Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
95


__ADS_3

" Kenapa wanita itu rumit sekali sih Pah !? " keluh Bram yang turun untuk menemani papanya yang sedang menguras bak kolam ikan di samping rumah . Sangat berbeda ketika menjadi sosok pemimpin di perusahaan yang tak pernah lepas dari setelan formalnya , dedengkot Sadewo itu hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek rumahan .


Hardian memang suka memelihara ikan ikan hias untuk menghuni kolam yang sengaja dibuatnya di samping rumah . Kadang Sartika sampai mengomel karena suaminya mejadi lupa waktu karena disibukkan dengan ikan ikannya .


" Ya mana Papa tahu !! Papa kan bukan kaum mereka .... hanya sesama wanita yang tahu bagaimana hati wanita lainnya . Coba tanya Mamamu !! Tapi jangan pergi dulu , itu sebelah sana yang pojok kolam tolong disikat . Bantuin papa bersih bersih dulu ! " kata Hardian memberikan sikat lantai pada putranya .


" Paahhh ini emergency ... ini hidup dan mati Bram !! Kok malah disuruh bantuin bersih bersih sih !!? "


" Halahhhh ... paling masalah ' jatah ' !! Muka muka lemes kayak begitu biasanya masalahnya ya nggak jauh jauh dari itu ! " sahut Hardian yang membuat Bram menggaruk tengkuknya yang tidak gatal .


Papanya benar rasanya kepalanya mau meledak ketika dirinya didiamkan sang istri . Tadi dia sudah mencoba untuk menyusul istrinya di ranjang tapi hasilnya tetap saja sang istri memunggunginya . Tak ada reaksi apapun ketika tangan jahilnya menyentuh titik titik sensitif wanitanya . Dan semua itu sangat menyiksanya .


Hardian terkekeh ketika melihat putranya menggosok dinding kolam dengan mulut mengerucut . Dia tahu ada masalah yang sedang terjadi dalam rumah tangga putranya . Tapi dia tidak ingin ikut campur karena ia tahu benar sifat temperamen Bram . Sesekali pewaris tunggal Sadewo itu memang harus di beri shock terapi agar bisa mengendalikan emosinya . Dan ia percaya hanya Cahaya yang bisa melakukan itu semua .


" Pah minum dulu ! Mama bikin ubi goreng sama jus mangga nih .... " Sartika datang dengan membawa sebuah nampan berisi dua gelas jus dan sepiring cemilan .

__ADS_1


" Alhamdulilah dapat yang seger seger , kebetulan lagi panas banget ini Mah ! " kata Hardian yang kemudian naik untuk menikmati hidangan yang di bawa istrinya .


" Bram !! Naik dulu , nih Mama bawa makanan buat kita " teriak Hardian karena Bram belum juga naik walau sudah melihat mamanya datang .


" Kenapa dia Pah !? Kok kucel gitu ? " bisik Sartika pada suaminya .


" Biasalah ... nggak dijatah sama istrinya !! Kalau nggak kayak gitu nggak bakal berubah dia . Temperamen kok dipelihara , kena batunya dia sekarang ! "


" Hisshhh Papa bagaimana sih , anak lagi susah kok malah seneng ! " cicit Sartika langsung berjalan ke arah putranya dengan membawa segelas jus segar .


" Kenapa itu muka jadi nggak enak dilihat begitu , gantengnya hilang lhohh ! Kamu lagi marahan sama Cahaya !? "


" Ckk Bram yang salah Mah , tapi bingung mau minta maafnya bagaimana . Takutnya malah dia tambah marah, " keluh Bram berharap Mamanya punya ide brilian agar bisa mengobati luka hati istrinya .


" Memang kamu buat salah apa ?? "

__ADS_1


" Ehhmm ... ya salah yang bikin dia marahlah Mah , sebenarnya hanya salah paham saja . Tapi Bram sedikit keterlaluan, " jawab Bram sengaja tidak menceritakan yang sebenarnya . Jika Hardian ataupun Sartika tahu kebenarannya mungkin kedua orang tuanya itu akan ikut murka padanya .


" Jangan bertele tele !! Tidak mungkin Cahaya marah hanya karena sebuah kesalahan kecil " desak Sartika penasaran .


" Ehhmmm ... waktu malam resepsi Bram tinggalkan Cahaya sendirian di hotel karena mengira dia bertemu dengan mantan suaminya .... Aawwssshhhh !!! " pekik Bram ketika lengannya dicubit keras oleh Sartika , ditambah sebuah gayung yang tiba tiba melayang mengenai kepalanya .


" Pah ... Mah !! Sakit !!! "


" Dasar bodoh !! Otak udang !! Kalian baru menikah dua hari berarti waktu itu ... bisa bisanya menuduhnya berselingkuh . Jika Papa jadi Cahaya bukan hanya gayung yang akan kepalamu , kalau perlu kursi taman ini sekalian . Biar kepalamu bisa buat mikir .... " kata Hardian gemas dengan putranya sendiri .


" Pantes Cahaya diemin kamu !! Ya Allah bisa bisanya kami punya pikiran itu sih !? Sakitnya ditalak sama suaminya dulu saja mungkin sampai sekarang belum bisa hilang . Malah kamu nambah nambahin.... Kalian laki laki memang tidak punya perasaan !! " sinis Sartika pergi dari tempat itu dengan sesekali terdengar suara menggerutu yang tak jelas .


" Lhohh Mah ! Kan Bram yang bikin salah ... bukan Papa ! "


" Urus itu anak Papa !! Suruh dia mikir kalau mau melakukan sesuatu , jangan asal tuduh !! Bukan anak kecil lagi dia !! Bersikaplah layaknya seorang S U A M I !!!! "

__ADS_1


" Yahhh kamu yang salah malah jadi Papa yang kena imbasnya . Tuh denger kata Mama kamu ... bersikaplah dewasa karena sekarang kamu sudah menjadi seorang S U A M I !!! " ujar Hardian menirukan kata kata istrinya .


" Bram mengerti .... "


__ADS_2