
Siang itu Cahaya datang ke kantor Sadewo karena ada beberapa hal yang perlu ia tanyakan pada Hardian karena pria itu menjadi salah satu orang yang mengawasi jalannya perusahaan Wijaya sesuai amanat dari Karta Wijaya .
Dia sengaja tidak mengabarkan kedatangannya pada Bram karena mengira jika pria itu masih marah padanya gara gara kejadian kemarin pagi . Cahaya meninggalkan begitu saja Bram yang tidak mendengarkan kata katanya untuk tidak meladeni Gibran .
Pesan yang dia kirimkan semalam pun sama sekali belum terbaca . Padahal itu adalah tentang keputusan terbesar dalam hidupnya . Cahaya hanya mencoba memahami isi hati pria yang nyatanya jauh lebih muda darinya itu . Mungkin wajar jika Bram masih marah padanya .
Tiba di kantor milik Hardian dia sedikit kaget karena Bram terlihat ada disana . Mereka terlihat sama sama terkejut dan sama sama kikuk . Hardian hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua muda di depannya .
" Masuklah Nak !! Tenang saja anak bandel ini sudah akan keluar jadi kau bisa bicara dengan Papa . Apa kau keberatan jika mulai hari ini kau memanggilku dengan panggilan yang sama dengan Bram memanggilku ?! "
Cahaya yang sudah duduk di sofa hanya tersenyum ramah , sebelum menjawab ia sempat melirik ke arah Bram yang ternyata juga sedang melirik ke arahnya .
" Tentu saja saya tidak keberatan , sebuah kehormatan bagi saya karena anda memang sudah saya anggap sebagai orang tua saya . Cahaya harap Papa tidak pernah bosan untuk menegur jika Cahaya berbuat salah !! "
Hardian tertawa karena tutur kata Cahaya yang masih saja terdengar sangat formal padanya . Tapi dia maklum karena mereka belum lama saling mengenal .
Belum sempat Hardian bertanya tentang kepentingan Cahaya , sekretarisnya tampak masuk dengan membawa sebuah map besar berisi laporan .
" Maaf tuan Hardian kita harus segera ke GCC Group , sebentar lagi kita akan meeting dengan mereka. "
__ADS_1
" Baik , kita segera berangkat ! Cahaya maaf sekali jika Papa malah harus pergi, " kata Hardian merasa tidak enak harus meninggalkan calon menantunya sebelum mereka sempat untuk bicara .
" Tidak apa apa , Cahaya yang salah karena tidak memberi tahu Papa sebelumnya. "
Dan kini tinggallah Bram.dan Cahaya di ruangan itu . Bram perlahan duduk disofa tepat disamping Cahaya .
" Apa kau masih marah !? " tanya Cahaya yang membuat Bram menatapnya keheranan .
" Bukannya kau yang marah padaku !? Kemarin kau langsung pergi meninggalkan aku, " sahut Bram .
" Semalam aku mengirim pesan padamu tapi sampai sekarang kau tidak membacanya ... "
Cahaya memberikan ponselnya dan menunjukkan pesan yang semalam ia kirimkan , dia ingin Bram membacanya .
" Apa kau serius dengan ini !? " Bram menunjukkan pesan yang semalam Cahaya kirimkan padanya .
" Tentu saja ... " jawab Cahaya singkat . Tadi saat sarapan dia juga sudah mengutarakan semuanya pada ibunya . Jika ia bersedia menikah agar kedepannya bisa lebih menata hidupnya .
" Kenapa kau berubah pikiran secepat itu ?? Aku kira kau tidak setuju dengan niatku untuk secepatnya menikahimu . Apa ada sesuatu yang tidak aku tahu ?? "
__ADS_1
" Jadi maumu apa ?? Aku tidak setuju salah ... setuju juga salah ! Jika kau tidak serius maka aku tarik semua kata kataku semalam ! Aku menyetujuinya karena aku ingin hidupku ' normal ' . Dengan mempunyai seorang pria di sisiku maka hidupku akan sempurna , dengan menikah dan berkeluarga aku kembali punya tujuan hidup . Apa menurutmu itu salah !? "
Bram meraih tangan Cahaya dan dibawanya untuk di kecup sekilas . Hatinya sungguh merasa bahagia .
" Kau pikir cintaku sedangkal itu ?? Aku sadar aku bukan pria penyabar seperti yang harapkan , aku masih sering bertindak tidak dewasa tapi aku bersumpah jika aku mencintaimu dengan nyawaku ! Secepatnya aku akan urus pernikahan kita, "
" Bram ... apakah kau bisa berjanji satu hal padaku ??! Apapun yang terjadi jangan lepaskan aku ... "
Bram mengeratkan genggamannya , dia tahu Cahaya masih trauma dengan masa lalunya . Cahaya belum sepenuhnya bisa percaya pada seorang pria .
" Tidak akan !! Sampai matipun aku tidak akan melepasmu ... "
*
" Gis kamu lagi sakit ?? Beberapa hari ini mukamu sepertinya pucat sekali . Pola makanmu juga tidak seperti biasanya , kau menjadi pemakan segala !! " ujar seorang wanita cantik yang sedang di cat rambutnya di sebuah salon dan spa ternama di lbukota .
Tempat itu adalah salah satu tempat usaha milik Gisella , dan seorang sahabatnya sedang berkunjung untuk melakukan perawatan wajah . Sejak malam Gibran menolaknya Gisella tak pernah lagi mau mencoba menghubungi pria itu .
Wanita itu bertekad apapun yang akan terjadi ke depannya akan sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya . Gisela tahu jika dia yang sepenuhnya bersalah karena dengan beraninya menggiring Gibran untuk melalui satu malam panas mereka .
__ADS_1
Walau belum melakukan tes ataupun periksa ke dokter tapi Gisela yakin jika ada janin di rahimnya . Dia akan membuktikan pada Gibran jika ia mampu untuk membesarkan anak mereka sendirian .