polos sempurna . Tubuh padat itu sangat menantang adrenalinnya sebagai seorang pria .
Dan suara lirih istrinya membuat Gibran meraih tangan sang istri yang masih menutupi matanya ....
" Bisakah aku meminta sesuatu padamu ?? Tolong gosok punggungku ... "
" A-ppaa ... "
__ADS_1