Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
93


__ADS_3

Di rumah sakit Gibran sudah ada di ruang rawat Gisel , masih terlihat selang infus ditangan wanita cantik itu . Tak ada ekspresi apapun di wajah Gisel ketika melihat Gibran duduk di kursi yang ada di pinggir ranjangnya .


" Hai , apa kabarmu ? Sudah lebih baik ? " tanya Gibran pada wanita yang belum mau melihatnya walau ia sudah mencoba berbasa basi .


" Aku sedang tidak ingin berbasa basi denganmu Tuan Gibran . Langsung ke pokok pembicaraan saja , aku minta padamu jangan pernah dekati keluargaku apapun alasannya !! Tidak perlu menghinaku karena kau pun tidak lebih hina dari aku ... "


" Maafkan ibuku ... " sahut Gibran yang tahu ibunya sempat mempermalukan Gisel dan Nyonya Darsono dengan menyangkal perbuatan yang sudah dilakukannya pada wanita itu .


" Dari awal kau pun tahu jika aku tidak berharap kau bertanggung jawab atas janin yang aku kandung . Aku tidak akan mempermalukan diriku sendiri dengan mengemis belas kasihmu lagi ! Anak ini milikku . Jika suatu saat anak ini lahir dan sudah tumbuh besar maka aku tidak akan melarangmu jika ingin bertemu dengannya , karena dia berhak tahu siapa ayahnya ! Tapi sekali lagi aku katakan ... dia hanya akan menjadi milikku ! " ujar Gisel dengan dua tangan yang ada di perutnya karena saat ini yang mampu menjadikannya kuat adalah anak yang dia kandung .


Sebenarnya wanita itu sudah tidak mau berurusan lagi dengan Gibran tapi ia merasa harus bicara untuk memperjelas semuanya . Sakit hatinya masih terasa ketika kemarin ibu dari pria itu menghinanya habis habisan di depan rumah sakit . Sejak saat itu ia membulatkan tekad untuk benar benar menjauhi ayah dari bayinya .

__ADS_1


" Sudah !? Apa kau masih ingin bicara !? Jika iya maka aku akan mendengarnya . Tapi jika kau sudah selesai maka giliranku untuk bicara padamu . Tenang saja aku hanya akan bicara sebentar karena aku tahu kau butuh banyak istirahat ... "


Gibbran menghela nafasnya ketika Gisel masih tidak mau menanggapi kata katanya walau ia tahu wanita mendengar semuanya .


" Kau diam , jika begitu sekarang aku yang akan berbicara . Aku tahu aku bersalah karena dulu aku menolakmu , aku memang br*ngsek !! Tapi sungguh apa yang terjadi dalam hidupku benar benar terasa sangat berat bagiku . Tapi kemudian aku sadar , apa yang kau alami mungkin jauh lebih berat , mengandung seorang bayi bukan perkara yang mudah . Dan kau nyaris kehilangan anak kita karena ulahku ... ulah keluargaku ! "


" lni anakku .... tidak akan pernah menjadi anak kita Tuan Gibran !! " sahut Gisel dengan sorot yang mulai menunjukkan kebenciannya pada pria yang duduk di sebelah ranjangnya .


" Aku menyesal .... sungguh aku sangat menyesal ! Jika waktu bisa diputar maka aku akan memperbaiki sikapku padamu . Aku yang menghampirimu malam itu dan jika aku boleh jujur aku setengah sadar waktu itu ! Kadang memang terbayang wajah wanita masa laluku tapi tak bisa kupingkiri jika aku juga terpesona pada kecantikanmu ! Dan sayangnya minuman laknat itu membuat akalku terbang .... maafkan aku, " lirih Gibran dengan wajah tertunduk penuh penyesalan .


Ada rona merah di pipi Gisel ketika mendengar pria disampingnya mengatakan sempat terpesona padanya karena malam itu pun dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria tampan yang menghampirinya . Pria yang sekaligus membuatnya kecewa , Gibran Satya Bagaskara .

__ADS_1


" Aku tidak akan memaksamu jika kau memang tidak mau menerimaku di hidupmu . Tapi anak itu berhak mendapat orang tua yang lengkap ketika dia lahir nanti ... "


" Bukankah sudah aku katakan jika kau boleh menemuinya sebagai ayahnya ??? Apa kurang jelas aku mengatakan itu !?? " ketus Gisel , kini diberanikannya untuk menatap ayah dari calon bayinya .


" Maksudku orang tua yang utuh , yang terikat dalam sebuah pernikahan ... ehmmmm tapi sekali lagi aku tidak akan memaksa . Maksudku pikirkan tentang hal ini , demi kebaikan anak kita . Maksudku kebaikan anakmu .... ya dia anakmu !! "


Sebenarnya Gisel ingin tertawa ketika mendengar suara gugup Gibran . Dia tahu jika pria itu sedang menjaga agar dia tidak tersinggung . Mungkin saja ibunya atau para penjaganya sudah memperingatkan agar pria itu lebih berkati hati jika bicara dengannya .


" Kau sudah tahu keputusanku tidak dapat berubah .... "


" Aku tahu , tapi aku mohon pikirkan tentang ini lagi ! Kita bisa memulai semua dari awal .... hanya aku , kau dan anak kita . Kita bisa belajar untuk mengerti dan menghargai sama lain ! "

__ADS_1


Gisel membuang mukanya dan mengarahkan pandangannya kearah lain , hatinya mulai goyah. Tapi dia tidak akan membuat ini mudah untuk Gibran , pria itu harus tahu apa arti kata berjuang . Pria itu harus merasakan sakitnya di tolak , sama seperti ketika ia mengajak bicara pria itu untuk pertama kalinya dulu !


__ADS_2