Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
117


__ADS_3

" Besok pagi kita terbang ke Swiss , sebaiknya kita beli beberapa potong baju hangat untuk persiapan . Tadi aku sudah konfirmasi dengan agen perjalanan kita untuk membatalkan wisata saljunya . Bisa bisa kamu tambah meriang disana ! Bee ... kamu dengar aku kan !? " tanya Cahaya uang malah merasakan nafas teratur suaminya di pangkuannya .


" Hissshhh ... menyebalkan !! Kalau udah rebahan pasti merem bawaannya . Gimana mau jalan jalan Bee kalau setiap saat kamu tidur terus " gemas Cahaya pada suami manjanya .


Karena merasa lapar Cahaya memesan makanan dari layanan telpon hotel . Dia tak ingin berbuat kesalahan yang sama dengan pergi tanpa ijin dari suaminya . Dia memesan kudapan untuk pengganjal perutnya karena rencananya malam ini dua dan Bram akan makan malam romantis di restoran mewah yang berada di pusat kota .


Tak berapa lama pesanannya datang dan cahaya sengaja membawa troli makanannya ke balkon kamar mereka agar baunya tidak mengganggu istirahat suaminya . Akhir akhir ini suaminya sangat sensitif dengan bau yang menyengat . Bram hanya suka dengan aroma tubuh istrinya , dan bagi Cahaya itu adalah bagian dari modus suaminya . Jika merasa pusing atau mual pasti Bram akan terus terusan memeluk dirinya .


Baru membuka satu persatu tudung saji suara ponselnya terdengar berdering , wanita itu tersenyum ketika nama ibunya ada di layar pipihnya .


" Halo Bu ... "


" Halo sayang , bagaimana kabar kalian ?? Apa kalian masih ada di Paris !? "


" Alhamdulilah kabar kami baik Bu , tapi suami Cahaya sedang sedikit tidak enak badan . Jika pagi selalu saja merasa mual apalagi jika sarapannya ada aroma telor atau dagingnya , sepertinya dia masuk angin karena hawa disini dingin sekali ! " ujar Cahaya menjelaskan kondisi suaminya .


" Sudah dikerok ?? Jika sudah dikerok dan berkeringat suruh dia minum air jahe hangat tanpa gula . Jika tidak sembuh juga segera bawa dia ke dokter , lbu khawatir terjadi apa apa pada suamimu ! "


" lya Bu , Cahaya mengerti ... "

__ADS_1


Mereka berbicara untuk beberapa saat , banyak hal yang mereka bahas salah satunya mengenai perusahaan . Sampai Lena menutup sambungan telponnya agar putrinya bisa menikmati kudapan sore yang tadi dipesan .


" Sayang .... "


" Kamu sudah bangun Bee !? "


" Tadi siapa yang telpon ? Tadi aku dengar kau berbicara dengan seseorang, " ujar Bram yang duduk di samping istrinya dengan menutup kembali hidangan yang ada di troli karena ada beberapa makanan yang belum di habiskan Cahaya . Pria itu terganggu dengan bau dari macam macam makanan tersebut .


" Ibu menanyakan kabar kita , kamu masih nggak enak badan ?? "


" Dingin ... " lirih Bram memeluk erat tubuh istrinya , tiba tiba saja ia ingin sedikit berolah badan agar sedikit berkeringat .


" Bee ... buka bajunya , terus kamu tiduran dulu ! Aku mau siap siap dulu , kamu punya koin ?? "


" Koin ?? Tapi aku tidak pernah menyimpan koin , memangnya untuk apa sayang !? " tanya Bram mulai melepas kaos yang di kenakannya .


" Ya , buat sembuhin kamu ! Awas nanti jangan teriak teriak ... malu maluin dikira aku apa apain !!


Bram tersenyum lebar mendengar perkataan istrinya , tubuhnya tiba tiba terasa ringan dan sangat bersemangat . Walau dia tidak tahu apa hubungannya koin dengan keringat tapi semangatnya sudah berkobar hebat .

__ADS_1


Cahaya menepuk keningnya sendiri ketika melihat tubuh polos suaminya yang sudah tidur tengkurap seperti permintaannya . Pasti pria itu sudah memikirkan hal mesum seperti biasanya . Perlahan diambilnya selimut untuk menutup tubuh bagian bawah suaminya .


" Lhohh kok ditutup sih ?? "


" Sepuluh menit ke depan kamu wajib diem Bee !! Jangan teriak teriak atau nguler ngulet biar cepet selesai ... "


" Hanya sepuluh menit ?? Ckk ... biasanya kan lebih lama sayang . Tapi nggak apa apalah , yang penting bisa berkeringat ... Aaaakkhhhh !!! Apa yang kau lakukan !! "


Cahaya mulai mengoles minyak dan mengerok punggung suaminya dengan menggunakan koin , dia sengaja menekan dengan keras karena gemas dengan suaminya .


" Aaaakkhhhh ... pelan sayaaannggg !! Jangan terlalu dalam menekannya !! Sakiiitt !! "


" Hissshhhh sudah aku bilang kan , diam sepuluh menit Bee !! Susah ngeroknya kalau badan kamu gerak gerak gini ... " gerutu Cahaya semakin kuat menekan koinnya agar kulit Bram lebih cepat memerah .


" Nyiksa banget sih cara cari keringetnya , memang enggak ada yang lebih enak ??! " keluh Bram karena semakin ia berteriak maka Cahaya akan semakin cepat dan semakin kuat menggerakkan koinnya .


" Itu sih maunya kamu Bee ... diem ihhh !! "


" Sayaaannggg ...."

__ADS_1


__ADS_2