Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
62


__ADS_3

" Pah ..... "


" Heemmmm .... " jawab Hardian yang pagi itu sedang membaca berita ekonomi di tablet miliknya , rutinitas pagi yang selalu ia lakukan sebelum berangkat ke kantor . Dia tahu persis apa yang akan di bicarakan putranya karena semalam Lena sudah menelpon istrinya .


Tanpa mereka duga wanita yang menjadi incaran putra mereka adalah Cahaya . Bram dan Cahaya sudah saling mengenal sebelumnya . Dan mereka mengenal tanpa mengetahui latar belakang masing masing , jika mereka sama sama menjadi pewaris tunggal sebuah perusahaan besar .


" Bram ingin bicara serius, " kata Bram menata nafasnya , ia tahu mungkin setelah bicara papanya akan marah . Dia ingin menarik semua kata katanya tempo hari yang menolak perjodohannya dengan Cahaya .


" Bicaralah ... Papa mendengarnya ! " jawab Hardian pura pura tidak begitu peduli dengan apa yang akan di bicarakan oleh putranya .


" Bram ingin setelah masa idahnya selesai pernikahan kami bisa disegerakan . Bram sangat mencintainya dan aku tidak ingin statusnya menjadikan dia dipandang sebelah mata oleh masyarakat, "


" Oooo jadi kamu ingin menikahi kekasihmu , dan dia juga sudah janda seperti Cahaya ?? Sudah Papa bilang kan , selama itu membuatmu bahagia maka Papa akan mendukungnya, " sahut Hardian dengan mata masih fokus pada tabletnya .


" Bukan seperti Cahaya Pah !!! Dia memang Cahaya , dia wanita yang selama ini Bram cintai . Waktu itu Bram menolak perjodohan karena tidak tahu jika Cahaya adalah Gista ! "


" Jadi maksudmu kau setuju menikahi putri ibumu !? "


" Mau bangetlah !! Malah kalau bisa sekarang juga Bram nikah ... "


" Apa Cahaya juga setuju untuk menikah denganmu ?? Karena pernikahan adalah menyangkut dua orang ... bukan hanya egomu saja !! " ujar Hardian yang meletakkan tabletnya untuk mulai bicara serius dengan putranya .

__ADS_1


" Dia tidak menolaknya .... " sahut Bram mantap .


" Tidak menolak bukan berarti dia setuju !! Lusa kita akan adakan makan malam keluarga agar kita bisa membicarakan hal ini . Dan Papa minta jika Cahaya belum mau menikah secepatnya denganmu maka jangan memaksanya ... "


" Tapi ... "


" Kau tidak boleh memaksanya , ingat itu !! "


Bram hanya bisa menghela nafasnya , Cahaya memang tidak pernah mengatakan setuju . Tapi Bram yakin jika Cahaya bersedia membangun hidup baru bersamanya .


Setelah sarapan Bram langsung berangkat ke kantor dengan mengendarai motornya . Sengaja dia berangkat lebih pagi karena pagi ini dia berjanji menjemput Cahaya dan mengantar ke tempat kerjanya di gedung Wijaya . Sengaja juga Bram memakai motor karena ingin merasakan kedekatannya dengan calon istrinya .


Sampai di kediaman Wijaya terlihat Lena dan Cahaya sudah berjalan ke arah mobil yang biasa mengantar mereka bekerja . Dua wanita cantik itu langsung berhenti melangkah ketika melihat Bram mendekat dengan motornya .


Pria muda itu terlihat turun dari motor sportnya dan kemudian mendekati dua wanita yang berdiri di sisi mobil .


" Selamat pagi semua ... "


" Selamat pagi Bram , apa kau ada keperluan dengan lbu ?? "


Bram melangkah mendekat dan meraih tangan Lena seperti biasanya .

__ADS_1


" Bram ingin menjemput Cahaya , jika di ijinkan mulai sekarang dia akan berangkat bersama Bram !! "


Lena tertawa kecil mendengar dan melihat sifat overprotektif yang mulai diperlihatkan oleh calon suami putrinya . Tapi karena status putrinya yang belum resmi bercerai dengan suaminya maka untuk sementara Bram dan Cahaya harus bisa menjaga jarak .


" Kau boleh mengantar atau menjemputnya , tapi tidak sekarang ! Tunggu sampai dua puluh lima hari lagi , kita doakan saja semoga saat itu proses perceraiannya dengan Gibran juga sudah dapat terselesaikan . Untuk sekarang lbu harus menjaganya agar tidak terjadi fitnah yang bisa menghambat proses perceraiannya di pengadilan ! Kau hanya perlu menunggunya sebentar lagi Bram , setelah itu kau bisa meminang putri lbu ! "


" Bram mengerti , maaf karena terlalu bersemangat menikahinya Bram jadi melupakan jika hal ini bisa mempersulit Cahaya . Ya sudah jika begitu Bram berangkat ke kantor sekarang ... "


Tapi langkah pria muda itu terhenti ketika Cahaya terdengar memanggilnya .


" Bram tunggu !! "


Cahaya tampak membawa lunch box berwarna merah muda dan menyerahkannya pada Bram .


" Pagi tadi aku dan lbu buat lontong opor , ini buat bekal makan siangmu !! Jika tidak suka jangan di buang , kau bisa memberikan pada teman atau OB di tempatmu " kata Cahaya yang disambut senyum bahagia dari pria muda di depannya .


" lni milikku , kenapa kau malah menyuruhku untuk membaginya dengan orang lain !? Tak akan ada yang bisa menyentuh apapun yang menjadi milikku. "


" lni cuma makan siang Bram ... "


" Tapi ini buatanmu ! "

__ADS_1


Lena hanya bisa geleng geleng kepala , sepertinya kelak ia harus terbiasa melihat pemandangan seperti ini . Tapi ia bahagia karena ada seorang pria yang mampu mencintai putrinya dengan tulus tanpa memandang statusnya yang sudah pernah gagal dalam menjalani pernikahan .


__ADS_2