
" Apa yang sudah kau rencanakan dengan ayahku ? Bagaimana bisa ayahku bisa dengan tiba tiba memutuskan tentang pernikahan kita ? Apa kau sudah mengancamnya !? Kau gunakan keahlianmu untuk menekan ayahku !? "
Bertubi tubi pertanyaan dari Gisel malah membuat Gibran tertawa lebar . Sesuai dengan permintaan Heru Darsono , Gibran dan Gisel duduk di gazebo taman belakang untuk saling berbicara .
" Kau pikir beliau selemah itu ?? Ayah sangat menyayangimu dan dia melindunginya dengan caranya sendiri . Dan aku yakin semua hal yang dilakukan adalah hal yang terbaik untukmu . Kemarin aku sempat berpikir beliau murka padaku , jika begitu pun aku tidak akan segan menerima kemarahannya . Karena aku memang bersalah , aku telah menjadi pengecut karena membiarkan dirimu menanggung ini sendirian ! Tapi nyatanya beliau sangat bijaksana , beliau bahkan mengijinkan aku memanggilnya dengan panggilan yang sama sepertimu. "
Gisel terdiam , dia masih saja belum bisa menerima rencana pernikahannya yang tiba tiba ini . Dia masih ingin membuat pria di depannya ini menderita , dia ingin Gibran merasakan bagaimana pedihnya melihat dia bahagia dengan putranya nanti .
" Aku tahu aku belum mendapat hukuman yang pantas darimu , jika kau belum mengijinkan aku menjadi pendamping hidupmu setidaknya beri kesempatan padaku untuk menjadi ayah yang baik untuk anakku, "
" Apa kau tuli !? Sudah aku katakan berkali kali jika dia hanya putraku , dari awal kau sudah menolak anak ini Tuan Gibran !! "
__ADS_1
Gibran menghela nafasnya , sepertinya akan sangat sulit mendapatkan maaf dari Gisel . Tapi itu sepadan dengan kesalahan yang sudah ia lakukan . Dia harus lebih sabar dalam menghadapi wanita cantik di depannya , seperti kata Heru tempo hari jika sakit hatinya seorang wanita bahkan mampu memindah gunung ataupun mengeringkan lautan .
" Ya sudah ... jangan marah marah lagi ! ltu anakmu , apa anakmu sudah makan !? " tanya Gibran mencoba mengalihkan kemarahan wanita didepannya .
" Tadi sudah minum susu ... " jawab Gisel dengan wajah memerah karena wajah pria tampan itu sudah ada di depan perutnya yang sudah mulai membesar .
" Hei boy ! Apa kau mendengar suaraku ? Jangan nakal disana , jangan buat sudah ibumu ! Kelak jangan jadi pemarah seperti dia ... Akkhhhhh !! " Gibran memekik kaget ketika merasakan sebuah cubitan keras di lengannya .
" Memang kenapa kalau aku pemarah ??! Dan bagaimana kau yakin jika anak ini laki laki ?? Bisa saja anak ini adalah anak perempuan, " tukas Gisel kesal .
" Terserah !! " tukas Gisel , walau terlihat marah tapi sebenarnya hatinya menghangat ketika Gibran mengatakan jika kelak mereka akan bersama mengasuh si kecil .
__ADS_1
*
Sementara itu Vina sedang menutup kedua telinganya karena Sherly sedang mengajukan bertubi tubi pertanyaan yang membuatnya bingung bagaimana harus menjawabnya . Sepertinya sahabatnya itu sangat penasaran dengan hubungannya dengan Martin sang idola kampus .
" Sekarang katakan padaku apa benar jika kalian pacaran ?? Sejak kapan itu terjadi ?! Kalian bahkan tidak pernah terlihat berbicara atau saling menyapa . Kak Martin bahkan terlihat memalingkan muka jika sedang melewati kita , baru kemarin kau bilang jika selera Kak Martin itu adalah gadis baik baik . Apa jangan jangan diam diam dia memang berselera dengan gadis seksi seperti kita . ltu berarti aku juga ada kesempatan ... "
" Ckk siapa bilang kami pacaran ?? Anggap saja kemarin kau hanya berhalusinasi, " ujar Vina sekenanya .
" Tapi Kak Martin memanggilmu SAYANG !! Ya Tuhan jika saja itu aku maka aku akan berguling guling keliling kampus . Kemarin aku sempat tanya sama pelayan yang masih berondong itu , katanya Kak Martin adalah pemilik kafenya . Emejing nggak sih ?? Kaya , tampan , cool , baik hati dan tidak sombong !! ldaman banget nggak sih !? Sayang dia malah suka sama kamu ! Patah hati deh ... "
" Tuh Zacky mau kamu kemanakan !? Baru aja jadian udah meleng kesana kesini . Katanya Zacky tuh tajir banget ... muka kaya artis ... mobilnya bisa buat pamer !! " kata Vina mengulang kata kata Sherly saat memuja pacar barunya .
__ADS_1
" Cihh ... kemarin ngajak dinner kirain mau ajak ke resto mewah . Tahunya aku di bawa ke warteg pinggir jalan , itu saja aku yang traktir katanya dompetnya ketinggalan di rumah . Najis banget .... "
Vina tertawa terbahak bahak mendengar keluh kesah sahabatnya . Dia berpikir bahwa ternyata tak semua yang kita lihat seperti yang kita kira . Martin yang terlihat cool dan cuek diluaran sana ternyata mempunyai sisi posesif yang menyebalkan .