
"Kalau menangis membuat hatimu lebih lega, gak papa Sayang." Tutur Geo lembut, dia bisa merasakan kaosnya yang basah karena air mata Yumna. Walau gadis itu menangis tanpa suara.
"Bisakah aku memaksa Tuhan agar mentakdirkanmu hanya untukku," lirih Yumna.
"Kalau itu bisa dilakukan mungkin tidak akan ada orang yang patah hati di dunia ini dan memilih bunuh diri Sayang. Apapun yang terjadi nanti, kita pasti bisa melaluinya."
"Tapi aku gak mau berpisah darimu," sebut Yumna sendu.
"Aku juga gak mau berpisah dari kamu Sayang," ujar Geo tersenyum. "Siapa yang mau berpisah, gak adakan."
"Ayo lanjut makan, biar cepat besar dan gak dibilang orang gagal tumbuh." Canda Geo, mengalihkan perhatian sang kekasih.
"Aku gak gagal tumbuh Sayang!" Rengek Yumna manja.
"Kalau bukan gagal tumbuh apa dong," Geo terkekeh kecil mencubit hidung gadis kesayangannya.
"Mungil, imut, lucu." Sahut Yumna memuji dirinya sendiri sambil tertawa geli.
"Pedenya," Geo mengunyel gemas pipi Yumna kemudian melanjutkan menyuapi gadis itu makan.
"Kamu gak makan, dari tadi aku aja yang makan." Yumna merebut sendok di tangan Geo lalu menyuapi lelaki itu.
"Jangan sampai ada yang bilang pacarku ini miskin jadi hanya bisa makan sepiring berdua."
"Biar orang romantis Sayang. Benar ya kalau disuapi itu rasanya lebih enak. Apalagi kalau yang nyuapi manis gini, aku jadinya gak perlu minum yang mengandung gula lagi." Ucap Geo manis.
"Gombal lusuh, apa hubungannya!" Seru Yumna.
"Gak ada sih. Menyenangkan hati pacar siapa tau dapat pahala," kekeh Geo. "Selesai makan mau kemana lagi, nonton atau keliling-keliling aja."
"Kemana aja asal sama kamu, aku pasti bahagia. Apalagi kalau kepelaminan." Gadis itu mengucapkannya sambil menyengir lebar.
__ADS_1
"Masih kecil, pikirannya nikah terus. Kuliah aja belum selesai." Geo mengacak gemas rambut Yumna.
"Aaaaa, jadi berantakankan!!" Seru Yumna kesal.
"Masih tetap cantik kok, gak ada yang ngalahin pacar aku ini. Sekarang habiskan makanya, baru kita jalan-jalan," ujar Geo.
"Baiklah," ujarv Yumna semangat. Selesai makan mereka langsung meninggalkan ruang VIP itu.
Guntur yang melihat Yumna meninggalkan cafe, tidak melepaskan pandangannya. Ia memikirkan cara agar bisa mengikuti gadis itu.
"Sheryl, maaf sepertinya aku harus pulang sekarang." Ujarnya seolah mendapatkan pesan penting, "next time kita makan bareng lagi." Guntur memberikan kartu namanya pada Sheryl dan membayar bill, setelahnya dia pergi.
Guntur menyusul Yumna dan lelaki tidak dikenal itu keparkiran. Belum sempat ia mendekati gadis itu, Aga sudah lebih dulu menarik Yumna. Guntur hanya mengamati dari jauh, tidak ingin ikut campur masalah keluarga mereka lagi.
"Ara pulang!" Teriak Aga, "sejak kapan kamu berani keluyuran malam-malam?" Lelaki itu menarik tangan sang adik yang ingin masuk ke mobil Geo.
"Abang," gumam Yumna. Dia tertangkap basah lagi, padahal tadi berangkat sudah sangat hati-hati. Pasti ada pengawal yang mrngikutinya
"Jangan temui adikku lagi, Geo!!" Tekan Sagara sebelum membawa sang adik masuk ke mobilnya.
"Abang," rengek Yumna saat sudah berada dalam mobil sang kakak.
"Ara cuma ingin bahagia, menikah dengan orang yang Ara cintai. Seperti Abang menikah dengan Kak Aya." Sebut Yumna sambil menatap ke arah luar jendela, ingin menangis tapi ditahannya.
"Geo bukan orang baik Sayang, justru karena Abang ingin melihat Ara bahagia. Abang menjauhan Ara dari Geo," ucap Aga lembut.
"Geo bukan orang jahat Abang!" Kekeuh Yumna.
"Darimana Ara tau kalau Geo bukan orang jahat?" tanya Aga. Dia hanya sedang mengajak adiknya itu untuk berpikir rasional.
"Abang juga darimana tau kalau Geo orang jahat?" Yumna mengembalikan pertanyaannya.
__ADS_1
"Abang melihat sendiri Sayang, tidak asal menuduh. Abang punya buktinya kalau Ara tidak percaya." Ucap Aga yang membuat Yumna tidak menyahut lagi.
Suasana mobil hening sampai mereka tiba di rumah. Kedua orang tua Yumna sudah menunggu di depan pintu.
"Ara, Daddy gak ngerti sama maunya kamu. Daddy gak mau mengurungmu, tapi kamu tidak mau mendengarkan Daddy. Kamu ngerti gak, kalau Daddy khawatir sama kamu Sayang." Tora menarik putrinya untuk masuk, mengajaknya duduk di ruang tengah.
"Maafin Ara," ucap gadis itu sambil menunduk kemudian tidak berucap apa-apa lagi.
"Daddy tidak bisa merestui kamu dengan Geo Sayang. Geo bukan orang baik seperti yang Ara kira," jelas tora lembut.
"Stop Daddy, berhenti menjelek-jelekkan Geo. Ara tidak punya teman selama ini. Hanya Geo satu-satunya orang yang mengerti Ara tanpa merendahkan sedikitpun." Ucap Yumna dengan terisak, dia sudah lelah mendengarkan ayah dan abangnya menjelek-jelekkan sang kekasih.
"Bisakah Daddy mengerti perasaan Ara sedikit saja. Selama ini Ara kesepian, kalian hanya sibuk dengan urusan masing-masing." Sebut Yumna kemudian beranjak ke kamarnya.
Ayumi menghela napas pelan, suami dan putrinya itu sama-sama keras kepala. Dia bahkan bingung ingin mendukung yang mana.
Yumna membanting tubuh di tempat tidur setelah mengunci pintu dan menyetel musik nyaring agar tidak terganggu kalau orang tuanya memanggil. Gadis itu melakukan panggilan video pada sang kekasih.
Geo langsung menjawab, "hei mana bisa aku mendengar suaramu kalau musiknya sekeras itu." Ucap Geo dengan senyuman manis, dia tau Yumna hanya sedang butuh tempat bercerita dan di dengarkan.
"Jangan menangis, aku temani." Lanjutnya dari seberang sana.
"Daddy tetap gak mau merestui kita," gumam Yumna dengan suara lesu.
Geo tidak bisa menjawab lagi, apa yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan restu ayah pacarnya itu.
"Kamu setuju ninggalin aku?" Tanya Yumna kecewa.
"Aku akan temui Daddy-mu." Putus Geo, tidak tega melihat kekasihnya itu terus bersedih. Dia akan tetap memperjuangkan cinta mereka.
Semua karena Leo, saudara kembarnya yang menjadi anak buah Brayen dan menggunakan namanya. Jadi dia yang harus menanggung semua perbuatan kembarannya itu.
__ADS_1
"Kamu janji?" Tanya Yumna ceberut, sisa-sisa air mata masih belum kering di pipinya.
"Iya Sayang, aku janji akan menemui daddy-mu. Jangan sedih lagi," bujuk Geo. Hanya dengan kalimat seperti itu Yumna sudah bisa tersenyum kembali.