
"Abang, boleh peluk?" Pinta Yumna yang sangat ingin menangis dalam pelukan sang suami.
Guntur tidak menjawab, lebih memilih memejamkan mata daripada meladeni istrinya.
"Ara memang salah," Yumna ikut membalikkan badan memunggungi Guntur.
"Kenapa harus Ara yang mengalami ketakutan seperti ini." Gumamnya kemudian memejamkan mata sambil memegangi perutnya yang terasa sangat mengganggu. Ada yang memberontak di dalam sana.
Keesokan paginya Yumna bersiap lebih awal untuk berangkat ke kampus. Sampai pagi Guntur masih mendiamkannya.
"Abang, Ara berangkat duluan ya. Abang gak perlu antar kalau lagi sibuk," pamit Yumna pada suaminya yang sibuk dengan laptop padahal dia sudah siap sejak lima belas menit yang lalu.
"Ya," jawab Guntur dingin.
Yumna tetap tersenyum menyalami suaminya dan mengecup di pipi, "semangat kerja." Ucapnya riang untuk menutupi kepingan hatinya yang retak. Ia tidak suka dicueki dan diabaikan seperti ini.
__ADS_1
Guntur menatap dingin kepergian istrinya lalu beranjak mengikuti Yumna.
Wanita hamil itu menaiki taksi online yang sudah dipesannya. Ia tidak berangkat ke kampus melainkan ke rumah sakit. Yumna ingin berkonsultasi dengan dokter, tapi bukan di rumah sakit tempat ayah mertuanya bekerja.
Ia tidak mengerti kenapa kadang merasa siap untuk membesarkan janin dikandungannya ini. Tapi kadang ada saatnya ia sangat takut sampai ingin menggugurkannya.
Jika ditanya apakah Yumna tersiksa dengan perasaan ini? Tentu saja. Tapi tidak ada yang mengerti dirinya sekarang termasuk suaminya sendiri. Semua menyalahkannya karena menganggapnya terlalu kejam ingin menggugurkan janin yang tidak berdosa.
"Ara memang bukan istri yang baik Abang, apa selama ini Ara hanya menyusahkan saja?" Yumna bertanya-tanya dalam benaknya.
Guntur merasa bersalah atas pemikirannya yang menganggap Yumna ingin menggugurkan kandungannya. Tapi ternyata istrinya itu malah berkonsultasi untuk menghilangkan ketakutannya.
Di dalam mobil lain Geo mengepalkan tangan. Ia berjanji akan merebut wanitanya itu kembali. Geo menyelidiki semuanya dan sudah tahu kalau Yumna menikah dengan Guntur dan sedang mengandung.
Awalnya ia ingin merelakan wanitanya itu. Tapi melihat Yumna yang pergi ke rumah sakit sendirian dengan wajah terluka membuatnya sanksi untuk melepaskan Yumna begitu saja.
__ADS_1
Di kampus Yumna hanya menghabiskan waktu di kantin karena memang hari ini jam kuliahnya sore. Wanita hamil itu melamun memainkan sedotan di gelas jusnya tanpa meminumnya.
Guntur mengikuti Yumna, ingin memeluk istri kecilnya itu dan meminta maaf karena sudah mendiamkannya semalaman. Tapi kakinya terhenti saat melihat Geo lebih dulu menarik lembut tangan istrinya.
Ia terus mengikuti istrinya yang diam saja saat diajak Geo ke tempat sepi. Tangannya mengepal kuat menahan marah.
"Kalau Ara mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan." Geo memeluk wanita yang sangat dirindukannya. Bisa merasakan kalau Yumna sedang terluka.
"Geo kenapa ngikutin Ara?" Yumna refleks mendorong tubuh Geo saat tersadar.
"Aku gak bisa membiarkan wanita yang sangat aku cintai ini terluka. Kalau Ara mau, aku bisa menjadi ayah dari anak ini." Ucap Geo lembut kemudian membungkukkan badan mencium perut Yumna.
Yumna menggeleng pelan dengan air mata yang sudah mengembun, "apa kamu bisa membuktikan kalau beneran Geo?" Tanyanya lirih. Kali ini saja dia ingin mencari kebenarannya sendiri. Setelah ini biar dia pikirkan langkah selanjutnya.
Pria itu mengangguk mengajak Yumna untuk ikut dengannya.
__ADS_1
Sedang ditempatnya berdiri Guntur mendidih kepanasan melihat istrinya dipeluk dan cium pria lain. Ia ingin sekali menghajar pria itu andai tidak ada istrinya disana. Hatinya terasa terhimpit melihat apa yang baru dia saksikan di depan matanya sendiri.