
Hari ini Gisel sudah diijinkan pulang oleh dokternya , walau begitu dokter berpesan agar wanita cantik itu tetap membatasi kegiatannya agar tidak terlalu lelah . Jika biasanya ibunya yang mendampingi tapi kali ini berbeda , seorang pria parubaya dengan perawakan tinggi kurus terlihat mendorong kursi rodanya . Heru Darsono atau ayah kandung Gisel sendiri yang menjemput putrinya .
Gisel keluar rumah sakit saat pagi buta , saat rumah sakit masih benar benar sepi . Beberapa pengawal terlihat berjaga di beberapa titik karena mereka meminta petugas rumah sakit mematikan cctv untuk sementara di jalan yang akan dilalui Tuan Besar mereka . Heru Darsono adalah pria yang sangat menjaga privasinya .
" Apa aku merepotkan Ayah ?? "
" Hari ini Ayah tidak ada kegiatan dan ibumu sedang keluar kota bersama bibimu menengok saudara yang sedang sakit ! " jawab pria itu dengan nada datar .
Gisella menghembuskan nafasnya , ia tahu jika ayahnya tidak pernah setuju jika ia mempertahankan bayi dalam kandungannya . Tapi ayahnya juga bukan seorang pembunuh yang tega menghilangkan nyawa cucunya sendiri . Dilema ini yang membuat dia dan ayahnya menjaga jarak selama beberapa minggu ini .
Dan nafasnya terasa berhenti ketika melihat Gibran berdiri di ujung lorong yang akan mereka lewati . Pria itu dengan tegak berdiri disana seakan memang menantikan kedatangannya dan ayahnya . Dua penjaga tampak menghampirinya tapi satu tangan Heru terangkat seakan mengatakan untuk membiarkan ayah dari calon cucunya itu mendekat .
Gisel merutuki tindakan nekat Gibran habis habisan , bisa bisanya pria itu tahu jika di pagi buta begini dia akan meninggalkan rumah sakit . Apalagi sang ayah sendiri yang mendampinginya . Heru Darsono adalah pria pendiam tapi ia yakin ayahnya tidak akan pernah memaafkan Gibran dengan mudah atas apa yang terjadi padanya .
" Selamat pagi Tuan Darsono .... "
__ADS_1
Heru menjawab sapaan pria muda di depannya dengan tatapan dingin . Dua tangannya mengepal menahan gejolak emosinya . Tapi pria parubaya itu tetap tampak tenang , diserahkan Gisel yang berada di atas kursi roda pada pria disampingnya .
" Bawa putriku pulang , aku ingin bicara dengannya .... "
" Ayah ! " Gisel menggeleng pelan seakan memohon pada ayahnya agar tidak menyakiti Gibran , apapun yang terjadi pria itu adalah ayah kandung dari calon bayinya . Tapi apa daya ayahnya sudah berjalan menjauh di ikuti oleh Gibran di belakangnya .
" Cepat ikuti mereka ... " perintah Gisel pada empat orang pria yang menjaganya . Dia hanya ingin mencegah jika terjadi sesuatu yang buruk pada Gibran .
" Maaf Nona , tapi Tuan Besar meminta kami mengantar Nona pulang . Dan Nona tahu jika perintah Tuan Besar adalah mutlak, " sahut salah satu dari empat pria bertubuh besar itu .
Sementara itu Gibran mengikuti langkah Heru menuju area parkir rumah sakit , ia menurut ketika pria itu memintanya untuk masuk ke dalam mobilnya . Gibran benar benar pasrah , sangat wajar jika Heru ingin menghajarnya karena dia sudah merusak putri satu satunya keluarga Darsono .
Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah tempat yang tampaknya adalah sebuah sasana olah raga . Dan sepertinya ini adalah salah satu tempat usaha milik Heru Darsono karena semua pegawai tampak menunduk hormat ketika mengetahui kedatangannya .
Mereka naik ke lantai dua dan sampai di sebuah ruangan yang tampaknya adalah kantor pribadi pria parubaya itu .
__ADS_1
" Masuk ... "
Sampai di dalam sebuah pukulan keras mendarat keras di rahangnya sampai Gibran terpental dengan tubuh membentur pintu .
" Akkkhhhhhh .... "
Gibran hanya menyapu darah yang mengalir di sudut bibirnya , dia bangkit tanpa berniat membalas pukulan itu . Wajahnya tertunduk untuk menunjukkan rasa hormatnya pada ayah dari Gisella .
" Kenapa kau diam ?? Jika kau benar benar seorang laki laki maka balas aku !! " hardik Heru dengan tatapan tajamnya.
" Hanya pengecut yang mampu berbuat seperti yang kau lakukan pada putriku !! Jika kau bukan ayah dari cucuku maka aku pastikan nyawamu akan berakhir sekarang juga .... "
" Saya bersalah , dan saya akan menerima apapun hukumannya ! Termasuk jika anda menginginkan nyawa saya. "
" Kau pikir aku sedang bercanda anak muda ?? Kau pikir aku takut untuk membunuhmu !?? " ketus Heru mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya .
__ADS_1
Gibran hanya diam walau melihat Heru mengambil dan meletakkan senjata api di atas meja . Dia akan hadapi semua untuk membuktikan pada Gisel bahwa dia serius dengan hubungan mereka , dan Gibran akan melakukan apapun untuk menebus kesalahannya .