
Bram benar benar menepati janjinya , dia datang ke kediaman Wijaya malam ini . Lama tidak pernah berkunjung membuatnya sedikit canggung . Satu tahun pelariannya dari rumah ia sama sekali tidak pernah menghubungi wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri itu .
" Kau datang juga anak nakal .... "
Bram tersenyum lebar melihat Lena yang menyambutnya dengan hangat , diraihnya tangan wanita itu untuk di bawa ke keningnya . Sedang Lena menepuk lembut punggung pria muda anak dari sahabat baiknya , pria yang juga sudah menjadi putranya bahkan sejak kelahiran Bram .
" Maaf Bram baru bisa berkunjung hari ini. "
" Tidak apa apa , ibu tahu kau sudah mulai sibuk dengan perusahaan . Seperti itulah seharusnya seorang pria Sadewo , berani menghadapi apapun di depannya. "
" Jangan menyinggungnya lagi Bu, " gerutu Bram yang tahu arah pembicaraan wanita di sampingnya , mereka sedang duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu maid menyiapkan makan malamnya .
__ADS_1
" Mudah untuk menjadi orang besar , tapi tidak mudah menjadi orang yang berhati besar ! Semua yang ada di dunia kadang berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita pikir karena tidak ada yang sempurna . Termasuk papamu .... Hardian pria yang sangat mencintai istrinya . Tapi Tuhan menguji cintanya melewati mamamu sendiri . Dan nyatanya kau bisa lihat kan ?? Mereka bisa melewatinya , semua baik baik saja pada akhirnya . Sayangnya putra mereka yang malah lari .... "
" Cahaya mana ?? Atau harus Bram panggil dia dengan sebutan kakak ?! " tanya Bram agar pembicaraan mereka tidak membahas kejadian yang lalu lagi .
Lena tertawa kecil , dia sudah tahu semua karena sempat berbicara dengan Hardian sebelum Bram datang . Hardian dan Sartika mungkin belum mengetahui siapa wanita idaman putranya , tapi dengan melihat cctv kejadian di area parkir Wijaya menjadikan Lena tahu jika sebenarnya Cahaya dan Bram saling mengenal .
Lena memang belum tahu seperti apa hubungan antara Bram dan Cahaya , tapi ia tetap memegang teguh prinsipnya . Jika ia tak akan memaksakan perjodohan ini . Apalagi ia tahu putrinya sedang melalui fase yang sulit di hidupnya . Dia anggap pertemuan Bram dan Gista sebagai Cahaya adalah pertemuan dua saudara yang lama tidak bertemu .
" Dia memang lebih tua darimu lima tahun , sudah seharusnya kau panggil dia kakak . Sebentar lagi dia pasti turun , tadi ibu lihat dia sedang mengecek email yang dikirim oleh asisten pribadi ibu. "
" Pak Alif , dia yang sudah membantu lbu selama tahun tahun terakhir setelah kepergian ayahmu Karta Wijaya . Dulu bahkan aku tidak mengenalnya , dia hanya dekat dengan ayahmu !! Pak Alif sangat profesional dalam pekerjaannya . Aku dan dia hanya terhubung di perusahaan . Mana bisa kau mengenalnya , jangankan menginjakkan kaki di gedung Wijaya ... gedung Sadewo saja kau hampir tidak pernah menginjaknya, " kata Lena yang tahu dulu Bram tidak pernah tertarik terjun ke dunia perusahaan .
__ADS_1
Lulus sekolah menengah atas Bram lebih fokus membantu kesibukan Sartika yang mempunyai usaha katering dan WO . Pria muda itu belum mau terjun ke Sadewo walau berkali kali dia dan Hardian menasehatinya . Makanya menjadi kejutan besar bagi semua ketika tiba tiba dengan sendirinya si keras kepala itu malah mau belajar mengurus perusahaan saat pulang dari pelariannya .
" Sebelumnya Bram ingin minta maaf , Papa sudah berbicara tentang rencana kalian pagi tadi . Tapi Bram .... "
" Anak nakal !! lbu tahu tanpa kau memberi penjelasan , masalah hati tidak bisa di paksa . Kami menghargai pendapat kalian ! Kau dan Cahaya sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan hidup, " kata Lena dengan menghembuskan nafasnya dalam dalam . Hardian benar ! Jika sudah ada wanita lain mengisi hati putra mereka .
" Walau begitu kami masih bisa jadi saudara ! Aku akan menjaganya selayaknya aku menjaga kakak kandungku !! "
" Ibu tahu itu Nak , ibu juga sudah melihat jika kau memang mampu menjaganya. "
" Maksud lbu ?? " tanya Bram , kata kata Lena barusan seakan mengatakan jika dia pernah bertemu dengan putri ibunya yang hilang .
__ADS_1
Tapi sejurus kemudian pandangannya teralih karena mendengar suara yang sangat di kenalinya . Matanya seperti tidak percaya dengan apa yang ada di depannya . Pandangan mereka beradu dengan sorot yang sama sama terkejut .
" Dia putri lbu ... Cahaya Cinta Wijaya . Panggil saja dia Kak Aya seperti lbu memanggilnya . Mulai sekarang dia akan menjadi kakakmu ! "