
Seorang pria terlihat tersenyum senyum sendiri melihat layar ponselnya di teras rumahnya . Gibran sedang melihat foto foto mantan istrinya yang dulu dianggapnya sepele . Sering dia sengaja menghapus foto foto Gista karena dianggap memenuhi memori ponselnya .
Sekarang ia hanya bisa menyesalinya , seharusnya ia lebih banyak menyimpan gambar gambar wajah cantik itu agar bisa mengobati rasa rindunya . Senyum itu tidak akan pernah bisa dinikmatinya setiap hari seperti dulu lagi . Kadang ingin sekali mengirimkan pesan untuk sekedar bertanya kabar , tapi rasa bersalahnya mencegahnya untuk berbuat itu . Dia yang melepasnya , maka dia tak punya hak untuk mengejarnya kembali . Jika pun bisa kembali mereka harus bisa melewati jalan panjang yang sangat terjal .
Tanpa pria itu sadari adik perempuannya sedang berdiri tak jauh darinya . Vina masih takut untuk berbicara dengan kakaknya sejak peristiwa malam ulang tahun Sherly temannya .
Malam itu Gibran sangat murka , walau tidak mengatakan apapun tapi Vina tahu jika Gibran sangat marah padanya . Sejak saat itu Gibran tak pernah berkata sepatah katapun padanya . Gibran juga sangat jarang berbicara dengan ibunya .
Gibran selalu pulang malam dari kantor , jika sudah pulang biasanya kakaknya lebih senang berada dalam kamarnya . Sampai sampai ibunya sering mengeluh karena sulit meminta uang tambahan untuk ditransfer ke rekeningnya . Ya , hanya itu isi pikiran ibunya ... uang dan uang !
Sejak kejadian malam ulang tahun itu sekarang Vina benar benar harus mengikuti aturan kakaknya . Gibran tak mengijinkannya keluar tanpa seorang supir , dan hanya boleh keluar rumah jika untuk keperluan kuliah .
" Kak Gibran .... "
__ADS_1
Sepertinya pria itu masih fokus dengan layar ponselnya , dia tak begitu memperhatikan sekitarnya . Vina mengalah dengan berdiri lebih dekat pada kakaknya , sekarang ia bisa melihat jika Gibran sedang memandangi foto foto mantan kakak iparnya .
" Kak Gibran !! "
Gibran sedikit kaget ketika mendengar suara adiknya yang tiba tiba sudah berdiri disampingnya , ia segera mematikan layar ponselnya dan memandang ke arah adik perempuannya .
" Kau memanggilku !?? "
" M-maaf ... bukan maksud Vina mengganggu , ada sesuatu yang harus Vina bicarakan . Bulan besok akan ada acara kampus , kami akan pergi ke Bali .... "
Vina semakin tertunduk , belum ia menyelesaikan kata katanya sang kakak sudah terlebih dulu memotongnya . Dan pertanyaan itu nyatanya benar , karena ia memang akan meminta uang untuk membayar kegiatan yang akan diadakan kampusnya .
" Vina benar benar ada acara kali ini Kak , Vina .... "
__ADS_1
" Apa itu artinya selama ini acara acara yang kau katakan atas nama kegiatan kampus dan meminta uang pada kakak iparmu itu bohong ?? " tanya Gibran tanpa melihat wajah adiknya , pandangannya lurus ke depan dengan nafas yang terlihat memburu . Vina tahu Gibran sedang menahan emosinya .
" Kakak iparmu yang mengurus semua kebutuhanmu sejak kau masuk di bangku sekolah menengah atas . Dia yang membantumu menyelesaikan semua pekerjaan sekolah karena aku sibuk dengan perusahaan dan ibu sibuk dengan teman teman arisannya . Dia mengurus kita dengan semua ketulusannya , apa kau merasakan hal itu ? Dia mencintai kita sebagai keluarganya ... satu satunya hal yang dia punya di dunia ini karena dia sudah tidak punya siapa siapa lagi selain kita. "
" A-aku ..... "
" Dan cintanya kita balas dengan kebencian . Aku membencinya karena dia tidak pernah bisa cantik dan memakai barang mewah seperti istri temanku yang lain . Aku membencinya karena kau dan ibu harus mengemis padanya hanya untuk mendapat uang hasil jerih payahku !! Aku membencinya karena dia hanya bisa berkutat di dapur , padahal wanita lain bisa mengurus keluarga sambil berkarir , aku membencinya karena dia tidak bisa berubah seperti yang aku inginkan .... aku membencinya !! Aku yakin kau pun sangat membencinya, " Gibran menjeda kata katanya , dadanya terasa sesak hingga ia tak bisa mengeluarkan suaranya lagi .
" Dia sempurna ... dia tak bercela ... mata kita yang buta !! Dia mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengurusku dan keluargaku . Aku terlalu brengsek untuk melihat kebaikannya dan Tuhan menghukumku untuk itu ... dia pergi ... dia pergi. "
" Vina minta maaf .... "
" Sebuah maaf pun tidak akan membuatnya kembali padaku ! Ya Allah ..... kenapa aku melepasnya , kenapa aku harus mengucapkan kata kata lucknut itu !! "
__ADS_1
Gibran meraup kasar wajahnya dengan kedua tangannya , sedangkan Vina mulai terisak . Hati gadis itu tersayat ketika melihat kakaknya terpuruk dan terlihat sangat menderita . Orang yang sama sekali tidak ia hargai adalah orang yang paling berarti di dalam hidup kakaknya . Jika waktu bisa di putar ia ingin berubah . Sungguh , Vina benar benar tidak ingin Gibran semenderita ini .