Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
115


__ADS_3

Martin menuruti kemauan gadisnya , diciumnya kening Vina dengan penuh perasaan dengan waktu yang cukup lama . Dia tangannya merengkuh erat tubuh Vina seakan ingin mengatakan jika semua akan baik baik saja .


Martin tahu mungkin sesuatu sudah terjadi walau ia belum mengetahui masalahnya . Tapi kemungkinan besar masalah itu adalah tentang ibunya karena setahunya Gibran menikah hari ini dan tak bisa menjaga adiknya .


" Aku memintamu untuk menciumku Kak , bukan mengecup keningku .... " lirih Vina dengan membenamkan kepalanya di dada pria yang masih merengkuhnya . Beban di hatinya menjadi sedikit terangkat ketika berada bersama ketua mahasiswanya .


" Ya , jika aku menciummu di tempat ini sekarang , aku pastikan kita akan berakhir disana .... " tunjuk Martin ke arah ranjang kecil yang ada di kamarnya .


" Tapi aku hanya ingin dicium , bukan bercinta !! Jika Sherly bermasalah dengan orang tuanya dia akan mendatangi pacarnya dan memintanya untuk menciumnya ! Dia bilang masalahnya akan hilang dari pikirannya . Dia bilang sebuah ciuman mempunyai kekuatan yang hebat untuk menyelesaikan masalah .... "


" Dan kau percaya ??? "


" Tentu saja tidak !! Aku hanya ingin membuktikannya , jika benar benar salah maka aku tidak akan memintamu lagi untuk menciumku ... " jawab Vina dengan kepala yang masih ia benamkan dalam pelukan Martin .


Martin membawa tubuh dalam rengkuhannya untuk duduk di sofa single yang ada di samping ranjangnya . Sedang dia duduk di tepi ranjang , dia hanya tak ingin kalap jika terus terusan menyentuh tubuh sintal gadis yang sudah ia klaim sebagai miliknya .

__ADS_1


" Ada masalah ?? Kau bisa bercerita padaku jika kau mau !! "


Vina menatap pria yang duduk tak jauh darinya , ada rasa hangat ketika tangan kekar itu menggenggam erat tangannya .


" Berapa lama orang akan mendapat karmanya ?? Apakah aku boleh menyerah ? Aku tidak sekuat Kak Cahaya .... aku ingin pergi jauh , aku tidak ingin kembali kerumah itu lagi . Bawa aku pergi !! " pekik Vina mulai kalut .


Martin membawa tangan Vina untuk dikecupnya , dia tahu Vina mempunyai masalah dengan keluarganya . Dia tahu karena Gibran sering berbagi cerita padanya setelah perpisahannya dulu dengan mantan istri pertamanya . Dia juga kurang lebih tahu bagaimana peran Vina dan ibunya .


Satu hal yang membuat dia tertarik pada adik dari pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu , gadis itu benar benar bisa berubah dan menyesali kesalahannya . Dulu Martin bahkan tidak melirik sedikitpun gadis seksi yang ia anggap egois dan arogan itu . Tapi semakin kesini ia bisa melihat sisi baik dan empati Vina yang besar pada orang lain , terbukti pada dirinya sendiri yang saat itu sedang menunggu makanan di kafenya sendiri .


" Dengan pergi tak akan pernah bisa menyelesaikan masalah . Kau adalah gadis yang kuat dan jangan pernah merasa sendiri karena masih ada Kak Gibran atau aku yang akan selalu ada di belakangmu . Kau pasti bisa melaluinya .... "


Tangis Vina pecah , gadis itu tak bisa lagi menahan semua gejolak hatinya . Walaupun sudah menyesali semua kejahatannya tapi ternyata tidak cukup untuk membayar kesalahannya . Satu persatu kejahatannya kembali kepadanya ! Orang yang paling menyayanginya menjadi sosok paling menakutkan di hidupnya .


Martin menarik tubuh sintal itu yang duduk diatas sofa agar duduk dipangkuannya . Direngkuhnya tubuh itu agar bisa lebih tenang .

__ADS_1


" Kak ... "


Vina hanya bisa memejamkan matanya ketika jari Martin menyapu lembut pipi dan bibirnya . Dan entah siapa yang memulainya , dua bibir itu kemudian saling bertaut dengan lembutnya . Dan hanya dengan hitungan detik kecupan lembut itu berubah menjadi sebuah pagutan yang lebih menuntut .


Lidah mereka saling bertaut dengan nafas yang yang tak beraturan , dan Martin ' menggila ' dengan dua tangan yang mulai menyusup dibalik baju gadisnya . Vina menggeram lirih ketika merasakan dua tangan kekar itu meremas lembut dua bukit yang masih tertutup kain penghalangnya . Sensasi rasa yang baru pertama kali ia rasakan .


" Akkkhhhhhh ... " jerit Vina ketika bibir Martin menyesap kuat leher bagian bawahnya , terasa sakit awalnya tapi sangat nikmat sesudahnya .


Hingga mata Vina terbuka ketika tiba tiba tautan bibir mereka terlepas dan perlahan Martin menurunkan tubuhnya dari pangkuan pria itu . Vina bisa melihat wajah Martin yang memerah , gadis itu berpikir sepertinya pria itu sedang menahan sakit .


" Kak ... kau kenapa ?? Apa kau sakit !? " kata Vina dengan menempelkan punggung tangannya di kening Martin .


" Malam ini tidurlah di sini . Kita bicarakan ini besok lagi . Aku akan tidur di kamar teman yang ada di sebelah ! Telpon saja jika kau membutuhkan sesuatu .... "


" Kenapa begitu ?? "

__ADS_1


" Gerah ... aku tidak bisa tidur jika hawanya terlalu gerah !! "


__ADS_2