Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
53


__ADS_3

" Apa apaan kamu Bram ... berhenti !! Kau ingin membawaku kemana ??!! " pekik Gista yang masih terbawa panik dengan kejadian yang barusan terjadi .


" Jangan teriak teriak aku tidak tuli !! Temani aku minum kopi .... "


Gista diam dan melihat ke arah luar jendela , mau menolak pun rasanya akan percuma . Pria pemaksa di sebelahnya tidak akan mendengarnya . Yang bisa ia lakukan hanya diam dan menurut .


Kejadian tadi membuatnya bertekad untuk mempercepat proses perceraiannya . Gibran masih akan merasa jika dirinya masih menjadi milik pria itu jika proses perceraiannya masih belum selesai . Dia akan berbicara dengan ibunya nanti untuk minta tolong pengacara keluarga mengurus semuanya .


Kemarin dia sudah mulai terbuka pada ibunya tentang kehidupan pribadinya termasuk kegagalan pernikahannya dengan seorang pengusaha muda bernama Gibran Satya Bagaskara .


Awalnya ia takut untuk menceritakan semua karena takut membuat ibu kandungnya itu bersedih atau terpukul , tapi nyatanya Lena Wijaya bisa menyikapi dengan kasih dan sangat bijaksana . Lena memberinya support agar mampu bangkit dan menyongsong masa depannya .


" Turun ... "


" Ehh .. kita dimana !? " suara bariton itu membuyarkan lamunannya , dia melihat Bram sudah membukakan pintu mobil untuknya . Setelah melihat sekeliling Gista tahu jika sekarang mereka sedang ada di area restoran . Dan jika melihat namanya Gista yakin tempat itu adalah salah satu restoran milik ibunya .

__ADS_1


Bram mengajaknya duduk di sudut restoran yang mempunyai view pohon pohon rindang , restoran yang mereka datangi kali ini mengusung tema hijau dimana setiap sudut restoran terlihat asri dengan pot pot bunga dan bagian luar dengan pohon pohon yang rindang . Duduk di tempat seperti ini membuat ketakutan di hati Gista berkurang .


" Apa kau tidak apa apa !? "


" Tidak .... "


" Tapi kau terlihat sangat ketakutan tadi , aku bunuh dia jika berani membuatmu seperti ini lagi !! " geram Bram . Tadi dia memang sengaja membawa ke restoran ini karena Bram yakin suasana restoran ini akan membuat Gista lebih tenang . Dia tidak suka ketika melihat sorot ketakutan di mata wanitanya .


" Hissshhh kau pikir dia semut ??! Aku tidak suka mendengar kata kata seperti itu , itu membuatmu seperti monster pembunuh !! Besok lagi jangan jemput aku di tempat kerja ... "


" Ckk bukan seperti itu , hanya menghindari kejadian seperti tadi . Perusahaan itu tempatku mencari makan Bram , aku hanya ingin lebih tenang bekerja disana tanpa ada pikiran miring dari teman teman kerja ! Sudah dua kali aku merasa seperti wanita yang kepergok selingkuh dengan berondong mudanya !! Siapapun yang melihat pertengkaran tadi pasti mengira begitu, " kata Gista yang langsung meminum habis segelas air putih yang di berikan pelayan padanya .


Wanita itu juga menyambar air putih yang ada di depan Bram hingga pria itu tersenyum melihatnya . Jika wanita lain akan berusaha terlihat anggun dengan pura pura bersikap elegan di matanya , tapi pemilik hatinya berbeda . Gista selalu bersikap apa adanya di depannya , dan dia menyukai itu .


" Mbak aku pesan sate sama tongseng kambing , dan minumnya jeruk hangat terus bikinnya jangan kelamaan ya !? " kata Gista bahkan sebelum pelayan menanyakan pesanannya .

__ADS_1


"' Tapi ini belum saatnya makan malam .... "


" Aku lapar, melihat kalian berkelahi membuat perutku lapar, " sahut Gista tak peduli dengan tawa Bram yang terdengar menggema di telinganya .


Bram menyeruput kopinya dengan pandangan tak lepas dari wanita yang sedang makan dengan lahap di depannya .


" Apa satenya enak sekali ?? " tanya Bram menelan ludahnya sendiri . Sepertinya perutnya menjadi ikut lapar hanya dengan melihat mulut yang terus mengunyah itu .


" Kau mau ??! " tanya Gista menggigit satu iris daging yang ada di ujung tusuk sate dan tanpa sadar menyodorkan sate yang sudah ia makan pada Bram .


Bram terpaku melihatnya , Gista yang sadar jika sate yang dia pegang sudah sempat ia gigit seiris langsung menarik mundur tangannya . Tak seharusnya ia memberikan sate yang sudah dia makan dan tak seharusnya pula ia menyuapi pria yang bukan muhrimnya .


Sebelum tangan itu mundur Bram meraihnya dan mengambil sate yang masih di pegang Gista .


" Kau sudah memberikannya untukku , kau tak berhak mengambilnya kembali. "

__ADS_1


__ADS_2