
" Mbak lnem bikin teh buat siapa ?? Kak Gibran ada tamu !? " tanya Vina pada lnem yang sore itu terlihat membuat dua cangkir teh dengan sepiring cemilan sebagai temannya . Rasanya tidak mungkin ibunya yang mempunyai tamu karena sudah dari semalam Sofi tidak pulang . Jika weekend ibunya sering tidak berada di rumah , biasanya berkumpul di rumah salah satu teman sosialitanya untuk berjudi .
" Buat Tuan Gibran sama tamunya Non , sumpah cakep banget !! Mukanya ganteng kaya artis Non , terus rambutnya panjang panjang gitu di ikat asal . Kayak seniman ... tampan tapi misterius ! "
Vina mengerutkan dahinya ketika mendengar ciri ciri tamu kakaknya . Dari apa yang didengarnya ciri ciri itu sangat relevan dengan pria pengganggu hidupnya yang pagi tadi berebut tauge goreng dengannya .
" Tidak mungkin , Kak Gibran kan enggak kenal sama kak Martin ! Mereka hanya pernah bertemu sekali di pestanya Sherly waktu itu " gumam Vina yang sampai saat ini memang belum tahu jika Gibran memang berteman baik dengan Martin . Bahkan Gibran sering meminta Martin untuk memantau Vina di kampus setelah kejadian memalukan di pesta ulang tahun itu .
" Aduhhh Non ... Mbak lnem minta tolong dong !! Nih teh tolong dianter dulu , mau ke toilet sebentar kebelet pipis .... kalau nanti nanti keburu adem ! Den Gibran bisa marah .. tolong yaaa " ujar Inem yang kemudian berlari ke arah toilet .
" Lhohh Mbak !! Kok Vina sih !! "
" Tolong ya Non !!! "
Vina berdecak kesal ketika pembantunya itu sudah tidak terlihat lagi . Bisa bisa pria pengganggu itu akan mengira jika dirinya sengaja mengantar teh untuk mencari perhatian . Tapi jika tehnya tidak segera diantar pasti Gibran akan segera ke dapur marah marah .
Dengan terpaksa Vina mengambil nampan dan berjalan ke arah teras , dua pria itu langsung menatap ke arahnya ketika dia muncul dari pintu depan .
" Lhohh kok kamu yang nganterin ??! Ooooo ... mau ketemu sama Martin ya ! Ya sudah kakak masuk saja , capek banget pengen tidur sebentar ... "
" Lhohh Kak kok malah ditinggal sih ! Dia kan tamu kakak ... bukan tamu Vina ! " pekik Vina mulai panik , dia tidak tahu harus berbuat apa jika ada di depan pria menyebalkan itu .
Setelah Gibran masuk baru Vina duduk dengan memandang sebal pada Martin .
__ADS_1
" Kak Martin kapan pulang ?? "
" Teh sama kuenya saja belum aku makan , mubadzir nanti ! " sahut Martin dengan pandangan tak lepas dari gadis disampingnya .
" Ya udah sekarang minum tehnya , terus kuenya dimakan ... habis itu pulang ! " ketus Vina .
" Ok , tapi karena tehnya masih sangat panas maka sepertinya harus menunggu dingin terlebih dahulu . Jika ingin tehnya cepat dingin maka kau harus meniupnya untukku, "
" Tidak mau !! Masa Vina disuruh niupin teh Kak Martin sih ... "
" Ya berarti temani aku disini lebih lama , kalau begitu aku makan kuenya dulu . Ehmm bisa aku minta tolong !? " tanya Martin dengan senyum mengembang karena Vina masih saja mengerucutkan bibirnya .
" Apa !! "
" Hissshhh ... merepotkan !! Kenapa tidak tehnya saja ?! "
" Ok , tapi seperti yang aku katakan tadi . Kamu tiupin teh Kakak. "
Vina segera mengambil gelas Martin , walau menggerutu tapi gadis itu menurut dengan meniup teh panas yang ada di dekat Martin . Vina berharap jika tehnya dingin maka Martin akan segera meminumnya , dan itu artinya pria itu akan cepat pulang .
Gadis itu tidak habis pikir bagaimana bisa dia pernah mengidolakan pria disampingnya . Dulu dia pikir pria bernama Martin itu adalah pria tampan yang cool dan keren . Tapi kenyataannya jauh dari apa yang dia bayangkan . Walau ia akui Martin tampan , tapi pria itu amat sangat menyebalkan !
Setelah beberapa saat sibuk meniup Vina merasa teh Martin sudah tidak terlalu panas .
__ADS_1
" Tehnya sudah tidak terlalu panas , Kak Martin sudah bisa meminumnya ... "
" Sudah kamu coba ?? Bagaimana kalau masih terlalu panas untuk di minum !? " kata Martin dengan senyum penuh arti .
Dan Vina dengan segera menyeruput teh dalam gelas itu untuk membuktikan jika teh itu sudah benar benar aman untuk diminum .
" Udah bisa diminum , lebih enak anget gini minumnya daripada udah dingin ... "
Martin menerima gelas yang tadi diminum oleh Vina , dan dengan gaya sangat jati hati ia terlihat mencicipi tehnya . Tapi pria itu menyerahkan gelasnya kembali pada Vina setelah beberapakali menyeruput tehnya .
" Masih terlalu panas ... "
" Hissshhhh merepotkan " gerutu Vina menyambar gelas milik Martin dan kembali meniupnya . Setelah terasa sudah dingin Vina kembali menyerahkan gelasnya pada pria di sampingnya .
" Sudah kau cicipi ?! "
Vina kembali menyeruput tehnya , setelah yakin jika tehnya sudah dingin gadis itu menyerahkan kembali pada Martin . Senyum pria itu mengembang ketika melihat isi gelasnya tinggal sedikit , dengan sekali tenggak Martin menghabiskan tehnya .
" Sudah habiskan ?? " tanya Vina penasaran melihat isi gelas Martin .
" Sekarang kau sudah resmi jadi pacarku . Kita sudah makan di piring yang sama , minum di gelas yang sama ... dan aku sudah menciummu . Jadi jangan pernah menolak kehadiranku lagi karena mulai saat ini kau sudah menjadi milikku !! " kata Martin yang kemudian melangkah pergi setelah mencuri satu ciuman di kening Vina .
" A-apa .... "
__ADS_1