Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
128. Rewel


__ADS_3

"Bunda, sekarang calon istri Arraz sudah besar. Arraz boleh punya dedek?" Ucap anak kecil itu asal, lagi-lagi menyebutkan adik sepupunya sebagai calon istri.


Ghani menyembunyikan tawa melihat sang istri yang melotot padanya. Ia pura-pura tidak mendengar menepuk-nepuk baby Bian.


"Bunda sudah sering ngasih tahu Arraz kan, Nefa itu adik Arraz bukan calon istri!!" Beritahu Khalisa dengan tegas.


"Iya Bunda," jawab Arraz sambil menundukkan kepala.


"Kha!" Tegur Ghani agar Khalisa tidak melanjutkan maklumatnya. Membawa sang putra duduk di pangkuan. "Arraz dengerin bunda ya Sayang."


"Iya Ayah."


"Arraz mau punya adek?" Tanya Ghani yang langsung diangguki sang putra. Tangannya terulur membelai pipi Khalisa yang cemberut.


"Kalau Arraz mau punya adek belajar yang rajin dulu," usir Ghani secara halus.


Dengan mata berbinar cerah Arraz mengangguk senang. Meninggalkan ayah dan bundanya masuk ke kamar untuk belajar.


"Arraz cuma anak kecil Sayang, Kha jangan marah-marah terus kalau Arraz bicara seperti itu." Nasehat Ghani setelah putranya pergi, mereka selalu bertengkar gara-gara hal sepele ini.


"Kha gak suka Abang, nanti keterusan."


"Kha kebanyakan ngehalu nih," Ghani menarik istrinya dalam pelukan. "Apa yang ada dalam pikiran Kha dan Kha jadikan tulisan. Jangan disamakan dengan kehidupan nyata kita Sayang."


"Iya Abang," Ghani tersenyum mengecup kening sang istri.


"Ini baby mau kita apakan?" goda Ghani menunjuk ke arah baby Bian yang masih terlelap dengan nyaman.


"Kita bikin nangis," Khalisa menciumi gemas pipi keponakannya namun baby boy itu tidak bangun-bangun. Hanya menggeliat sebentar lalu lanjut tidur lagi dengan bibir yang mengecap-ngecap. Ghani dan Khalisa saling pandang, lalu tertawa bersamaan.

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


"Abang," Yumna terbangun berada dalam pelukan sang suami.


"Iya Sayang," Guntur yang sejak tadi tidak tidur langsung menyahut.


"Kepala Ara pusing," keluh Yumna sambil memegangi kepalanya. "Baby mana, tadi baby gak mau ASi."


Guntur membantu Yumna yang ingin bangun, sekarang dia mengerti kenapa anak dan istrinya ini rewel.


"Baby tidur sama Kha di rumah sebelah. Ara istirahat aja dulu," Guntur merapikan rambut sang istri.


"Ara mau jemput baby, Abang."


"Biar Abang yang jemput Sayang. Ara lagi sakit," larang Guntur pada istrinya yang ingin bangkit dari tidur.


"Ara gak sakit Abang, cuma pusing. Mau jemput sendiri," keukeuh Yumna.


Baru Guntur dan Yumna sampai di undakan tangga terakhir. Ghani datang sambil menggendong baby Bian disusul Khalisa dan Arraz.


"Bian lapar baru bangun tidur," ujar Ghani. Baby boy itu tidak menangis hanya mulutnya saja yang mengecap-ngecap sambil mengemut jempol.


Namun saat Yumna mengambil alih dan menyusukannya, baby Bian langsung menangis keras. Guntur langsung membawa putranya keluar dari kamar tamu dan memberikan ASI dari dot.


"Kha tolong," Guntur memberikan putranya yang sudah berhenti menangis pada Khalisa. Dan kembali ke kamar tamu.


"Sayang, Ara lagi gak enak badan mungkin rasa ASI-nya berbeda jadi baby gak mau." Guntur menenangkan istrinya yang menangis sesenggukan. "Itu biasa Sayang, Ara jangan takut."


"Ara sakit Sayang?" Mira menyusul menantunya, memeriksa suhu tubuh Yumna, tapi tidak demam.

__ADS_1


"Cuma pusing," Guntur yang menjawab. Dia harus menyiapkan stok sabar yang banyak untuk menemani istrinya ini.


"Tolong panggilkan nanny untuk jaga baby Bian malam ini Mah." Pinta Guntur, tidak ingin membuat Yumna semakin tertekan.


"Biar aku yang jaga Bian," ujar Khalisa yang sudah berdiri di tengah pintu. "Kita menginap disini bolehkan Abang," pintanya pada Ghani.


"Iya Sayang, mandikan dulu si boy nanti dia tidur lagi." Ujar Ghani seraya mencubit gemas pipi keponakannya.


*


*


"Ara kenapa Pah?" Tanya Guntur cemas pada Papa Rizal yang baru selesai memeriksa Yumna.


"Bian sehari tidak mau menyusu langsung jadi ASI Ara penuh dan membengkak." Jelas Rizal singkat seraya menyiapkan alat pumping ASI. "Kamu temani Ara!" Perintahnya yang langsung dimengerti Guntur. Guntur membantu Yumna untuk duduk setelah Papa Rizal meninggalkan mereka.


"Iya Pah."


Guntur menarik napas panjang dan menyiapkan diri agar tidak tergoda dengan apa yang ada di hadapannya. Namun imannya sungguh tidak kuat. Pertama-tama yang dilakukannya menyasar benda yang sangat menggoda itu.


"Abang!!" Pekik Yumna tertahan karena Guntur sudah melayangkan aksinya.


"Sedikit Sayang, biar mengurangi beban Ara." Ucap Guntur asal berpindah ke squishy yang satunya agar adil. Setelahnya Guntur membantu memasangkan alat pumping dan menyiapkan plastik penampung ASI.


"Gimana rasanya?" Tanya Yumna ketus.


"Manis," jawab Guntur dengan cengiran lebar.


"Itu karena Abang mesum aja!" Yumna mencubit gemas bibir sang suami.

__ADS_1


Sedang Guntur semakin tersenyum lebar melihat istrinya yang sudah mau marah-marah. Itu artinya sebentar lagi akan cerewet dan sudah tidak sakit lagi.


__ADS_2