Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
18


__ADS_3

" Mas Bram menang !!! Mas Bram menang !! " pekik Darto antusias ketika kembali melihat jagoannya melewati garis finish paling depan . Begitupun teman teman ojek Bram yang malam itu ikut menyaksikan balap liar kali ini . Mereka kurang lebih ada sepuluh orang .


" Bagaimana ?? "


" Aman , sepertinya tidak ada di antara mereka yang mencurigakan . Pokoknya di perhatikan terus saja , perasaanku kok nggak enak kalau terlalu anteng begini !! " ujar salah satu teman .


Walau sangat ramai tapi malam ini sepertinya tidak ada kendala bagi Bram . Kucir dan orang orangnya yang mereka kira akan mengamuk bahkan sudah tidak terlihat lagi saat Bram sedang menerima uang hasil kemenangannya .


" Sepuluh juta ini Mas .... saya minta tolong ini lima juta tolong dikasihkan ke panitia pembangunan mushola yang ada di kampung kita . yang lima juta Mas Darto saja yang pegang . Besok baru kita tentukan sisa uang ini mau buat apa saja .... "


" Pijet sama ke dokter Mas , tadi saya lihat Mas Bram sempat jatuh disenggol sama Kucir kurang asem itu !! Dengkul sama sikut Mas Bram masih berdarah darah gitu kok ! Jangan mikirin kita kita dulu. "


" Bener itu Mas , sekarang sebaiknya kita pulang sekarang ! Tapi tetep waspada kok rasanya aneh menang tanpa perlawanan, " kata Darto memperingatkan teman temannya .


Akhirnya Bram.dan kesepuluh temannya pulang menuju kampungnya , di awal perjalanan mereka bisa sedikit tenang karena tidak ada hambatan seperti yang mereka pikirkan . Tapi saat sampai di tengah perjalanan tampak segerombolan orang menghadang mereka . sesuai dengan yang mereka duga Kucir cs tidak akan menerima kemenangan Bram .


" Siap siap Mas .... "'


Bram dan teman temannya berhenti , walau kalah jumlah mereka tidak akan gentar menghadapinya . Mereka semua juga berhenti tepat di depan orang orang yang menghadang mereka .


" Punya nyali juga kalian berhenti ... " seru pria kurus kecil berkulit coklat gelap dengan rambut panjang dikuncir belakang yang sering dipanggil dengan sebutan Si Kucir .

__ADS_1


" Apa maumu b*ngsat !!! Tidak ada yang perlu aku takutkan untuk menghadapi pecundang sepertimu. "


" Anj*ng !!! Nyawa sudah di ujung tanduk masih saja bisa sombong !! "


Bram turun dari tangannya , satu tangannya terangkat ketika Darto dan teman temannya ingin turun mengikutinya . Seakan mengatakan untuk membiarkan dia sendiri yang menghadapi Kucir .


" Tidak usah bawa bawa mereka , kita selesaikan berdua ! Jangan jadi perempuan yang bisanya bersembunyi di ketiak teman temanmu, " tantang Bram mencoba memancing emosi pria kurus kecil itu .


Bram tidak ingin teman temannya kembali terluka , selain kalah jumlah dia yakin orang orang Kucir juga sudah menyiapkan senjata di balik baju baju mereka .


" Kau pikir aku takut !? " walau bisa berkata seperti itu tapi pria bernama Kucir itu masih tetap ada di atas motornya . Dia harus berpikir seratus kali lipat untuk melawan satu lawan satu pria muda yang sedang menantangnya itu .


Pria muda itu mempunyai postur tinggi besar dengan badan yang kekar , dan sepertinya juga bukan pria biasa . Dari gerak geriknya pasti pemuda bernama Bram itu adalah petarung yang hebat .


" Dasar pengecut !! B*jingan ..... " gumam Bram merangsek ke depan untuk meraih tubuh pria bernama Kucir itu . Jika dia berhasil menangkap pemimpin mereka maka otomatis ia bisa memukul mundur orang orang di belakangnya , tapi ....


JLEEEEBBBBB ....


DOORRR ... DOOORRRRR


Salah satu orang yang ada di belakang Kucir tiba tiba saja menyarangkan pisau di tubuh Bram , walau berhasil menangkisnya tapi pisau itu sempat menggores lengan dan telapak tangannya dengan cukup dalam .

__ADS_1


Darah segar mengucur deras di luka goresan tapi Bram tidak mempedulikannya . Mereka semua mengira jika polisi sudah datang ke tempat itu , terbukti dengan suara tembakan yang barusan nyaring terdengar .


Semua orang kalang kabut melarikan diri , tak ada satupun dari mereka yang ingin berurusan dengan pihak yang berwajib . Tanpa mereka sadar jika dua tembakan itu sengaja di lepas oleh dua orang berjaket hitam yang tempo hari mengawasi Bram .


Mereka sengaja melepas tembakan agar pertarungan tidak seimbang itu urung terjadi . Mereka tahu orang orang Bram sama sekali tidak siap bertarung , tak ada satupun dari mereka membawa senjata seperti orang orang Kucir .


Sekuat tenaga Bram memacu motornya walau sebenarnya ia sudah merasa sedikit pusing . Dan darah terus saja menetes dari lukanya , jika saja tak khawatir polisi menemukannya ia bisa berhenti sebentar untuk mengikat lukanya untuk menghentikan pendarahannya . Sampai akhirnya ....


Dettt ... deettt


Motor yang ia naiki mati , mungkin karena kehabisan bensin . Untung saja ia sudah sampai di pinggir kampungnya hingga ia bisa sedikit lebih tenang .


Bram meletakkan motornya di belakang gubuk tempatnya biasa mangkal bersama para tukang ojek yang lain . Tempat itu tempat teraman untuk menyembunyikan sepeda motornya yang di penuhi noda darah pada salah satu setangnya . Telapak tangan yang ia gunakan untuk menangkis pisau masih saja berdarah .


Niatnya ingin ke rumah Jarwo , tapi sepertinya terlalu jauh . Dia tak yakin bisa berjalan sejauh itu dengan kepala yang sangat pusing seperti ini . Suasana dini hari yang sepi membuatnya sedikit leluasa di jalan kampung yang lengang .


Sampai ia tak kuat lagi berjalan kemudian perlahan menghampiri sebuah pintu untuk ia ketuk dan mintai tolong . Bram sengaja mengetuk sedikit keras agar sang penghuni segera bisa keluar menolongnya


TOKKKK ... TOOKKKKKK ... BRAKKKKK


" Tolongggggg .... "

__ADS_1


" Ya Allah ... BRAMMMM !!! "


__ADS_2