
“Om ketuaan!” Sarkas Yumna galak.
“Yang tua lebih berpengalaman, Ara mau coba.” Guntur menanggapi dengan kekehan kecil.
“Om, jangan kegenitan!!” Cetus Yumna diikuti tendangan pada tulang kering Guntur. Sudah baik hati dia tidak menendang sejata lelaki itu.
“Araaa, Daddy gak suka Ara kasar sama orang!!” Tegur Tora dengan tatapan tajam.
Sagara sampai geleng-geleng kepala, "awas nanti nyesel. Nangis lagi," ledeknya lalu kabur sebelum jadi sasaran kekesalan sang adik.
“Kalau Om gak genit Ara gak akan tendang Daddy!” Jawab Yumna berani, kemudian pergi ke kamarnya.
“Gapapa Om biarin aja. Kakinya cuma sakit sedikit, yang banyak di hati.” Ucap Guntur dengan cengiran.
"Ara memang kasar kalau ada yang mengganggunya,“ Tora mengajak Guntur kembali duduk.
"Dengar-dengar calon istrimu kemarin rujuk kembali dengan mantan suaminya?" Tanya Tora basa-basi.
"Iya Om, gak jodoh memang." Jawabnya, mungkin jodohnya ada di rumah ini. Gadis yang tadi marah-marah.
"Kamu serius dengan Ara, putriku itu sangat manja Guntur. Kamu akan selalu dibuatnya repot!!" Tora menegaskan, tau Guntur tidak suka direpotkan.
"Cinta memang bisa membutakan seseorang. Membuat korbannya menerima tanpa syarat," sahut Guntur tenang.
"Apa kamu yakin perasaan yang kamu miliki itu cinta? Aku khawatir itu hanya rasa penasaranmu saja." Tanya Tora dengan senyuman miring yang bisa melemahkan mental lawan bicaranya.
"Aku tidak tau," jawab Guntur dengan gelengan. "Aku taunya anak manja itu selalu mengganggu pikiranku."
Tora terkekeh geli ternyata singa bisa berubah jadi kucing. Pria yang dulu paling membenci kehadiran Yumna ini, kini telah tergila-gila pada putrinya.
“Susul lah ke atas,” ujar Tora memberikan izin.
Guntur mengangguk, naik ke lantai atas mencari kamar Yumna. Tidak sulit untuk menemukan kamar itu karena pintu berwarna variatif, paling beda dari yang lain.
Dengan pelan Guntur mendorong pintu kamar agar tidak menimbulkan suara. Ia mendekati gadis yang sedang duduk termenung memandangi foto Geo.
“Geo, Ara kangen. Ara kesepian gak ada Geo disini," gumam Yumna megusap-usap foto yang nampak dilayar.
__ADS_1
Guntur tidak bersuara mengelus rambut gadis itu dengan lembut.
Yumna menoleh, “Om ngapain masuk ke kamar Ara!!” Teriaknya berang, hatinya masih panas melihat wajah lelaki itu.
“Maaf,” ucap Guntur. Mana mungkin Yumna bisa bahagia bersamanya, melihatnya saja seperti ingin memangsa begini.
“Keluaaarrr!!” Usir Yumna sampai meneteskan air mata saking kesalnya. Bukannya beranjak Guntur malah memeluk gadis itu.
“Om kenapa ganggu Ara, kenapa?” Pekik Yumna memukul-mukul dada Guntur dengan sekuat tenaga.
“Kasih Om alasan kenapa Ara gak mau ngasih Om kesempatan,” ucap Guntur lembut tanpa melepaskan pelukan. Dia sangat rindu dengan gadis gagal tumbuhnya ini. Apalagi dengan bibir yang merekah itu.
“Karena Ara gak ingin melihat Om, PUAS!!” Teriak Yumna mendorong kasar tubuh Guntur sampai pelukan mereka terlepas.
“Oke aku keluar!” Guntur mengangkat kedua tangan. Yumna bisa-bisa semakin histeris kalau dia tidak pergi.
“Aaaarghhhh!!!” teriak Yumna memukul-mukul bantal.
Dia bahkan tidak memiliki alasan yang kuat menolak keberadaan Guntur. Hanya hatinya yang terlalu takut kalau Guntur mengalami nasib seperti Geo jika bersamanya.
Setelahnya Guntur mendatangi Arraz, walau hatinya belum tenang. Putra Ghani itu sedang belajar memanah bersama Sagara dan istrinya. Sudah lupa dengan keinginannya belajar menembak.
"Yeaaayy, Arraz bisa." Pekik Arraz riang setelah berhasil melepaskan anak panah dari busurnya ke sasaran yang tepat.
"Good job Boy," Sagara mengajak Arraz bertos ria.
"Om ayo main," panggil Arraz.
"Arraz aja yang main, Om nonton disini." Sahut Guntur malas, masih kepikiran Yumna yang marah-marah padanya.
"Lanjut main sama Tante, Boy." Sagara mengacak rambut anak kecil itu lalu mengecup di pipi.
Dia sangat rindu ingin memiliki buah hati. Tapi jarang mengutarakan pada Ranaya karena tidak ingin istrinya itu bersedih.
"Siap Om, Arraz akan kalahkan Tante." Ucapnya sombong, Aga dan Aya terkekeh bersama.
"Katanya gak suka yang manja, tapi kenapa galau." Goda Sagara mendekati Guntur yang pikirannya sedang berada ditempat Yumna.
__ADS_1
"Entahlah," jawab Guntur malas menatap kosong Arraz yang sedang Ranaya ajari cara menarik busur.
"Hai manis," sapa pria yang berhasil menyelinap masuk ke kediaman Tora.
Tangannya menoel pipi Ranaya. Namun belum sampai menyentuh, tangan itu sudah kena tangkis.
"Woow, selain cantik ternyata kamu juga tangkas seperti adik iparmu." Puji Brayen, mengedipkan mata pada tiga orang anak buahnya yang ada disana.
"Brayen!!" Gumam Guntur dengan mata terbelalak, bagaimana pria itu bisa lolos dan masuk ke rumah ini.
"Aya mundur!!" Perintah Sagara pada istrinya. Ia bergegas mendekati sang istri disusul Guntur.
"Jangan pegang-pegang Tante, Arraz panah!!" Ujar Arraz mengarahkan busurnya pada Brayen.
"Kamu anak siapa ganteng?" Brayen mendekati Arraz dengan senyuman licik. Namun Guntur sudah lebih dulu mengangkat keponakannya itu menjauh.
"Kau juga ada disini rupanya!" Sapa Brayen pada Guntur.
"Jangan basa-basi Brayen, katakan apa maumu datang kesini!!" Cetus Sagara.
"Serahkan adikmu padaku," Brayen menatap tajam Aga.
Suami Ranaya itu menanggapi dengan senyuman tipis. "MIMPI," gumamnya.
Sagara membawa Ranaya ke belakangnya. Ia menyingkap jas, sang istri sudah paham mengambil satu pistol dari sana.
"Masuk ke kamar Sayang, aku gak mau kamu semakin susah untuk hamil karena terlalu sering ikut aku bermain-main." Sagara menoleh pada sang istri lalu memberikan kecupan di pipi.
Ranaya yang terlihat sangat lembut itu mengangguk.
"Bawa Arraz masuk Guntur!!" Titah Aga.
Guntur menurut saja, dia sedang tidak membawa senjata apapun. Ditambah Arraz sedang bersamanya.
"Tidak semudah itu brother!!" Brayen memerintahkan tiga orang itu untuk menyerang Ranaya dan Guntur.
Sedang Leo masuk lewat pintu utama membuat keributan disana. Brayen sudah merencanakan penyerangan ini dengan sangat matang. Dia harus bisa melumpuhkan Tora.
__ADS_1