Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
42. Ketiduran


__ADS_3

Yumna tidak pulang ke rumah setelah keluar dari gedung Emeral Corp. Ia berjalan kaki kembali ke pemakaman Geo. Tasnya tertinggal di dalam mobil Guntur, jadi tidak ada uang untuk naik taksi.


Gadis itu berjalan pelan di bawah teriknya sinar matahari. Kalau menggunakan mobil dari Emeral Corp ke pemakaman tidak sampai menghabiskan waktu setengah jam. Tapi karena dia berjalan kaki jadilah satu jam lebih Yumna berjalan berjalan.


Karena kelelahan, ia menelungkupkan wajah di gundukan tanah pemakaman Geo sampai tertidur. Sudah beberapa kali dia tertidur sambil memeluk makam Geo seperti ini. Gadis itu menjulurkan kakinya yang pegal.


“Bun ada orang pingsan!!” Beritahu seorang pria pada bundanya. Mereka baru selesai menziarahi makam sang ayah.


Perempuan paruh baya itu bergegas mendekati putranya dan berjongkok mengamati gadis yang terlelap di atas gundukan tanah.


“Dia tidur bukan pingsan,” ujar sang ibu.


“Nak bangun,” perempuan itu menepuk punggung Yumna berulang kali. Tapi gadis yang tetidur pulas itu tidak bangun-bangun.


“Ammar bantu angkat ke mobil Nak, kasihan kalau tidur di sini. Bisa sakit kepanasan,” ucap perempuan bernama Farah itu pada putranya.


Sang anak menurut saja membawa Yumna yang masih tertidur ke mobil dengan menggendongnya. Diangkat pun gadis itu tidak terusik, benar-benar tidur mati.


“Kita antar ke mana Bun?” ujar Ammar setelah membaringkan gadis itu di kursi penumpang belakang.


“Bawa pulang dulu, nanti kita antar kalau dia sudah bangun," usul Farah.


"Kalau kita dituduh penculik sama keluarganya nanti gimana?"


"Gak ada penculik yang mau mengantar korbannya pulang, Ammar!" Cetus perempuan paruh baya itu pada sang putra. Anak lelakinya hanya tersenyum cengengesan.


...⚘⚘⚘ ...


Yumna mengerjapkan mata perlahan lalu membukanya dengan sempurna. Dia sekarang tidak berada di pemakaman Geo lagi. Tapi di sebuah ranjang empuk. Hari sudah sore, berarti dia ketiduran berjam-jam di rumah ini.


Dengan perlahan Yumna menurunkan kakinya yang sekarang baru terasa sakit. Kepalanya juga berat karena terlalu lama berjemur. Ia berjalan pelan keluar kamar, rumah itu sepi. Bangunannya tidak terlalu besar tapi segala perabotan tertata rapi.


“Sudah bangun Nak,” sapa Farah yang sedang duduk di depan televisi bersama putranya.


Gadis itu menganggukkan kepala, “Ara ada dimana?” tanyanya.


“Kamu ada di rumah Bunda. Tadi Bunda bawa kamu pulang karena ketiduran di makam,” tutur Farah lembut.


"Kaki kamu kenapa?" Tanya Farah saat menyadari gadis di depannya ini berjalan pincang.


"Cuma pegal, tadi Ara jalan kaki ke makam." Jawabnya lalu duduk di sofa menyelonjorkan kaki sambil memijat lututnya.

__ADS_1


"Kamu pasti belum makan siang, Bunda ambilkan dulu ya." Ujar perempuan paruh baya itu, tanpa persetujuan Yumna sudah melenggang ke dapur.


"Abang, boleh pinjam hpnya mau telpon Daddy." Ujar Yumna tanpa sungkan pada lelaki yang sedang memainkan ponsel di tangannya.


"Pakailah," Ammar memberikan ponselnya pada Yumna. Gadis itu langsung menghubungi Tora tapi tidak bisa tersambung, sekarang pasti daddy-nya itu sedang menjemputnya ke toko.


"Daddy gak bisa dihubungi," gumamnya sambil mengembalikan ponsel.


"Nama Abang siapa?" Tanya Yumna.


"Ammar," jawab lelaki itu singkat.


"Ara," Yumna mengulurkan tangannya lebih dulu. "Minara Yumna," lanjutnya. Ammar menyambut tangan gadis itu dengan tersenyum kecil.


"Kamu makan dulu ya, nanti kami antar pulang.” Ujar Farah yang datang dari arah dapur membawakan makananan dan segelas air putih.


"Ara merepotkan kalian. Tapi perutnya lapar, jadi gak bisa nolak." Ucapnya yang membuat Farah dan Ammar tersenyum geli.


"Jangan sungkan makanlah, kalau kurang tinggal nambah." Farah terkekeh kecil, dia senang gadis itu tidak pemalu.


Yumna menurut karena perutnya memang sangat lapar. Cacing-cacing sudah berdendang ria di dalam sana.


“Kenapa sampai tidur di makam?” tanya Farah lembut.


Farah mengangguk saja tidak ingin banyak bertanya, khawatir membuat gadis itu tidak nyaman.


...⚘⚘⚘ ...


“Ara ada disini?” tanya Tora yang mendatangi kediaman Emran. Tadi dia sudah menjemput Yumna di toko, tapi kata karyawan disana putrinya sudah pergi sejak pagi bersama Guntur.


“Jadi Ara belum pulang ke rumah?” Guntur bertanya balik. Pasti Yumna kembali ke makam Geo, kenapa dia tidak menahannya tadi siang. Jadi seharian gadis itu panas-panasan disana.


"Kamu tau Ara kemana?" Emran menyelidik. Dia tau putranya satu ini tidak suka pada Yumna, pasti karena ulah Guntur gadis itu kabur.


"Tadi Ara sama Guntur Pah, dia mau ikut ke kantor setelah dari makam Geo. Terus merajuk, katanya mau pulang." Jelas Guntur sambil meringis di tatap Emran dengan tajam.


"Kalau gak bisa jaga anak orang jangan dibawa-bawa!!" Sarkas Mira menjewer telinga putranya.


"Mah sakit, Guntur gak ngajak. Dia yang merajuk gak mau diantar pulang." Pria itu melepaskan tangan sang mama dari telinganya yang pasti sobek kalau buatan cina.


Cukup jadi rahasianya saja kenapa Yumna sampai merajuk. Dia tidak sadar lagi membentak gadis itu setelah mencuri ciumannya. Pasti Yumna sakit hati padanya.

__ADS_1


"Guntur cari dulu," ujarnya sebelum dimarahi lagi. Selalu saja dia yang jadi sasaran kemarahan orang-orang di rumah ini.


Lelaki itu mengambil kunci mobil meninggalkan sang mama yang masih melotot padanya. Tora dan Emran mengikuti.


"Tasnya disini," gumam Guntur baru sadar barang-barang Yumna ada di mobilnya.


Lalu Yumna naik apa kalau tidak membawa uang. Guntur menyalakan mesin, menjalankannya dengan cepat menuju pemakaman. Anak itu bisa kelaparan seharian.


Sesampainya di sana gadis yang Guntur cari tidak ada. Sedang hari sudah mulai gelap.


“Ara gak ada, tasnya ada di mobilku,” ucap Guntur lemas pada dua orang pria yang baru tiba menyusulnya.


Pantas saja Tora berulang kali menghubungi putrinya tidak ada jawaban.


"Biar Aga melacak keberadaan Ara dulu," ujar Tora yang masih terlihat santai. Saat ingin menelpon putranya pria paruh baya itu melihat beberapa panggilan masuk dari nomor tidak di kenal. Ia melakukan panggilan balik, khawatir itu dari penculik yang minta uang tebusan untuk Yumna.


"Daddy!!" Pekik Yumna dari seberang telepon dengan suara ceria setelah panggilan itu tersambung.


"Sayang kamu gapapa?" Tanya Tora, didengar dari suara putrinya itu pasti baik-baik saja.


"Ara gapapa Daddy, tadi Ara ketiduran di makam Geo lagi. Terus ada yang bawa Ara pulang. Sekarang Daddy jemput Ara ya, kaki Ara pegal." Ucapnya dengan sangat manja.


"Ya, Daddy jemput Ara sekarang. Tapi Daddy jemput kemana Sayang?"


"Ara gak tau, sebentar Ara tanya abang dulu."


"Abang?" Tora mengernyitkan kening. Siapa orang yang dipanggil putrinya itu abang.


"Iya Daddy, abang dan bunda yang nolongin Ara." Jelas Yumna singkat.


"Iya-iya. Ara kirim alamatnya sekarang Daddy segera kesana," ujar Tora.


"Yes Daddy, Ara matiin telponnya duu ya."


"Iya Sayang," jawab Tora dengan geleng-geleng kepala.


"Ara ketiduran di makam lagi tadi siang, terus ada yang membawanya pulang." Beritahunya pada Emran dan Guntur.


Guntur membelalakkan mata, kenapa itu anak sangat ceroboh. Bagaimana kalau sampai Leo yang menemukannya.


...🐾🐾🐾 ...

__ADS_1


Biar Guntur sadar othor kasih babang baru aja buat Ara. Nungguin Guntur sadar bisa karatan Ara, mending sama yang pasti-pasti aja. Makanya jangan sok jual mahal Guntur. Ingat, othor ada dipihak Ara🤣.


__ADS_2