Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
8


__ADS_3

Gista bisa bernafas dengan lega setelah selesai menata rumah barunya . Rumah sederhana berukuran tidak terlalu besar . Di halaman rumah terdapat beberapa pohon mangga yang membuat suasana sangat sejuk .


Tidak ada lantai marmer ataupun wallpaper seperti di rumah lamanya , walau begitu rumah peninggalan orang tua lnem itu sangat bersih dan rapi hingga membuat siapa pun betah untuk tinggal .


Untung saja Jarwo dan lnem membantunya untuk menyiapkan semuanya . Ada kompor gas yang sengaja disiapkan lnem agar Gista bisa memasak sendiri . Beberapa alat masak dan makan juga sudah disediakan .


Saking bersemangat membereskan tempat tinggal barunya sampai sampai Gista lupa belum membeli sembako dan bahan untuk memasak . Diambilnya dompet yang disimpannya di lemari plastik , ia menghela nafas ketika sudah menghitung isinya .


Isi dompetnya mungkin bisa bertahan hingga dua bulan kedepan jika ia sangat irit pengeluaran . ltu artinya ia harus segera mencari pekerjaan jika masih ingin melanjutkan hidupnya dengan mandiri . Tanpa bergantung seperti saat ia masih menjadi istri Gibran .


Karena perutnya sudah sangat lapar maka Gista memutuskan untuk keluar mencari makan . Mungkin satu mie instan dan satu telur cukup untuk mengganjal perutnya malam ini . Makanan yang sudah sangat lama tidak ia konsumsi karena Gibran cukup rewel jika mengenai makanan .


" Saudaranya lnem ya Mbak ?? Masya Allah kok cantik banget sih .... saya tetangga depan Mbak . lnem dan orang orang sini panggil saya Mak Sri , saya masih saudara jauh mendiang ibunya lnem "


Seorang wanita yang sepertinya jauh lebih dewasa darinya datang menghampirinya . Wanita bernama Sri itu punya gaya yang unik menurut Gista . Mengenakan daster lengan pendek warna mencolok , dua pergelangan tangannya dipenuhi oleh gelas emas lengkap dengan kalung dan antingnya yang berukuran besar dan dandanan sedikit berlebihan dengan warna lipstik merah menyala . Walau bertubuh gendut tapi Mak Sri cukup lincah berjalan ke arahnya .


" Assalamualaikum Mak Sri , saya Gista ! Baru siang tadi saya pindah ke rumah Mbak lnem "


" Lhohh Mbak Gista malam malam begini mau kemana ?? Tempat ini dekat sama terminal Mbak jadi jangan terlalu jauh jalan kaki sendirian . Bahaya Mbak !! "


" Bahaya kenapa Mak ?? "


" Ckk ... kalau di terminal kan banyak kucing kucing malam Mbak . Khawatirnya kalau jalan kesana sana Mbak Gista di sangka salah satu kucing itu "


Gista sedikit mengerutkan dahinya , dia belum mengerti kemana arah pembicaraan Mak Sri dan apa yang di maksud wanita itu dengan kucing malam .

__ADS_1


" Kucing apa Mak ?? "


" Itu lho mbak ... kucing yang senengnya malam malam mangkal di jalan dekat terminal . Yang doyan sama laki laki hidung belang, "


" Oooooo ... kupu kupu malam maksudnya ya Mak "


Tanpa sadar Gista mengikuti langkah Mak Sri yang malah duduk di teras rumahnya sambil sesekali menganggukkan kepala ketika orang orang yang lewat didepan rumah menyapa mereka . Di lingkungan rumah ini sepertinya para penghuninya sangat ramah .


" Kalau kupu kupu itu cantik terus kalau kita kibaskan tangan mereka pergi Mbak ... yang ini sih kucing garong !! Maunya morotin dan kalau disuruh pergi nggak bakal mau ! "


" Mereka orang sini juga Mak ?? "


" Orang sini semua orang naik baik Mbak , mereka biasanya pendatang yang ngontrak di kampung sebelah . Cuma kampung kita sering kena imbasnya , orang orang pikir wanita wanita disini juga gampangan , sering open BO. "


" Aduuhh Mak Sri maaf lho , mau saya tinggal sebentar cari makan . Tadi lupa beli bahan makanan jadi dirumah tidak ada apa apa untuk di masak "


" Mau beli apa sih Mbak ?? "


" Mie instan sama telur , yang bisa cepet langsung makan Mak, " jawab Gista jujur .


" Sini Mbak saya antar ke warung , sekalian nanti kenalan sama orang orang sini "


" Makasih Mak "


Gista mengikuti langkah Mak Sri yang berjalan didepannya , tapi baru beberapa langkah Mak Sri berhenti di sebuah rumah yang tepat ada dibelakang rumah barunya . Walau ada di dalam gang tapi rumah sekaligus warung itu terlihat cukup lengkap .

__ADS_1


" Ini warungnya Mbak , sesuai nama warungnya .... yang punya namanya Neni , janda anak satu dia Mbak " ujar Mak Sri masuk ke dalam warung dengan meneriakkan nama pemiliknya .


" Neni ... Neni !! lni lho ada yang beli , tetangga baru di gang depan "


Tak lama kemudian seorang wanita muda dengan rambut panjang berwarna pirang keluar . wanita bernama Neni itu sekilas melihatnya dengan tatapan yang sulit di artikan . Kemudian terlihat berbisik pada Mak Sri ,


" Halahhh model begitu dibilang cantik , cantik aku kemana mana Mak ! " bisik Neni yang tak terima jika kedudukannya sebagai kembang desa akan tergusur oleh orang baru . Walau jauh di dalam hatinya ia memang mengakui kecantikan tetangga barunya .


" Yo wesss sakarepmu Nen !! Yang penting Mbak Gista butuh telor sama Mi sekarang juga , kasihan tadi perut ya sampai bunyi gitu . Nanti tagihannya masukkan ke buku utangku " sahut Mak Sri pelan .


Wanita bernama Neni itu mengambil mi dan telur sesuai pesanan Mak Sri dan ia berikan pada Gista .


" Terimakasih , berapa Mbak ?! "


" Nggak usah Mbak , sudah di bayar sama saya . ltung itung sambutan selamat datang dari saya "


" Lhohh jangan Mak , masa saya malah jadi ngerepotin Mak Sri sih ! "


" Ora opo opo Mbak , yang namanya sesama ya tugasnya itu saling membantu . Udah cepetan di masak dulu keburu cacingnya pada nyanyi "


" Ya sudah terimakasih banyak lho Mak... Mbak Neni , kapan kapan main kerumah lagi ya "


" Beressss .. " sahut Mak Sri yang menarik tubuh Neni yang terus terusan melihat ke arah Gista . Mak Sri tahu jika Neni tidak begitu suka dengan kehadiran tetangga barunya .


Sementara itu Gista melangkah dengan tersenyum . Dia bersyukur karena di kelilingi orang orang baik seperti lnem , Jarwo , Mak Sri dan para tetangga barunya . Setidaknya ia merasa aman dan nyaman walaupun tinggal sendiri .

__ADS_1


__ADS_2