Gelora Cinta Sang Berandal

Gelora Cinta Sang Berandal
76


__ADS_3

" Siapa yang menyuruhmu datang ke perusahaan ?? Pulang dan temani istrimu di rumah , nanti mereka pikir Papa adalah diktator yang memaksamu untuk tetap bekerja saat kau sedang menikmati masa bahagiamu . Papa berikan waktu seminggu untuk menemani istrimu , cepat berikan cucu untuk kami .... "


" Apaan sih Pah !! Bram ada jadwal penting hari ini ... " sebelum meneruskan kata katanya terdengar Hardian mendengus kesal.psda putranya .


" Sudah Papa urus semua ! Tadi mertuamu juga sempat mengirim pesan menanyakan keberadaanmu !! Ya Tuhan pasti dia berpikir aku adalah papa terburuk yang tak memahami isi hati anak anakku sendiri, " keluh Hardian yang merasa tidak enak pada besannya . Tadi dia menjawab pesan itu jika putranya memang sedang ada di perusahaan . Hardian terpaksa beralasan jika ia sendiri yang meminta putranya datang sebentar ke perusahaan untuk menandatangani berkas persetujuan pengalihan jabatan yang akan diberikan kepada para pemegang saham .


" Pah ... "


" Kau sedang ada masalah !? "


Bram hanya menghela nafasnya , bayangan Gibran yang bersandar di toilet wanita selalu saja ada di otaknya . Ada banyak pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya . Sayangnya di area toilet wanita itu tidak terdapat cctv , dan para penjaga istrinya juga tidak akan berani membuntuti istrinya jika ada di sana .


Dia ingin percaya pada istrinya , jika Cahaya memang tidak menemui siapapun di toilet itu . Tapi matanya melihat keberadaan Gibran disana , dengan senyum menjijikkan yang seolah mengatakan jika Cahaya masih menjadi miliknya ! Hal yang selalu Gibran katakan jika Cahaya masih mencintainya dan pernikahan itu hanyalah batu lompatan agar mantan istrinya bisa kembali padanya . Dua bulan tidak akan pernah mengalahkan waktu sepuluh tahun mereka ....


" Bram !!! " seru Hardian yang melihat Bram tenggelam dalam lamunannya sendiri .

__ADS_1


" Eh ... iya Pah !? "


" Dengarkan Papa , sangat wajar jika sebuah rumah tangga mempunyai masalah . Tapi kau harus ingat pernikahan adalah ikatan dua hati , dua jiwa dan dua raga menjadi satu . Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu maka hal pertama yang harus kau lakukan adalah berbicara dengan istrimu . Bahas masalahmu sampai semua menjadi jelas . Jangan pernah menyimpannya sendiri karena hal itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah ! "


" Bram paham Pah !! "


Walau sudah berucap seperti itu tapi rasanya sangat berat untuk menanyakan hal yang semalam terjadi . Jika ia bertanya pada istrinya apakah semalam mereka bertemu di toilet Bram berpikir jika Cahaya tidak akan pernah mengakuinya walau kenyataannya mungkin mereka memang bertemu .


Tapi ia akan mencobanya , ia berharap Cahaya bisa jujur padanya . Mungkin saja ini adalah trik Gibran untuk membuatnya jauh dari isterinya . Bukankah pria brengsek itu sudah sedari awal ingin mengacaukan hidupnya !


Sampai di kediaman Wijaya suasana tidak seramai kemarin , hanya terlihat beberapa maid yang sedang membereskan rumah . Beberapa pria juga terlihat masih membereskan halaman depan tempat akad mereka kemarin .


" Lhohh Bee ?? Sudah pulang ? "


Cahaya yang mengenakan apron terlihat berjalan dari arah dapur . Wanita halalnya itu meraih tangan kanannya untuk dalam takzim padanya , dan hal itu sedikit membuatnya merasa bersalah karena meninggalkan Cahaya di hotel tanpa berpamitan terlebih dahulu .

__ADS_1


" Aku kira kau sedang istirahat di kamar ... " ujar Bram setelah sekilas mencium kening istrinya , nada bicaranya yang kikuk membuat Cahaya tersenyum dan memeluk tubuh kekar suaminya .


" Masalah di kantor belum selesai ? Atau ada masalah lain yang perlu di bicarakan denganku ? Aku mencintaimu Bee ... berbagilah semua hal padaku . Tapi sebelum kau bicara kita makan siang dulu , tadi niatnya aku mau menyusul ke kantor untuk mengantar bekal, " Cahaya meraih tangan suaminya yang masih diam menuju dapur . Setelah makan baru ia akan kembali mengajak bicara suaminya .


Setelah selesai makan Cahaya membawa semua peralatan makan yang di pakai untuk di cuci . Tanpa ia sadari Bram membuntutinya di belakang , Cahaya hanya membiarkan ketika dua tangan kekar itu sudah melingkar di perutnya .


" Kangen ?? " tanya Cahaya dengan kedua tangan masih mencuci piring di kitchen sink .


" He em " jawab Bram singkat , bibirnya mulai menelusuri leher dan tengkuk istrinya hingga wanita halalnya yang sudah selesai dengan pekerjaannya membalikkan badan kemudian melingkarkan dua tangannya ke leher suaminya .


" Mau ke kamar sekarang !? "


" Kau menantangku Nyonya !? "


" Apa kau berani Tuan Bram ?! Jika malam hari mungkin kau pemenangnya , tapi siang ini kemenangan pasti ada di pihakku .... "

__ADS_1


" Dan kau harus bekerja dengan keras untuk mengalahkan aku Nyonya !! "


Cahaya sengaja ' menawarkan dirinya ' siang ini karena menurutnya apapun yang akan mereka bicarakan nanti akan lebih mudah jika mood suaminya sudah lebih baik . Dan salah satu jalan agar mood suaminya bagus adalah melayaninya dengan baik di atas ranjang .


__ADS_2