
" Bu nanti malam aku datang ke pesta temanku , aku butuh baju baru dan tas baru ! Malu kalau baju dan tas aku cuma itu itu saja, " kata Vina pada ibunya yang terlihat baru pulang pagi ini .
Setelah kepergian Gista dari rumah itu dan kepergian Gibran untuk menemui relasi , selama itu Sofi tidak pernah tidur di rumah . Selama tiga hari ini dia mengadakan pesta judi bersama teman teman arisannya di villa milik keluarganya . Sofi sedang merayakan perpisahan anak dan menantunya .
Sofi tidak peduli jika kalah ratusan juta karena ia berpikir dialah yang akan memegang uang bulanan keluarga yang menurutnya bernilai cukup besar . Dan kebetulan Gibran mengiriminya sejumlah uang setelah kepergian Gista . Mungkin uang itu sengaja dikirim untuk biaya hidup selama Gibran meninggalkan mereka di Jogja .
" Duit lbu habis !! Kau telpon saja kakakmu ... bilang saja ada kegiatan kuliah yang butuh biaya , pasti akan segera dikirim ! Bukannya dia selalu memprioritaskan pendidikanmu ?! "
" Aku sudah telpon Kak Gibran Bu , dia bilang kemarin dia baru saja transfer uang bulanan sebesar seratus juta . Ada uang jatahku juga disitu, " kata Vina melangkah mengikuti Sofi yang berjalan menuju kamarnya .
" Uang bulanan ?? Bukannya seratus juta itu uang untuk di belanjakan selama Gibran tidak di rumah !? Kata sekretarisnya Gibran akan ada di Jogja satu minggu , itu artinya seratus juta itu untuk biaya hidup satu minggu ! "
" Tapi ini kan baru tiga hari Bu , itu artinya masih sekitar lima puluh juta kan ?? Aku hanya minta sepuluh juta saja , please .... aku tidak ingin malu nanti di pesta ulang tahun Sherly . Aku harus terlihat lebih cantik dari dia Bu ! Aku yang harus mendapatkan hati Martin !! "
" Martin !? "
" Ckk ... dia ketua BEM , Martin cowok paling keren di kampus Bu, "
" Tapi uang lbu sudah benar benar habis , pergilah jangan buat lbu pusing !! lbu ingin tidur seharian ini . Inem mana ?? Mau ibu suruh pijitin kaki sama punggung , pegel banget ! "
" Mbak lnem ijin dua hari katanya ada kepentingan keluarga . Makanya lbu jangan pergi pergi terus !! Rumah jadi tidak ada yang ngurus !! "
" Berisik , keluar sana lbu mau tidur ! " ketus Sofi .
__ADS_1
Vina keluar dari kamar Sofi dengan mulut mengerucut , dia pikir jika Gista sudah pergi maka ia akan dengan mudah meminta uang pada ibunya tapi nyatanya malah sama saja . Ibunya ternyata malah hidup lebih boros .
Selama tiga hari ini ia hanya makan makanan yang ada di lemari pendingin yang sebagian besar di isi sayur mayur oleh Gista . Kakak iparnya selalu membeli daging segar jadi tidak akan ada stok ayam ataupun daging sapi di lemari pendinginnya .
Tapi sesaat kemudian senyumnya merekah ketika melihat sang kakak masuk ke dalam rumah dengan menyeret koper besarnya .
" Mas Gibran !!! " pekiknya gembira sambil berlari ke arah kakaknya . Diraihnya tangan kanan sang kakak untuk di bawa ke keningnya .
" Katanya Kak Gibran di Jogja seminggu , tau begitu tadi Vina jemput di stasiun. "
" Sudah tidak apa apa , tadi Kakak suruh Pak Kris jemput . Ibu mana ?? "
" Ibu tidur, katanya badannya lagi pegel pegel, " jawab Vina apa adanya .
" Suruh Mbak lnem buka koper yang masih ada di mobil , ada oleh oleh buat kamu , lbu dan Gista .... "
" Tapi kan Mbak Gista sudah .... "
Gibran hanya diam , pantas saja ada sesuatu yang kurang ketika kakinya melangkah masuk ke rumah ini . Biasanya istrinya akan menyambutnya dengan penuh senyum , bibir kemerahan itu akan tak ada hentinya bertanya tentang apa saja kegiatannya saat tidak ada dirumah .
Seperti seorang anak kecil Gista akan membuka oleh oleh yang dia bawa , sesekali Gista akan bersorak bahagia ketika oleh oleh yang diminta benar benar dibelikan olehnya . Setelah itu wanita halalnya itu akan naik ke pangkuannya dengan manja dan tak henti menciumi pipinya sebagai tanda terimakasih .
Tapi hari mulai hari ini dia tidak akan lagi melihat hal itu , dia tidak akan melihat senyum atau mendengar tawa itu lagi . Gibran bisa berpura pura baik baik saja di depan Vina atau semua orang dirumahnya . Tapi ia tidak bisa menipu dirinya sendiri .
__ADS_1
Rasa kehilangan itu masih saja sangat ia rasakan , ada rindu yang membuat hatinya sangat tersiksa . Gibran merindukan wajah cantik itu ... dia merindukan senyum itu ... dia merindukan suara manja itu !! Sungguh ia merindukan semua hal tentang istrinya .
" Mas lelah , Mas ingin istirahat dulu ya ... '
Tanpa mendengar jawaban dari adiknya Gibran langsung saja berjalan ke arah kamarnya . Badan dan pikirannya terasa sangat lelah . Apalagi tiga hari ini dia benar benar berpikir tentang talak tiga yang sudah telanjur ia ucapkan pada belahan jiwanya .
Waktu ituemosinya meledak hanya karena mendengar pengaduan Bina yang mengatakan jika Gista sudah menamparnya . Saat itu semua kebaikan sang istri lenyap , yang ada di otaknya hanya semua kekurangan istrinya .
KLEKKKKK ...
Perlahan dia masuk ke dalam kamarnya , Gibran berdiri sesaat untuk menikmati aroma strawberry yang menguar di indera penciumannya . Walau samar samar tapi ia masih bisa mencium aroma cologne yang biasa dipakai istrinya sehari hari .
" Sayang .... "
Ucapan itu terlontar begitu saja , otaknya ternyata masih merekam dengan sangat baik semua yang ada pada istrinya . Setelah melepas jas dan dasinya asal Gibran berjalan ke arah kamar mandi , dia ingin istirahat setelah membersihkan dirinya terlebih dahulu .
Tapi langkahnya terhenti ketika melewati meja rias milik istrinya , sudut matanya seperti melihat sesuatu .
DEGGHHHH ....
Gibran melihat sebuah cincin yang diletakkan diatas kartu berwarna kuning emas yang bertumpuk dengan dua buku nikah . Dengan langkah lunglai ia mendekati meja rias yang masih tertata rapi itu .
Kembali dadanya terasa diremas kuat ketika melihat cincin kawin yang di kenakan Gista sudah tergeletak didepannya . Ada sebuah kertas putih dilipat yang ia yakin adalah surat Gista untuknya .
__ADS_1
Dengan tangan bergetar diraihnya kertas putih itu ...