
" Sini sayang , ibu mau bicara sebentar sama kamu ! " seru Lena menepuk sofa disampingnya .
Dari kantor pengacara ia segera ke kantor Wijaya untuk bicara dengan putrinya . Sudah saatnya ia membuka semua kebenarannya .
Gista menurut dengan beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah atasannya . Sikap Gista masih menggambarkan sikap karyawan yang tunduk hormat pada bosnya , dan itu sedikit membuat Lena tidak nyaman . Sikap seperti itu membuat hubungannya dengan menjadi berjarak .
" Hei aku hanya ingin bicara padamu sayang , kenapa wajahmu menjadi tegang begitu !? " ujar Lena mengelus lembut bahu putrinya .
" A-apa saya melakukan kesalahan ?? Maaf kemarin memang saya kurang teliti, " kata Gista dengan kepala tertunduk . Kemarin konsentrasinya sedikit terganggu hara gara pertengkarannya dengan Bram saat akan berangkat kerja . Masih terngiang di otaknya jika pria muda itu mengatakan dirinya adalah wanita murahan . Wanita yang menjual tubuh untuk pria kaya demi mendapat kemewahan.
Gista tidak tahu bagaimana bisa Bram menyimpulkan bahwa dirinya seperti apa yang pria muda itu sebut . Dia merasa tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun setelah perpisahannya dengan Gibran .
Tapi Gista tahu mungkin inilah resikonya ketika menyandang status barunya sebagai janda . Apapun yang dilakukannya akan menjadi sorotan orang orang disekitarnya . Mungkin saja ia pernah melakukan kecerobohan yang tanpa ia sengaja hingga Bram berpikir buruk tentangnya .
" Baru beberapa hari kau duduk ditempatnya sekarang , sangat wajar jika sekali dia kali masih melakukan kesalahan . Lagipula kau sudah vakum total lima tahun untuk mengabdikan dirimu pada keluarga suamimu . Sangat tidak mudah hidup di tengah tengah orang yang tidak menyukai keberadaan kita . Ibu paham sayang ... "
Gista terperanjat kaget , ternyata wanita di depannya tahu tentang kehidupannya . Padahal ia tak pernah bercerita pada siapapun tentang masalah pribadinya , lnem dan Jarwo juga bukan tipe orang yang akan mengumbar masalah orang lain . Gista malah sudah menganggap mantan pembantu dan suaminya itu sebagai saudaranya . Kepada mereka Gista sering berkeluh kesah .
__ADS_1
" Bu Lena tahu soal itu ?? " cicit Gista .
" Aku tahu semua tentang putriku ! Sekarang aku ingin bicara , dengarkan lbu baik baik dan jangan menyela sebelum aku selesai. "
Gista mengangguk pelan , dia masih berpikir jika atasannya ingin menjelaskan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan dan perusahaan . Kemarin Pak Alif harus kembali mengoreksi laporannya karena ditemukan satu kesalahan angka . Hanya satu angka tapi akan berakibat ruginya perusahaan sebesar puluhan juta .
" Aku pernah bercerita padamu soal putriku yang hilang kurang lebih dua puluh tahun yang silam . Aku menemukannya ... Allah berkenan untuk mempertemukan aku dengan putriku setelah sekian lama, " Lena menjeda kata katanya karena tiba tiba ada sedikit sesak yang ia rasakan di hatinya dan air mata sudah memenuhi kedua sudut matanya .
" Alhamdulilah, Gista ikut senang Bu, "
Gista meraih satu tangan Lena yang sudah tak bisa membendung lagi air matanya . Dan hal itu malah membuat Lena semakin tersedu sedu .
" Dan kini dia ada di depanku , putriku sudah ada bersamaku, " ujar Lena mengeratkan genggaman tangannya karena melihat Gista kebingungan mencari wanita yang ia maksud .
" Maksud Ibu !? "
" Kau adalah putriku sayang , dari pertama bertemu aku sudah punya firasat kuat jika kau adalah putriku yang hilang . Maaf jika ibu membiarkanmu harus mengalami masa kecil di panti asuhan , maaf jika hal ini membuatmu tak bisa lagi bertemu dengan ayahmu . Ayahmu meninggal sepuluh tahun yang lalu . Maaf ..... "
__ADS_1
" Tapi tidak mungkin ... " Gista masih tak percaya dengan apa yang didengarnya . Bahkan ia sudah tak berani lagi bermimpi untuk kembali bertemu dengan orang tua kandungnya , dia takut kecewa . Tapi kini ada wanita baik hati yang mengaku sebagai ibu kandungnya .
" Saya bawa buktinya Nona .... "
Suara Pak Alif membuat kedua wanita cantik itu menoleh , pria parubaya itu membawa sebuah amplop besar berwarna coklat ditangannya .
" lni adalah hasil tes DNA anda Nona Muda , kami memang baru menerimanya hari ini . Tapi kami yakin seribu persen bahwa anda adalah Nona Cahaya Cinta Wijaya ... putri satu satunya Nyonya Besar ! " kata Pak Alif sambil menyerahkan amplop itu pada atasannya .
" Walau aku sudah yakin , kita tetap akan tetap melihat hasilnya . Bismillahirrahmanirrahim, "
Perlahan Lena membuka kertas yang ada di dalam amplop itu , setelah membacanya ia menyerahkan kertas itu pada Gista agar juga bisa melihat hasilnya .
" Ibu ..... "
Lena menangis ketika pertamakali mendengar putri kandungnya memanggilnya sebagai seorang ibu , dua wanita itu berpelukan saling menyalurkan rasa hari dan bahagianya .
Setelah sekian tahun mereka bisa berkumpul menjadi satu keluarga . Pak Alif mengusap dua matanya dengan saputangan miliknya , tak ia pungkiri ia juga merasa terharu dengan pertemuan dua majikannya itu .
__ADS_1