
" Pak Alif untuk hari ini saya pulang sendiri saja , saya ingin bertemu dengan teman lama . Tadi saya juga sudah minta ijin pada ibu, " kata Gista pada Pak Alif yang sudah bersiap di ruangan Gista karena jam sudah menunjukkan waktu untuk pulang .
" Baik Nona Cahaya , tapi saya harap anda berhati hati karena anda sudah bukan orang biasa lagi . Maksud saya anda sudah punya tanggung jawab besar pada perusahaan ini , jadi saya harap.anda bisa menjaga diri ! "
" Saya tahu itu Pak , terimakasih sudah mengingatkan, " sahut Gista yang tahu pria parubaya itu turut bertanggung jawab atas keselamatannya . Sejak tinggal di rumah utama Wijaya ia harus membiasakan diri dengan semua pengawasan yang di atur Pak Alif untuknya . Lena khawatir jika penculik yang dia puluh tahun silam mengambil putrinya mengetahui jika Cahaya sudah ditemukan .
Setelah membereskan mejanya Gista segera turun untuk menuju area parkir . Dia khawatir jika pria keras kepala itu benar benar mewujudkan ancamannya yang akan mencarinya langsung ke gedung kantornya .
Sampai di area parkir ia tak melihat Bram disana , hanya para pegawai yang terlihat mengambil kendaraan untuk pulang . Sesekali ia mengangguk ketika ada seorang pegawai yang menunduk hormat padanya . Memang sudah ada beberapa orang petinggi perusahaan yang tahu posisinya sebagai pewaris Wijaya . Tapi hanya segelintir orang karena Lena belum secara resmi mengumumkan tentang keberadaannya sebagai pewaris tunggal Wijaya Group .
TINNGGGG ...
Ferrari hitam di depanmu ... cepat !! Aku tidak punya banyak waktu
Gista hanya berdecak kesal ketika membaca pesan dari nomor Bram itu , dia langsung menuju mobil sport hitam yang berada tidak jauh darinya walau sebenarnya ia ragu . Bram yang ia kenal hanya tukang ojek tapi sudah dua kali ini dia lihat pria itu membawa mobil mewah .
Pertama saat masih tinggal di rumah lnem dan ini yang kedua kalinya . Gista yakin dua mobil yang di bawa Bram bernilai fantastis . Ada sesuatu yang ia tidak tahu dari pria muda itu , mungkin saja Bram yang ia kenal bukanlah Bram seperti yang ia bayangkan
__ADS_1
" Kenapa lama sekali !!? "
" Mana aku tahu kau ada di mobil ini , kau pikir aku cenayang yang bisa tahu sebelum kau mengatakan padaku ?? " sahut Gista ketus .
" Kenapa kau jadi marah padaku ?? Aku yang seharusnya marah karena sudah menunggu lama disini .... " kata Bram yang kali ini berkata lebih lembut , mungkin dia sudah sadar akan kesalahannya yang tidak memberitahukan mobil apa yang dia bawa pada Gista .
" lni .... " Bram menyerahkan amplop putih kecil yang kemarin di berikan lnem padanya , amplop berisi dua lembar uang berwarna merah yang diberikan Gista untuk melunasi hutangnya .
" lni apa ??? "
Gista segera membuka amplop yang di berikan oleh Bram tapi kemudian ia menaruhnya di dashboard depan mobil .
" Kenapa kau langsung melunasinya ?? Bukannya sudah aku bilang kau cicil utangmu dengan secangkir kopi dan sepiring pisang goreng . Aku tidak mau uang itu "
" Ya Allah ... seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku sudah melunasinya . Mana ada orang yang tidak suka uang !! Jadi kau menemuiku hanya untuk mengembalikan uang ini ?? Hanya untuk bertengkar denganku !? " sinis Gista mulai habis kesabarannya .
" Apa aku akan berdosa jika aku bilang aku sangat merindukanmu ?? Dua hari tidak melihatmu seperti neraka untukku .... "
__ADS_1
" Braaammm ... jangan mulai !! Kau sudah tahu jika aku ... "
" Aku tahu , tapi aku benar benar merindukanmu " sahut Bram sebelum Gista menyelesaikan kata katanya . Dia tahu wanita itu akan menyebut tentang statusnya lagi . Baginya tidak masalah jika dua harus menunggu dua bulan lagi agar Gista melalui masa iddahnya .
" Tidak akan semudah itu Bram ! Selain status atau umur kita yang terpaut jauh , aku tidak yakin jika keluargamu mampu menerimaku . Tidak ada orang tua yang berharap anaknya menikahi seorang janda ... "
" Status , umur ... apa hubungan semua itu dengan cinta !? Aku rasa cinta hanya berhubungan dengan hati , bukan yang lain !! "
" Tapi aku belum bisa membuka hatiku untuk pria lain Bram !! Masih sangat sulit untuk mengisinya dengan cinta yang lain . Kau tak bisa memaksaku untuk bisa membalas perasaanmu . Kita belum cukup saling mengenal , ada hal hal yang tidak aku tahu darimu begitupun sebaliknya, " ujar Gista mencoba memberi pengertian .
" Aku akan sabar menunggumu , tapi jangan harap kau bisa lepas dariku !! "
BRAKKKK ... BRAAKKKK
Gista dan Bram menoleh bersamaan ketika mendengar suara kap mobil depannya yang di gebrak seseorang . Seorang pria berdiri dengan muka penuh amarah .
" B*JINGAN !!! "
__ADS_1
" Mas Gibran ..... "